Monokultural


Negaraku Monokultural?

Wajah Indonesia terkenal ramah di luar sana. warga Indonesia terkenal heterogen. Tapi dalam sekejap mata, kata heterogen itu seperti hilang dari lingkup kosa kata.  Seperti berubah menjadi homogen.

Indonesia sekarang ini dalam kedaan yang tidak baik. Banyak isu, sara, rasis, krisis rasa saling percaya, krisis rasa peduli terhadap orang lain. Apa iya, nantinya akan krisis terhadap rasa keadailan? Apa rasa keadilan memang semakin terkikis?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjurus pada satu tokoh, etnis atau pun ras. Saya hanya pengamat, di mana pasti banyak salahnya. Saya sengaja menaruh tulisan ini di atas, agar teman-teman pembaca tidak salah paham.

Sudah lama saya tidak menulis, dan itu membuat saya ragu untuk membuat tulisan ini. Tulisan yang cukup membuat saya takut untuk memberikan opini saya. Tapi saya paksakan untuk menulisnya dan membagi dari pada hanya dipendam sendiri.

Saya tahu setiap orang berhak untuk berpendapat, dan itu di jamin dalam undang-undang. Sekarang ini banyak sekali netizen yang berpendapat (entah dengan kata-kata sopan atau kasar)  dengan dalih hak tersebut. Tapi, saat berpendapat, alangkah baiknya jika apa yang keluar dari mulut kita adalah kata-kata yang berbudi? Banyak dari mereka yang ternyata masih menyisipkan kata tak bermoral yang diucapkan (dituliskan) secara terangan-terangan, dengan ringan hati.

Hal ini, berpendapat di muka umum, yang menjadi salah satu sorotan yang paling terasa sekarang, tentunya dari kasus Gurbernur DKI. Siapa yang tidak tahu? Bahkan orang-orang dilingkungan saya yang notabenenya buta politik, yang hanya memakan bangku SD, yang tidak bersekolah, mereka menjadikan hal ini seperti obrolan harian. Saya  hanya mendengar berbagai opini mereka dari yang pro hingga kontra.

Jika ditilik lebih lanjut, ini berawal dari pelaksanaan PILKADA, seperti yang saya kutip dari salah satu program MetroTv, Mata Najwa saat mendatangkan perwakilan timses masing-masing cagub. Hingga hari ini, usai PILKADA putaran ke dua, persoalan ini asih mengahangat seperti terus dipanaskan di atas tungku.

Sebenarnya saya bingung saya mau mengomentari dari mana, karena ini terlalu kompleks (menurut saya).

Jadi pertama, begini, terlepas dari background di pihak mana saya berdiri, Ahok (saya sengaja menyebutnya secara jelas agar tidak ada yang ditutup-tutupi) memang selalu berkata blak-blakan, terang-terangan. Mungkin yang pertama kali terlintas tentang tokoh ini adalah mulut pedas. Saya menggambarkannya seperti karena setiap kata yang dilontarkannya terkesan tajam, apa yang dikatakannya langsung menjurus, tanpa basa-basi, langsung bilang kamu salah. Dari kesalahan seperti ini, beliau seperti terjatuh pada lubang yang digalinya sendiri. Intinya, kasus penodaan agama yang dituduhkan padanya, itu adalah hasil dari apa yang dikatakannya meski tidak ada maksud untuk hal tersebut.

Beberapa hari sebelum UTS dua minggu ini, ada kuliah tamu dari salah satu profesor PTN terkemuka di kampus saya, tepatnya di prodi saya. Sedikit beliau menyinggung terkait kasus Ahok ini. Sebenarnya apa yang dikatakan Ahok itu tidak unsur apa-apanya (saat di tanyai pendapat tentang apa maksud ucapan Ahok). Sayangnya, profesor ini tidak menjelaskan lebih lanjut mengapa, apa, dan bagaimana. Kan begini, dalam berbahasa itu makna tuturan seseorang itu akan bermakna apa adanya jika di kaji melalui ilmu semantis, tapi makna lain dari tuturan yang terikat konteks itu akan berbeda dengan makna apa adanya jika dikaji dari segi ilmu pragmatik. Fyi.

Yang kedua, saat PILKADA DKI semakin memanas bagaikan PILPRES.

