Bonus Track – Chapter 4 (Haehyuk Fiction)


Bonus Track

Original Novel by Koshigaya Osamu

Remake by Mee

Cast: Lee Donghae – Lee Hyukjae, etc.

Lenght: Chapter

Rating: T

Chapter 4

Bonus Track

Kelembapan selimut tebal yang dikeluarkan dari lemari penyimpanan sangat tidak nyaman untuk badan yang sedang demam.

Terbesit keinginan untuk menyingkirkan selimut ini, tapi Donghae menginginkan kehangatan karena suhu dingin yang membuatnya menggigil. Jadi, dengan terpaksa dia terus menggunakan selimut lembab ini.

Lee Donghae membuka matanya dan memandang ke arah langit-langit.

Cahaya fajar sudah tampak menelusup ke kamarnya. Dia ingin melihat jam yang ada di sisi tempat tidur, tapi bergerak sedikit saja kepalanya terasa sangat sakit, sehingga tidak dilakukannya.

Otot lehernya terasa kaku. Kerah kemejanya terasa mencekik. Dia sudah melepaskan dasi dan membuka kancing bagian atas. Tapi, tidur dengan menggunakan kemeja sangatlah menyiksa. Hanya saja sekarang mustahil untuk berganti baju. Donghae tak sanggup membayangkan dirinya turun dari tempat tidur dan menelanjangi badannya untuk berganti pakaian. Badannya gemetar karena dingin.

Terdengar bunyi pelan seperti bunyi knalpot mobil. Tidak, itu bukan bunyi knalpot mobil. Bunyinya sebentar-sebentar, sebentar berbunyi, sebentar berhenti, terus terulang seperti itu.

Oh, hanya dengkuran.

Donghae berpikir seperti itu, tapi tak lama kemudian dia menyadari ada yang janggal. One room mansion ini kedap suara. Selama volume suaranya tidak keras, seharusnya suara dengkuran atau obrolan tetangga tidak bisa terdengar. Bahkan suara televisi tetangga juga tidak bisa terdengar. Kalau begitu, kenapa suara dengkuran pelan ini bisa sampai ke telinganya?

Dengkuran itu terdengar dari sebelah kiri Donghae yang sedang terlentang.

Awalnya, Donghae berpikir dalam kepalanya yang kosong, mungkin itu Kim Ryeowook atau seorang staff yang sedang tidur.

Karena seingatnya, para staff waktu itu memperdebatkan kondisi dirinya yang sedang tidak baik. Tapi, dia ingat akhirnya dia naik taksi, menyerahkan beberapa lembar uang. Hal ini membuktikan bahwa yang mendengkur di sofa bukanlah Kim Ryeowook ataupun staff lainnya.

Perampok?

Tapi, mana ada perampok yang tertidur di rumah yang dia masuki?

“Lalu siapa?”

Donghae memanggil dengan suara serak dan memalingkan mukanya dengan hati-hati ke arah kiri tanpa menimbulkan suara.

“Ohh.” Dia mengeluarkan suara lemah seperti desahan.

Sosok yang ditangkap oleh mata Donghae adalah sosok korban tabrak lari. Dia sedang tertidur meringkuk di atas sofa. Donghae memicingkan matanya agar mengamati dengan cermat orang yang tertidur di sofa itu.

Wajah yang mendengkur teratur dengan mulut terbuka sedikit dan menjadikan tangan kursi sebagai bantal itu adalah wajah pemuda waktu itu. Sosok itu sulit terlihat karena kamar Donghae gelap dan langit-langitnya pendek. Tapi Donghae pernah melihat baju dan celana yang dipakainya.

“Aa…” dengan menggeram seperti orang sedih, Donghae menutup matanya. Apa dia sampai bisa melihat halusinasi karena demam? Memang ini hari libur, tapi besok dia harus pergi bekerja tepat pukul enam pagi. Apa yang harus dilakukan? Padahal ingin cuti, tapi tidak bisa cuti. Ah iya… lebih baik tidur! Setelah tidur, Donghae akan memikirkan semuanya.

Entah itu karena obat atau terlalu lelah, Donghae akhirnya tidur lelap seperti anak kecil.

Bonus Track

Kurang lebih satu jam kemudian, dia terbangun. Seluruh kamarnya mulai terlihat terang. Burung gereja berkicau di luar jendela.

Sosok yang tertidur di sofa kecil itu tampak masih lelap, dan posisinya tidak berubah sama sekali. Dengkurannya sudah berhenti, tapi terkadang mulutnya bergerak komat-kamit.

Sepertinya badan Donghae mulai membaik. Sakit kepala dan demamnya perlahan mulai hilang. Tapi, karena dia masih bisa melihat sosok yang tadi, berarti demamnya belum hilang. Donghae pun kembali tidur. Beberapa kali dia terbangun dan tertidur lagi.

