Distance (Story)


DISTANCE

DISC. THIS STORY IS MINE. ALL OF CHARACTER(S) IS (ARE) FICTION.

WARN! SEKELEBAT LEWAT LANGSUNG TULIS.

*furin: lonceng angin. sejenis lonceng yang terbuat dari kaca (kalau gak salah sih kaca, soalnya bening :v), pertama liat di kamar Nobitanya Doraemon. More info cek google m(-_-)m

*oniichan: panggilan untuk kakak laki-laki.

 

 

Cukup. Dia sudah tidak ingin menyamakan langkah kakinya lagi. Menyamakan dengan seseorang yang selalu berada di sampingnya selama ini. Seseorang selalu menyambut setiap isakanhalusnya dengan sebuah pelukan hangat. Dengan sebuah kata-kata yang menenangkan.‘ Semua akan baik-baik saja. Aku ada di sini.’

Dia hanya bisa memandang sosok yang kini semakin jauh dengannya.Terpaut beberapa langkah kaki darinya. Membiarkan sosok itu terus melangkah, dan dia menahan langkahnya sendiri untuk memberikan jarak diantara mereka. Hanya memandang sosok yang tetap berjalan lurus itu.

Sosok itu. Lelaki yang berbadan tegap. Jaket cokelat tebal menutupi bahu lebar itu, melindungi tubuhnya dari udara sore hari di musim gugur. Siluet sosok yang sibuk dengan earphone putih di telinganya semakin jelas saat cahaya matahari sore menerpanya di persimpangan jalur kereta api. Bahkan suara dentingan furin dari rumah di sekitar mereka berada, tak terdengar oleh sosok itu. Sebaliknya, suara furin, yang biasanya banyak ditemui di musim panas itu, di sore musim gugur ini, mengusik sosok lain yang berjalan melambat di belakang sosok pria itu. Sosok perempuan yang berusia empattahun lebih muda dari si pria. Rambut panjangnya yang lurus itu tersapu angin sore. Tanpa sadar dia mengeratkan kepalan tangannya yang berada di balik saku coat putihnya. Bukan kepalan marah atau dendam. Akan tetapi, putus asa. Begitu juga dengan sorot matanya, seperti menghitung setiap langkah yang dilaluinya bersama sosok pria tadi, bibirnya yang pucat menggumamkan sesuatu.

‘Aku mencintainya. Aku tidak mencintainya.’ gumamnya berulangkali dengan diiringi desah angin dan suara furin yang masih bersautan.

Sosok pria yang tadinya berjalan di depan si perempuan itu, kini berhenti dan berbalik memperhatikan sosok si perempuan dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Meskipun pria itu membelakangi cahaya matahari sore ini, tak dipungkiri jika perempuan itu bisa dengan jelas melihat senyum itu. Senyum yang sempurna untuk menghapus semua ingatan masamnya hari ini. Lesung yang terpatri di wajah tegas itu, seperti menghapuskan beban yang singgah di bahu sempitnya. Rambutnya yang halus dan tidak terlalu panjang itu melambai-lambai tersapu angin. Tangan kirinya yang memegang kantong plastik putih berlabel nama sebuah toko itu, tampak pas jika menautkan jemarinya pada tangan si perempuan. Tangan kanannya yang menggenggam ponsel itu, akan selalu menenangkan hati si perempuan kala mengelus halus surai rambutnya, entah saat memuji atau hanya sekedar menenangkan hati rapuhnya.

Palang perlintasan kereta itu ternyata tertutup. Menandakan kereta akan melewati jalur 24 ini. Meskipun ini hanya daerah kecil di seberang kota Tokyo, tapi kereta tetaplah transportasi utama yang praktis, yang dibutuhkan setiap orang untuk berakomodasi. Jika diumpamakan, sosok pria ini seperi kereta itu juga, dia merupakan sosok yang selalu dibutuhkan oleh si perempuan ini. Dia membutuhkannya saat sedih, saat bahagia, seperti apapun kondisinya, perempuan ini sangat membutuhkan sosok pria itu.Dia bergantung padanya.Tanpa sadar jika semakin lama, rasa butuhnya, rasa bergantungnya, berubah menjadi sesuatu yang lebih besar tanpa dia bisa menahannya.Dia tidak masalah dengan semua itu, hanya saja dia merasa khawatir,merasa takut. Karena sosok pria yang berumur 25 tahun ini adalah….

“Yuu, kenapa kau berjalan jauh sekali?Kau lelah?” sebuah kalimat pendek ini membuyarkan lamunan perempuan yang terdiam itu.

“Ah, tidak. Aku hanya….”

“Musim dingin sudah semakin dekat. Kau merasakan dinginnya sore ini bukan? Lebih baik kita bergegas.”

“A-ah, ya.”

Perempuan itu, Yuu -Morikawa Yuki-, memaksakan kakinya untuk mendekat pada pria yang tadi memanggilnya. Aroma mint segera menguar ke indera penciumannya saat dirinya berdiri berdampingan. Aroma ini, Yuki tidak akan bisa terlepas dari aroma maskulin pria ini. Semakin dia mencium aroma itu, semakin kacau hatinya. Tangan kanan si pria yang dari tadi sibuk dengan ponsel, kini beralih merangkul Yuki yang tingginya hanya sampai telinganya saja. Earphone putih yang tadinya hanya bergantung di kedua telinga si pria, kini salah satunya sudah berpindah di telinga Yuki. Membagi sesuatu yang sedang di dengar oleh pria tadi pada perempuan ini. Tanpa diperintah dua kali, hati Yuki berdebum dengan keras. Seperti berlarian mengitari kota Tokyo yang begitu luas. Yuki tidak bisa menahan suara detak jantungnya.Dia hanya berharap jika suara itu tidak terdengar oleh sosok yang ada di sampingnya. Dia hanya bisa mengeratkan tangannya pada tali tasselempang yang tersampir di tubuhnya.