Dibarengi dengan adanya statement Ahok tadi, muncul oknum-oknum yang tidak terima dan menggalakkan aksi besar-besaran dengan dalih pembelaan terhadap Islam. Saya adalah seorang muslim, tidak menyangka akan ada aksi seperti itu hingga berkelanjutan. Pertamanya saya acuh tak acuh. Tapi semakin lama ternyata semakin runyam saja. Banyak isu politik yang membarenginya. Banyak yang menjatuhkan Ahok di PILKADA karena kasus ini. Bahkan di kampus, persoalan ini tidak hanya menjadi angin lalu. Banyak waktu itu aksi-aksi di forum-forum kecil yang menjadikan persoalan ini sebagai topik hangatnya. Bahkan masalah ini dibahas dalam satu mata kuliah yang saya ambil, Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Agama yang dipolitisasi atau apalah itu. Sayangnya hanya disinggung sedikit. Seharusnya yang hanya menjadi masalah agama, kenapa justru diberi bumbu politik. Tidak heran karena masa itu adalah masa kampanye, di mana momentum itu dimanfaatkan untuk dijadikan nilai minus Ahok dalam masyarakat.

Berhubung ini PILKADA DKI sudah usai, toh tidak salah jika saya melihat kebelakang. Berjalan mundur untuk menengok apa saja yang sudah terjadi. ASBAK. Asal bukan Ahok. Ini yang tercetus dalam masa-masa kampanye itu. Nomor urut 1 ataupun 3, bukankah mereka lebih memojokkan nomor 2? Merasa seperti itu? Saya merasa seperti itu. Disamping program yang di gadang-gadang ke sana kemari, bukankah mereka selalu berkata menyindir nomor 2?  Pemimpin yang merangkul warganya, pemimpin yang tidak asal pecat, pemimpin yang tidak menindas bawahannya, dan banyak lagi. Jika di lihat dari karakter Ahok, memang yang tidak mau bekerja dengannya akan ditendang. Seperti perang kata, saya hanya menyaksikan debat yang lalu-lalu dengan tertawa.

PIKADA DKI ternyata ada dua putaran bukan? Karena dua putaran ini, saya mendengar paslon 3 waktu itu berstatement seperi ini; Jakarta menginginkan pemimpin baru, dengan segala embel-embel di depan dan belakangnya.

Saya merasa kasihan saat mendengar kata-kata seperti itu. entah, mungkin karena ASBAK tadi? asbak … oh asbak… padahal hanya tempat putung rokok, tetapi di sulap menjadi akronim yang bergengsi.

Itu hanya segelintir saat PILKADA putaran satu.

Yang ketiga, pasca PILKADA putaran kedua.

Sudah lihat hasil quick count yang tersebar di mana-mana? Sudah lihat cuitan para netter? Sudah melihat segala bentuk cacian dari pendukung nomor urut 2 dan 3? Atau harus saya ralat, antara pendukung Ahok dengan asal bukan Ahok?

Jujur, sebenarnya saya bukan warga DKI, bukan penduduk sana, ke sana saja tidak pernah, tapi berawal dari PILKADA ini, kasus yang di klaim penodaan agama ini, sudah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia. Televisi swasta menyiarkannya di mana-mana, di berbagai media massa, media sosial, kedua hal ini menjadi sorotan warga, bahkan internasional.

Saya bertanya-tanya, apakah alurnya seperti ini;

  1. Ahok menyinggung sebuah ayat dalam Al-qur’an
  2. Ada yang tidak terima
  3. Mumpung dalam masa PILKADA, politisasi.
  4. Muncul ASBAK
  5. Panaskan suasana
  6. Ahok kalah

Peta konsep sederhana yang terbayang di pikiran saya. Miris juga saat agama dicampurkan dengan politik.

Hal ini merambat ke sara, bukan? Lihat segelintir perkataan sarkasme ini.

Itu komentar-komentar dari orang-orang dari kedua belah pihak (pendukung). Mana katanya yang Indonesia orang ramah? Mana yang katanya negara multikultur? Bahkan masih saja ada orang-orang yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam (memang ada beberapa komentar yang secara jelas mereka menginginkan hal itu). Mana wujud tenggang rasa yang selalu di ajarkan sejak saya masih SD? Saya tidak merasakan hal itu.

Dulu, pengalaman kuliah saya mengambil mata kuliah multikulturalisme, Indonesia itu tidak sepenuhnya memiliki toleransi beragama ataupun bermasyarakat. Memang ada kelompok yang menghargai variasi masyarakat ini, tapi ada juga yang tidak. Bahkan mungkin segilintir orang yang menyatakan dirinya memahami multikultur, memahami kebhinekaan, pasti dia akan merasa aneh saat melihat gerombolan kulit hitam yang tinggal di Pulau Jawa.