Setelah satu jam, dia tersadar, dan saat itu tepat ketika sosok si pemuda itu sedang mengganti posisi tidur, membelakangi Donghae.

“Masih ada?”

Menjawab gumaman Donghae yang bernada tersiksa, pemuda itu mengedikkan punggung berkaus abu-abunya.

Ya, ya~! Jangan bangun!

Donghae memerintah pemuda itu dalam hati. Biarpun hanya halusinasi, tapi Donghae tidak suka jika bayangan itu bangun dan menyadari keberadaannya.

Tapi, pemuda itu tersadar dan harapan Donghae menjadi harapan kosong belaka. Dia terbangun dan memasukkan tangannnya ke dalam kaus lalu menggaruk punggungnya, dengan mata yang masih mengantuk dia melihat sekeliling.

“Aku bilang, tidur!”

Sembari mendecakkan lidah, Donghae berkomat-kamit dan pandangan si halusinasi yang tadinya menyapu seluruh ruangan dengan cepat langsung mengarah pada Donghae. Dia membelalakkan matanya dan menatap mata Donghae.

Ditengah cahaya matahari pagi yang menembus celah-celah tirai di dalam kamar, kedua lelaki itu terdiam saling menatap.

“Kelihatan ya? Aku kelihatan? Jadi semalam di taksi kau juga berbicara padaku? Kau benar-benar bisa melihatku? Wahh, daebak! Akhirnya kau bisa melihatku!” Lee Hyukjae menunjuk dirinya dan bertanya pada Donghae sambil terkaget-kaget.

“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku melihatmu. Maka dari itu, aku akan tidur sebentar lagi.”

Tidak hanya halusinasi pengelihatan, tapi juga halusinasi pendengaran.

Bahaya jika demamnya tidak segera turun. Dia ingin ke toilet. Tenggorokannya juga terasa kering, tapi yang penting dia harus tidur dulu. Semoga saja halusinasi itu menghilang saat dia bangun nanti.

“Tidak, tunggu sebentar!”

“Berisik!”

Donghae menderu lalu menutup matanya.

“Wahh, gawat. Dia melihatku, tapi hanya dianggap sebagai halusinasi?”

Donghae bisa mendengar bisikan itu, tapi tidak menghiraukannya. Dia tidur seolah-olah dia adalah lampu yang sakelarnya dimatikan.

Bonus Track

Seberapa banyak pun Donghae tidur, rasa kantuk tak juga hilang. Pinggang dan pundaknya juga terasa sakit. Mungkin karena dia tidur terlalu banyak. Sekarang perhatiannya lebih terpusat pada pundaknya dibandingkn dengan sakit kepalanya.

Sudah dia duga, bayangan itu tidak juga hilang.

“Kenapa masih ada?”

“Jika ditanya seperti itu…. Hmm, bagaimana ya menjawabnya?”

Hyukjae menggaruk-garuk kepala sambil tertawa masam.

Donghae yang rambutnya berantakan karena bangun tidur, hanya memandang jengkel pemuda yang sedang duduk di sofa itu. Dengan memfokuskan pengelihatannya, Donghae bisa memastikan wajah lawan bicaranya dengan jelas. Tidak salah lagi, dia adalah pemuda yamg tergeletak di jalan ketika hujan waktu itu.

“Kau korban tabrak lari itu.”

“Ah, ya. Kau benar.”

Tanpa ekspresi Donghae menganggukkan kepala, lalu dia meloncat dari tempat tidur dan bergerak perlahan untuk memastikan kondisi badannya. “Gerahnya ruangan ini.”

Dia membuka semua jendela untuk mendapatkan udara segar. Hari ini begitu panas dan lembab. Tidak ada perbedaan berarti antara suhu di luar dan di dalam ruangan. Tapi, udara di luar lebih segar daripada udara di ruangan tertutup.

Sinar matahari bulan Juni yang begitu menusuk mengakibatkan Donghae menjadi pening dan langsung jongkok di tempat (?).

“Kau baik-baik saja?”

Hyukjae yang bertanya terlihat khawatir. Donghae membuka telapak tangannya dan menyampaikan bahwa dia baik-baik saja.

“Memang kepalaku masih sedikit sakit.”

Donghae melirik untuk memastikan, tapi kemudian dia mencelos melihat halusinasi itu masih ada di sana.

Tadinya dia mengira cahaya matahari yang masuk bisa menghilangkan halusinasi ini, tapi ternyata halusinasi itu masih duduk di kursi biru. Berkebalikan, sosok halusinasi itu menjadi lebih jelas lagi karena tertimpa cahaya. Mata yang tadinya kosong seperti kelereng sekarang malah bercahaya penuh kehidupan.