“Kau tahu, bukan? Apa yang aku benci?”

“Jarak, dan perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal.”

“Ah, kau mengingatnya. Terima kasih sudah mengingatnya. Dan kau, tidak boleh menciptakan jarak denganku, walaupun satu inch. Aku… Aku… Tidak ingin…”

“Aku tahu. Aku mengerti. Aku hanya merasa jika sepatu baru ini terlalu bagus untukku. Yappari, aku lebih baik bersama sneakers tua itu. Kakiku pegal jika terus menggunakan sepatu berhak ini. Lihat, ujungnya yang runcing membuatku seperti jin yang berasal dari Negeri Dongeng. Ahhh, aku tau seharusnya aku tidak mengikuti kata Ai.” Yuki memotong pembicaraan pria itu. Seolah-olah Yuki tahu apa yang akan dikatakan, kemana pembicaraan ini akan berarah. Dia berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar jika dia gugup. Dia berusaha menjadi dirinya yang berisik, banyak bicara. Dirinya yang selalu diperlihatkan pada orang-orang disekitarnya. Akan tetapi, di sisi lain, dia bukanlah orang seperti itu. Hanya pria ini yang mampu mendalami dirinya.

“Tapi, kau terlihat berbeda dengan tampilan seperti ini. Lihat, rambutmu ternyata sangat panjang. Bahkan aku tidak menyadari karena kau selalu menguncir rambutmu. Ah, kau bukan lagi Yuu-chan kecil yang aku kenal dulu. Kau sudah dewasa ternyata.” Tangan pria itu yang tadinya tersampir di bahu Yuki, kini menepuk-nepuk pelan kepalanya, mengacak poni tipis yang terjuntai lurus di pelipisnya. Suara tawanya teredam oleh suara kereta yang lewat di depan mereka. Menghalangi cahaya matahari untuk menyentuh dua insan yang sedang saling bercengkrama ini.

“Haru! Berhenti menertawakanku! Oi, Kau merusak rambutku!” yang lebih pendek, melepaskan dirinya dari belenggu pria yang sedang menggodanya, Haru. Berlari dengan susah payah meninggalkan pria itu di belakangnya saat palang kereta sudah terbuka. Meneriaki pria itu yang kini semakin terbahak melihat tingkahnya yang sedang melepas paksa sepatu –yang menurut Yuki seperti sepatu jin itu.

“Kau menyebalkan, Haru!” sambil berteriak, dia berlari melewati tanjakan dan menuju ke sebuah rumah.

“Harusnya kau memanggilku Oniichan! Kau tidak boleh memanggilku Haru! Oi, Yuu! Hoi! Gadis pendek! Ne-! Aku ini kakakmu!” Haru, pria itu, yang menyebut dirinya kakak Yuki, dia berlari mengejar perempuan itu dengan napas yang putus-putus karena berlari di sebuah tanjakan.

‘Aku tidak ingin berpisah dengannya. Aku tidak ingin tercipta jarak diantara kami. Aku tidak ingin dia membenciku. Aku tidak boleh membiarkan rasa ini semakin menjadi.’’ Yuki hanya bisa terus berlari. Membiarkan kakinya bersentuhan secara langsung dengan kasarnya aspal. Tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang memandangnya aneh –berlari di tanjakan dengan menenteng sepatu.

Yuki hanya khawatir, dia takut, pria ini, Haru, pada kenyataannya adalah seseorang yang seharusnya dipanggilnya kakak. Seseorang yang pada kenyataannya adalah bagian dari keluarganya.

DISTANCE

Ketika sebuah kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kau tahu betapa sakitnya ketika kau dikhianati oleh kenyataan? Kau harus menerima kenyataan itu bagaimana pun bentuknya. Bukankah begitu? Apa yang bisa dilakukan untuk mengubah kenyataan itu? Seberapa kali pun kau ingin mengubah, seberapa besar kau menyesalinya, bisakah kau mengubahnya? Haruskah aku berterima kasih pada takdir yang mempertemukan? Haruskah aku menyalahkannya? Jika aku terlahir kembali, aku tidak ingin menjadi siapa-siapa. Mengapa kita terikat dalam hubungan keluarga? Mengapa aku sangat bergantung pada dirimu? Terkadang aku berterima kasih pada takdir, karena aku bisa bertemu denganmu. Akan tetapi, aku merasa tidak beruntung dalam keadaan seperti ini. Meskipun, terikat dalam hubungan keluarga, bukankah tak apa jika aku mencintaimu? Seperti aku mencintai Ayah, Ibu, saudara-saudara ku lainnya.Ne~, tapi ternyata rasa ini berbeda. Bukankah begitu? Pada kenyataannya, egoku yang menguasai, membiarkan aku mencintai dirimu.

Kita tak berjarak. Hembusan napas itu, aku bisa mendengarnya. Aku tidak ingin sebuah alasan klasik untuk menjauh darimu. Meskipun kisah ini belum berakhir, dan belum kutahu bagaimana akan berjalan, biarkan sejenak aku memelihara rasa ini. Bolehkah waktu yang menjawab bagaimana kita akan berlalu?

DISTANCE

26 Februari, 2017.

Mee (Sky Yuu)

THANKS TO:

Emma Griselda yang sudah mengkoreksikan :*

Fency unyuk yang jadi readers pertama sebelum cerita ini di publish.

See you~!

Advertisements