Masih banyak orang yang memetak-metakkan orang Cina, orang Jawa, orang Indonesia Timur, orang Islam, orang Kristen, orang Katolik, dsb.

Kenapa? Tidak sepenuhnya masing-masing orang Indonesia mau menyamakan kedudukannya dengan orang  dari etnis lain, orang dari agama lain.

Sedih nggak sih, melihat Indonesia yang di gadang-gadang negara heterogen, negara multikultur, negara yang penduduknya ramah, bisa hidup berdampingan, tapi ternyata masih menyimpan banyak hal-hal yang berbau SARA.

Jadi, begini, kasus penodaan agama ini, menyedot perhatian warga, terutama muslim, hingga menciptakan aksi-aksi yang dinamai dengan tanggal yang saya tahu mereka menuntut keadilan karena merasa agamanya telah dilecehkan.

Sekarang, berjalan mundur ke tahun 2015 lalu, di mana ada pembakaran gereja di Aceh Singkil. Saat itu juga ada isu yang mengatakan di sebabkan karena adanya isu politik juga. Sama seperti belakangan ini. Saya pernah mendengar, jika jumlah gereja di Aceh itu di batasi. Entah benar atau tidak, bukankah ini sudah menunjukkan jika mereka juga sudah menodai agama lain?

Yang mau saya hubungkan, penodaan agama oleh Ahok ini terjadinya di Jakarta, tapi di konsumsi masyarakat luas, bahkan umat Muslim seluruh Indonesia mencercanya. Dan Ini, konflik agama di Aceh Singkil tahun 2015 lalu (bahkan dari jauh-jauh waktu), yang dilakukan  warga Muslim di Aceh, bukankah juga sudah keterlaluan? Sama saja seperti ini, disaat Muslim di jaman yang sekarang sibuk mencerca Ahok, tapi dulu mereka yang membakar gereja seperti tidak merasa bersalah. Diibaratkan, satu semut menggigit, satu sarang yang dibakar.

Maksud saya, pada saat itu warga Muslim yang bersalah, tapi sekarang mereka seperti tanpa berkaca mencerca orang lain. Bahkan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan dengan ringan hati. Seperti merasa paling benar. *maaf.

Saya berbicara di atas berdasarkan analogi, yang nilai yang baik di pertahankan, nilai yang buruk dibuang, seperti dalam globalisasi. Saya bukan orang yang pandai dalam beragama, tetapi saya masih memiliki iman, saya percaya Tuhan. Saya tidak tahu, apakah dosa atau tidak memiliki pemimpin non-islam, terkait negara ini mayoritas penduduknya Islam. Jika memang tidak boleh memiliki pemimpin non-islam, seharusnya jangan berkoar-koar seperti mengintimidasi kaum minoritas (seperti agama non-islam) dengan kata-kata yang keterlaluan.

Yang saya pelajari sejak saya sekolah hingga sekarang, Indonesia itu negara multikultur, kita punya dasar negara Pancasila, dengan sila-silanya yang menjadi pijakannya. Semboyan Bhineka Tunggal Ika, saya rasa sudah mencerminkan jika Indonesia itu menghargai perbedaan, menganut paham multikulturalisme, di mana masyarakatnya itu menyadari keberagaman, kemulti-etnis-an di Indonesia. Tetapi kenapa masih saja terus di gadang-gadang, pemimpin saya harus orang  Jawa, orang etnis Tionghoa gak boleh memiliki kedudukan di pemerintahan, dan bla bla bla …

Yang orang Kalimantan Bilang A, orang Sumatera bilang B, orang Papua bilang C, orang Bali bilang D, orang Jawa Bilang E, dan lain-lain.

Lalu kapan orang Indonesia akan bersuara?

 

Malang, 20 April 2017.

Advertisements

6 thoughts on “Monokultural

  1. Aku beberapa hari terakhir ini (khususnya karena melihat mirisnya apa yang terjadi dengan pendukung kedua belah pihak di PILKADA DKI, sih), terpikir untuk menulis tentang hal ini sih. Hmm… Sedari dulu, Indonesia udah terpecah banget nggak sih? Apa-apalah agama, apa-palah ras, apa-apalah penyuka dan nggak penyuka bau duren. Yaah, gitu-gitu lah

    1. Iya kak. Udah dari dulu banget. Apalagi konflik agama. Tapi dulu engga sepanas konflik sekarang. Padahal dulu lebih parah, ada yg sampai bakar2 gitu. Sekarang cuma gara2 satu ucapan, rasanya gegernya itu ‘wow’banget T.T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s