Donghae berdiri dan menjadikan TV di pojok kamar sebagai penyangganya. Hyukjae menyodorkan tangannya dan berbicara pada Donghae.

“Maaf, apakah aku juga boleh mengajukan pertanyaan?”

“Ya, silakan.”

Tanpa memperhatikan ekspresi terganggu dari Donghae, Hyukjae bertanya, “Jadi, kau tidak hanya bisa mendengar suaraku, tapi juga bisa melihat wujudku?”

“Ya.”

“Tidak takut?”

Tanpa menjawab pertanyaan itu, Donghae segera berjalan sambil meregangkan ototnya yang terasa kaku. Dia mengambil termometer dari rak cuci piring dan kembali lagi ke tempat tidur.

Hyukjae kembali bertanya.

“Kau tidak takut?”

“Memangnya kenapa?”

“Yah, eum… Itu karena aku sudah meninggal.”

“Tapi kau hanya halusinasi, bukan?” Donghae membanting dirinya ke tempat tidur dan menyelipkan termometer di ketiaknya. Kemejanya jadi kusut dan penuh keringat. Dia mengenakan celana berwarna hitam.

“Karena hanya halusinasi, kau akan menghilang jika demamku turun. Karena aku tidak takut…. Walau aku takut pada kenyataan bahwan aku melihat halusinasi.”

“Tapi, aku bukan halusinasi. Aku ini hantu atau arwah gentayangan. Yah, makhluk sejenis itu intinya.”

Hyukjae berusaha menjelaskan posisinya, dan kemudian dia menertawakan kata-katanya sendiri.

“Apanya yang lucu?”

“Itu, karena aku ini hantu. Aku yang ini. Ini seperti lelucon yang sangat lucu. Aku hanya bisa tertawa, bukan?”

“Hantu, ya…” Donghae mendesah sambil bergumam.

“Oh… Donghae-ssi, apa mungkin kau jenis orang yang tidak percaya dengan hal-hal seperti ini, ya?”

“Bukan masalah percaya atau tidak. Halusinasi dan hantu adalah dua hal yang berbeda.”

“Tidak, tidak. Aku ini memang bukan halusinasi.”

Donghae mengesampingkan kata-kata si halusinasi itu, kemudian dia balik bertanya, “Bagaimana kau tahu namaku?”

“Ah, itu… hmm, pol-”

“Ah, sudahlah. Halusinasi yang mengetahui namaku itu tidak aneh.”

Si halusinasi yang kalimatnya dipotong merasa kesal, walau Donghae tidak memperhatikannya.

“Jika aku berbicara pasti membuat orang lelah, ya!”

Pada saat Donghae memejamkan mata, termometer di bawah ketiaknya mengeluarkan bunyi elektronik yang singkat. Lalu dia menariknya dan melihat petunjuk digital. Dalam keheningan Donghae menghirup ingusnya.

“Berapa derajat?” halusinasi itu bertanya pada Donghae.

Alih-alih menjawab, Donghae lebih memilih melempar termometer pada si halusinasi itu.

Termometer putih menembus kedua tangan si halusinasi dan jatuh di lantai tepat di pinggir sofa.

Hmm, sesuai dugaan. Memang halusinasi belaka.

Donghae mengungkapkan perasaannya dengan menunjukkan senyum sinis di sudut bibirnya.

“Hmm… 37,5, ya? Sudah lumayan turun dibandingkan kemarin. Saat di ruang istirahat, jelas-jelas suhunya 38 lebih.”

Si halusinasi itu memperhatikan termometer yang ada di tangan kanannya lalu membaca tulisannya dengan keras.

“Eh?”

Bukankah tadi termometer itu jatuh menggelinding di lantai. Lagi pula, halusinasi itu tidak mengambil termometernya. Tapi, yang jelas, termometer itu ada di tangannya.

Donghae menatap lantai di dekat halusinasi itu. Memang benar termometer itu jatuh di lantai.

Dengan cepat Donghae mengembalikan pandangannya pada si halusinasi. Dengan termometer di tangan, halusinasi itu memandang balik. Termometernya ada dua.

“Apa?”

“Tidak…”

Donghae berbicara terbata-bata dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Si halusinasi menghadap ke arah Donghae yang sedang kacau, lalu mengulurkan tangan ke arah Donghae.

“Ini, silakan.”

Si halusinasi meletakkan termometer ke tangan Donghae yang secara refleks mengulurkan tangannya. Donghae terhenyak. Termometer yang seharusnya jatuh menggelinding itu tidak lagi ada di lantai.

“Apa-apaan ini?!”

Dnghae yang menganggap ini sebagai ulah flu yang dia derita, bangung dengan sempoyongan dari tempat tidurnya agar bisa menghilangkan mimpi buruknya. Donghae mengambil teh oolong dalam botol dalam lemari pendingin yang terletak di dapurnya yang sempit. Dia langsung meneguknya tanpa dituang ke gelas, cairan dingin itu membasahi tenggorokannya yang kering, kemudian seolah-olah mengalir hingga ke tangan, kaki, dan ujung kepala.

Otaknya yang tadi setengah tertidur menjadi sadar dan akhirnya dia bisa merasakan kenyataan bahwa dia telah terjaga dari tidurnya.

Donghae menoleh. Si halusinasi sedang memandang ke luar jendela sembari duduk di sofa.

Mengapa aku bisa melihatnya, ya? pikirnya. Suhu 37,5 derajat memang lebih tinggi daripada suhu normal manusia, tetapi tidak tergolong demam tinggi yang bisa menimbulkan halusinasi. Walau demikian, sosok pemuda itu tidak juga hilang. Jadi, apakah itu berarti dia bukan halusinasi?

Donghae menyalakan rokok dan menghisap asapnya sampai ke paru-paru dengan gaya khasnya. Bagi paru-paru yang melemah akibat diserang virus ini, nikotin masih terlalu kuat. Akibatnya, Donghae terbatuk-batuk sampai membungkuk.

“Bukankah sebaiknya tidur lagi?”

Si halusinasai yang memiliki wajah kekanak-kanakan itu tampak khawatir. Donghae mengabaikannya. Dia mematikan rokoknya lalu masuk ke kamar mandi. Setelah buang air kecil, dia mencoba melongok ke sebuah cermin kecil. Disitu, dia melihat wajahnya yang sedang kacau.

Dia mencuci muka, lalu membereskan secara paksa rambut yang berantakan selama tidur itu dengan handuk dan styling foam. Meskipun sekarang bulan Juni, udara hangat yang keluar dari pengering rambut membuat perasaannya menjadi lebih baik.

Ketika keluar kamar mandi, Donghae mendapati si halusinasi berdiri di beranda dan memandang sekeliling.

Orang itu, dia malah berjemur!

Donghae berdecak, lalu mengeluarkan kemeja baru dari lemari pakaiannya. Karena flu, jemari Donghae menjadi tidak memiliki tenaga. Merobek plastik laundry saja sudah bisa membuat napasnya tersenggal-senggal.

“Pergi kemana?”

Tanpa menjawab pertanyaan si halusinasi yang sedang melongok, Donghae mengganti kemejanya dan memakai sepatu yang tergelatak di lantai setelah mengibaskan debunya.

“Pergi kerja lagi? bukankah hari ini libur?”

“…”

Mengabaikan pertanyaan tadi, Donghae mengenakan jas yang dilepasnya dari gantungan baju.

“Menurutku, lebih baik kau tidur lagi. Kau bisa sakit lagi jika memaksakan diri sebelum sembuh benar. Setidaknya, makan dulu sebelum pergi. Bagaimana? Oh ya, aku boleh ikut, bukan? Yah, memang faktanya aku sudah meninggal, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan…”

Meskipun terus dibiarkan, si halusinasi tidak berhenti berbicara, Donghae yang sudah marah, mengeluarkan seluru kata-kata yang sudah ditahan dari tadi.

“Dengar ya, sekarang aku akan pergi mengambil mobil di restoran. Dan juga, ada sedikit pekerjaan yang harus aku lakukan. Terserah jika kau mau ikut. Lagi pula, meskipun aku berkata jangan ikut, kau akan tetap akan ikut, kan? Tapi setidaknya bisakah kau berhenti bicara padaku? Biarpun kau ini halusinasi, aku tetap akan merasa tidak enak jika tidak menjawab pertanyaanmu. Kau harus tahu, ternyata mengabaikanmu itu melelahkan. Tapi, jika kujawab satu-persatu pertanyaanmu, aku akan dianggap tidak waras oleh orang-orang sekitar. Pastinya aku tidak waras, karena kau ini halusinasi, kan? Kalau sekarang, masih tidak ada masalah karena tidak ada orang, tapi di luar tolong hentikan. Kau mengerti arti kata ‘makhluk sosial’? Karena itu, tolong tutup mulut jika diluar. Jadi, maaf, karena meski kau mengajakku bicara, aku akan selalu mengabaikanmu.”

Setelah selesai bicara, Donghae kembali diserang rasa pening. Saat dia mengembalikan pandangannnya tadi, si halusinasi menjawab dengan malas, “Ya…”

Kenapa kau menjelaskan semua ini dengan serius pada makhluk yang sebenarnya tak berwujud ini?

Donghae merasa lelah.

Matahari yang sudah lama tidak menampakkan wajah di bulan Juni, sekarang menyorotkan sinarnya amat terik.

Saat keluar dari pintu apartemen, Donghae menyesal telah memaksakan diri untuk keluar. Dia ingin berputar balik dan kembali ke kamarnya, tidur dengan nyenyak seperti anjuran si halusinasi. Tapi, besok tidak ada kendaraan untuk dirinya berangkat kerja. Karena Donghae mendapat shift pagi besok. Mau tidak mau Donghae harus pergi sekarang.

Kaki Donghae melangkah menuju ke arah berlawanan dengan jalan protokol yang biasa dia lalui saat berangkat kerja. Kota di tengah hari ini penuh dengan sinar matahari yang menyilaukan mata. Di ujung jalan yang menuju ke halte bus itu terdapat fatamorgana yang menari-nari.

Dengan punggung yang disoroti terik sinar matahari yang membakar, Donghae berjalan sempoyongan menuju halte bus. Ketika dia menoleh, terlihat dengan jelas si halusinasi yang sedang mengikuti beberapa langkah dibelakangnya.

Jka dilihat di tempat yang terang seperti ini, dia justru terlihat seperti anak lelaki kedua seorang pegawai yang tinggal di daerah sini, tidak seperti halusinasi yang disebabkan oleh ketidakstabilan jiwa sementara.

Tapi, tidak mungkin dia nyata. Tidak… Memang ada satu orang yang berwajah mirip dengannya, tapi dia sudah meninggal karena kasus kecelakaan yang tidak terselesaikan kemarin. Pasti halusinasi.

Donghae terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Mungkin Donghae terlalu shock lebih dari yang bisa dia pikirkan karena pertama kali melihat mayat yang tidak berada dalam peti jenazah. Ditambah lagi, dia masih demam dan beberapa hari ini merasa lelah. Pasti semua kondisi itu bercampur aduk dan akhirnya meyebabkan halusinasi.

“Hmmm.”

Donghae mengabaikan senyum ramah si halusinasi itu, lalu melanjutkan perjalanan.

Bonus Track

Ada sebuah pertanyaan di pikiran Hyukjae. Jika wujudnya bisa terlihat oleh Lee Donghae, mungkin saja orang selain dia pun bisa melihatnya.

Sambil berjalan di atas aspal yang memantulkan bayangan. Hyukjae ingin memastikan apakah orang lain bisa berpaling ke arahnya atau tidak. Apa pun caranya tak masalah. Tiba-tiba menari, mengeluarkan suara yang aneh, semua orang kurang lebih pasti akan merasa kaget.

Tapi, hal yang membuat Hyukjae sebal adalah dia tidak berpapasan dengan siapapun kecuali dengan beberapa ekor anjing dan kucing yang berkeliaran. Hal ini membuat Hyukjae hanya bisa tertawa masam.

Hyukjae yang melihat Donghae membeli minuman kaleng di dekat halte yang dimana orang-orang mulai ramai berlalu lalang, jadi ingin membeli juga, melupakan niatnya untuk memastikan orang-orang tersebut bisa melihatnya atau tidak. Hyukjae kemudian mengambil dompet yang berada di saku belakangnya lalu memasukkan sejumlah uang koin yang terselip di sela-sela dompetnya lalu memasukkannya ke mesin penjual otomatis. Tapi, uang koin miliknya melewati bagian dalam mesin lalu keluar lagi dari lubang uang kembalian. Dia mencoba memasukkan uang lainnya, tapi beberapa kalipun dia memasukkannya, uang yang dimasukkannya itu tidak diterima.

“Jadi, uang orang meninggal tidak bisa dipakai ya?”

Donghae memasuki bus yang datang tanpa berbicara dan mengabaikan Hyukjae dan lelucon sinisnya. Seperti pernyataannya tadi ketika keluar kamar, Donghae berniat mengabaikannya.

Hyukjae yang menyadari Donghae sudah naik kedalam bus segera menyusulnya dan melupakan masalah ‘uang orang mati tidak berlaku’. Beberapa langkah dia naik ke bus, kemudian dia berhenti sejenak sambil memandangi Donghae yang duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Berniat meminta tolong kepada Donghae untuk membayarkannya. Tapi karena Donghae yang mengabaikannya, Hyukjae pun merasa pusing dan berkata dalam hati, mafkan aku yang menjadi penumpang gelap ini. Hyukjae berhadapan dengan paman supir bus yang mulai menjalankan busnya.

“Terima kasih untuk kerja samanya. Semoga harimu menyenangkan.”

Hyukjae pun memberi salam kepada supir bus itu sambil membungkuk. Merasa bersalah karena menjadi penumpang gelap. Segera Hyukjae menghampiri Donghae dan duduk di kursi kosong di sampingnya. Sesekali Hyukjae memandangi Donghae yang duduk di pinggir jendela itu dan mencoba berbicara padanya. Karena merasa tidak dihiraukan, Hyukjae pun berdiri dan berjalan-jalan dalam bus yang tidak terlalu ramai itu. dia berceloteh pada penumpang lain, melakukan tingkah-tingkah konyol, dan sesuai dugaannya, mereka tidak bisa mendengar ataupun melihatnya.

Setelah Hyukjae meninggal, Lee Donghae bisa mendengar suaranya, dan sekarang bisa melihatnya dan memastikan wujudnya. Meskipun Donghae salah paham menganggap sosoknya adalah halusinasi, tapi Hyukjae senang sekali bisa berkomunikasi dengan Donghae. Dan jika dia terus mencoba berkomunikasi, mungkin kesalapahaman ini akan hilang, lalu bagaimana menurut orang lain? Orang-orang ini tidak bisa melihatnya, tapi mungkin saja ada diantara mereka yang bisa melihatnya tapi berpura-pura tidak melihatnya.

“Sepinya…” Hyukjae meratapi nasibnya sendiri tanpa ekspresi yang mendukung. Dia malah tampak tak peduli.

Bonus Track

Dari tempat Donghae sampai restoran tempatnya bekerja, membutuhkan waktu hampir setengah jam.

Ketika masuk ke kantor, Donghae langsung menyalakan laptopnya dan mencetak jadwal kerja selama sepekan ke depan. Dia mengarsipnya di binder lalu beralih lagi ke laptopnya. Padahal hari libur, tapi Donghae telihat sedang bekerja walau dalam kondisi sakit. Lalu, Hyukjae pun meloncat untuk melihat jadwal kerja. Daftar jadwal dicetak dikertas PPC ukuran A4 landscape, kolom vertikal menunjukkan nama staff dan kolom horisontal menunjukkan lamanya waktu kerja pegawai dari masuk hingga pulang. Bagian waktu di pagi hari hingga agak siang, jumlah garisnya sedikit, barulah sekitar pukul dua belas siang dan tujuh malam, beberapa garis mulai muncul. Keadaan restoran bisa diketahui hanya dengan selembar kertas ini.

Ahh, aku ingin bekerja seperti Donghae-ssi kelak.

Seolah rasa makanan yang pahit menyebar di dalam mulut. Hyukjae memalingkan wajahnya, mengingat kondisinya sekarang ini. Di ruang ini tidak ada siapapun, hanya Hyukjae seorang diri. Walau dia tahu tepat disebelahnya ada Donghae, tetap saja, dia merasa terisolasi dari dunia jika ada di ruangan yang terang dan sepi.

“Ahh, aku ingin keluar saja.”

Saat hendak beranjak dari samping Donghae, pegangan pintu berbunyi. Hyukjae mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa itu. Kim Ryeowook staff S yang berbadan kecil menurut Hyukjae itu masuk.

“Yo~! Staff S Kim Ryeowook.”

Hyukjae menyapa walau tahu hasilnya sia-sia. Kim Ryeowook yang berada di ambang pintu, menarik napas dalam, lalu dengan cepat masuk ke dalam kantor.

Penampilan Ryeowook yang mengenakan hoodie hitam-bergaris putih dan celana jins berwarna biru gelap, membuatnya terlihat seperti anak-anak dibandingkan dengan sosoknya yang biasa memakai dasi dan memberikan perintah di restoran.

“Selamat pagi!”

Dengan suara nyaringnya, dia menyapa Donghae. Donghae melepaskan pandangannya dari layar laptop yang sedari tadi dia tatap terus, lalu menoleh ke arah Ryeowook.

“Pagi. lho, bukannya hari ini kau masuk malam?”

“Iya. Tapi, paling tidak daftar pesanan harus sudah jadi hari ini karena besok hari terakhir untuk mengajukan pesanan.”

Meski itu pekerjaan manajer, Ryeowook juga diserahi tugas seperti pemesanan bahan konsumsi dan perlengkapan restoran.

“Kuliahnya? Kau bolos?”

“Tidak. Ini kan hari Kamis.”

“Oh iya, hari ini kau hanya masuk pagi hari saja, ya?”

“Iya… Ada apa dengan Donghae-ssi ? Bukankah hari ini libur?”

“Ah, itu, aku datang untuk mengambil mobil, sekalian aku membuat seluruh jadwal. Kemarin aku sudah mengeluarkan jadwal sementara sampai hari Jumat. Seharusnya jadwal itu sudah jadi kemarin, tapi, kau tahu kan kemari itu bukan saat yang tepat untuk bekerja.”

“Ya.” Ryeowook meringis lebar mengingat huru-hara semalam.

“Oh ya, semalam terima kasih banyak. Aku benar-benar tertolong.”

“Tidak apa-apa. Apa flunya sudah membaik? Kelihatannya masih tidak sehat, ya?”

“Ya, sedikit. Masih sedikit pusing. Sejujurnya belum begitu baik. Sebentar lagi aku pulang, kemudian tidur setelah makan.”

“Berat ya, menjadi pegawai tetap itu.”

“Tapi tidak seberat pegawai paruh waktu yang bekerja di luar jam kerjanya…”

Donghae tersenyum, seketika terbatuk-batuk.

“Tidak apa-apa?

“Ya.” Donghae menjawab sambil mengambil napas, “Paru-paruku masih terasa gatal saat bernapas. Badan juga tidak mau menerima rokok.”

“Jadi belum merokok satu batang pun?”

Ryeowook melihat ke arah asbak yang kosong yang diletakkan di atas meja kantor dan dia berkata dengan perasaan puas.

Ryeowook tidak suka perokok. Sekalipun itu adalah Kepala Restoran, dia akan memasang wajah tidak suka secara terang-terangan jika ada orang yang merokok di hadapannya.

“Berkat sakit, aku jadi sehat.”

“Gunakan saja kesempatan ini untuk berhenti merokok.” Ryeowook berkata dengan muka serius pada Donghae yang tertawa sinis.

“Maaf, tapi itu tidak mungkin.” Tidak mudah menghentikan kebiasaan yang terus berlanjut sejak masa persiapan kuliah.

“Begitu, ya.” Ryeowook mengurungkan niatnya. Sepertinya dari awal dia tidak mengharapkan jawaban yang memuaskan.

“Mau pakai ini?” Donghae bertanya sambil menujuk kursi yang dia duduki.

“Tidak. Aku akan menggunakannya setelah Donghae-ssi selesai.

“Tapi masih tiga puluh menitan lagi.”

Ryeowook mengerutkan alis matanya.

“Kalau begitu apa dikerjakan besok saja, ya?”

“Tunggu saja di ruang istirahat.”

“Tidak usah. Aku pulang saja.”

“Hanya tiga puluh menit saja.”

“Ya, tapi kalau pulang aku akan tidur sebentar sampai sore.”

Meskipun sedikit curiga terhadap Ryeowook yang memperlihatkan sikap keras kepalanya, Donghae tidak menahan Ryeowook. Lagi pula, wajar saja jika dia mengantuk karena kemarin pemuda itu bekerja sampai lewat pukul satu malam dan besok paginya masuk kuliah.

“Hmm, aku pamit duluan, ok?”

“Ya, hati-hati di jalan.”

Saat Donghae kembali mengalihkan pandangannya pada layar laptp. Tiba-tiba dia teringan sesuatu dan memanggil Ryeowook.

“Oh ya, Ryeowook-ah, apa kau punya pengalaman berhalusinasi saat demam?”

“Apa?” dengan ekspresi kebingungan Ryeowook balik bertanya.

“Maksudku, melihat hal yang seharusnya tidak bisa dilihat. Misalnya melihat sosok manusia di dalam ruangan padahal seharusnya hanya ada aku sendiri.”

Wajah Ryeowook mendung. “Apa Anda pernah melihatnya?”

Donghae menyesal telah mengungkapkan tentang halusinasi itu. Walau dia mengaku telah melihatnya, tapi tetap saja sulit. Kemungkinan dia hanya akan dianggap tidak waras oleh Ryeowook.

“Hmm… Belum PERNAH melihat…”

Sekarang juga MASIH terlihat. Itu lihat! Ada di ruang istirahat. Di belakangmu. Ada, kan? Donghae ingin sekali mengatakan hal itu. Tapi kemudian dia berkata dengan ringan,

“Aku demam parah sampai kupikir aku bisa melihat hal-hal semacam itu. Aku bahkan tidak ingat tentang kejadian sebelum dan sesudah naik taksi.”

“Jadi Donghae-ssi tidak benar-benar melihatnya?”

“Ya.” Donghae mengangguk dengan wajah datar.

“Bukankan bagus jika tidak melihatnya?”

“Ya, seharusnya begitu. Saat itu kupikir aku akan mati.”

“Jika kondisinya seperti itu, pasti. Waktu itu panas Donghae-ssi hampir mencapai 39 derajat, kan? Jika sudah melebihi 40 derajat, ada orang yang melihat halusinasi atau mengigau…”

“Apa aku mengigau?”

“Ya, hampir seperti itu.” kata Ryeowook sambil tertawa, lalu dia pamit untuk pulang.

Bonus Track

“Hey, ayo pulang!”

Donghae mengajak bicara Hyukjae yang sedang membaca buku catatan milik staff yang dia pungut di ruang istirahat satu jam setelah percakapan tadi.

“Bukankan tidak boleh berbicara di luar?”

Hyukjae mengangkat wajahnya yang tersenyum lebar pada Donghae, seolah dia bisa menerjang dan memeluk Donghae. Meskipun pendapat mereka berbeda tentang hantu atau halusinasi, rasanya menyenangkan keberadaannya diakui.

Donghae mendecakkan lidah pada dirinya sendiri sebagai hukuman, karena berlaku aneh dengan berbicara kepada si halusinasi yang keberadaannya tidak jelas. Kemudian dia berkata, “Walau di luar, tapi jika di tempat yang tidak ada orang yang mendengar percakapan kita, tidak masalah, kan?”

“Ah, kau benar juga.”

“Jadi, ikut atau tidak?”

“Ikut, aku ikut.”

Hyukjae mengikuti Donghae sampai di tempat parkir seperti anjing yang senang bermain-main dengan majikannya.

Donghae menghentikan langkahnya sejenak saat memegang kenop pintu mobil, lalu dia memperhatikan dengan seksama si halusinasi yang mencoba masuk ke dalam mobil untuk duduk di kursi samping sopir.

“Ada apa?”

Ketika menyadari tatapan Donghae, si halusinasi tertawa kebingungan.

“Ah, bukan apa-apa.”

“Oh.. baiklah. Aku akan masuk.” Hyukjae pun membuka pintunya.

“Uahh, daebak.”

Saat itu juga Donghae bergumam seperti menemukan harta karun yang jatuh dari langit. Saat si halusinasi menarik kenopnya, pintu itu berbunyi dengan indah lalu terbagi menjadi dua. Pintu masih dalam keadaan tertutup. Tapi, pintu itu terbuka nyaris membentur mobil yang ada di sebelahnya saat si halusinasi menekan kenop dengan tangannya. Menundukkan kepala, si halusinasi masuk menerobos pintu yang tertutup dan duduk di kursi penumpang.

“Daebak, daebak…”

Donghae membungkukkan badan dan mengintip gerakan si halusinasi dari luar jendela.

Setelah merasa bingung karena diperhatikan begitu cermat, si halusinasi menembuskan lengan kirinya melalui pintu yang tertutup, memegang kenop pintu yang terbuka dan menutup pintunya. Mobilnya bergoyang sebentar. Pintu yang tertutup tadi menyatu dengan pintu yang satunya lagi.

Donghae masuk ke mobil setelah si halusinasi dan duduk di kursi sopir. Kemudian dia memutar kunci untuk menyalakan mobil sambil bergumam sendiri.

“Benar-benar ilusi ya. Aku jadi bisa melihat hal ajaib secara gratis. Beruntungnya.”

“Huh?”

“Tidak.”

Dia memutuskan dalam hati untuk tidak memikirkan hal-hal yang aneh. Donghae menggeser persneling untuk melajukan mobilnya. Mobil yang keluar dari tempat parkir itu berjalan ke arah selatan saat sinar matahari mulai meredup sore itu.

“Eh? Apa tidak apa-apa ke arah sini? Bukannya tadi ingin pulang?” Hyukjae berkata sambil menengok restoran hamburger yang semakin lama semakin mengecil dari pandangannya.

“Apa maksudnya?”

“Itu, taksi yang semalam pergi ke arah yang berlawanan.”

“Oh, mungkin sopirnya tidak tahu jalan pintas. Jika terus pergi ke arah utara, nanti akan tiba di jalur nomor 16 dan dari sana bisa pulang ke rumah. Tapi, arah ke sana itu harus memutar balik jauh sekali dan akan menghabiskan waktu serta bisa terjebak macet. Karena itu, aku selalu mengambil jalan ke selatan dulu, kemudian memotong jalan ke arah barat laut di sepanjang sungai.”

“Ohh…” Hyukjae menyetujui perkataan Donghae dan tiba-tiba mengangguk perlahan. “Tapi, taksi kemarin bisa saja tahu jalan pintas, tapi sengaja mengambil jalan yang memutar. Kau tidur sangat pulas kemarin, jadi mungkin sopir taksi itu sengaja mengambil jarak yang jauh. Kebanyakan taksi sepertinya begitu. Padahal jika dia sopir sekitaran sini seharusnya lebih tahu.”

“Bisa jadi yang semalam itu hanya taksi yang kebetulan lewat, kan? Mungkin taksi itu baru saja selesai mengantar orang dari daerah lain. Waktu taksi itu akan pulang, dia mengantarku lebih dulu. Jadi, wajar jika tidak tahu daerah sini.”

Meskipun Donghae merasa aneh dengan percakapan ini, tanpa memotong percakapannya dia terus berbicara.

“Huh? Tunggu, tunggu. Apa Donghae-ssi tidak ingat kejadian semalam? Taksi itu dari perusahaan lokal. Itu, Ryeowook-ssi, mengecek dan menghubungi taksi lewat telepon. Karena itu, tidak mungkin jika dia kebetulan lewat. Lupa, ya?”

Sementara itu Donghae berdiam diri lalu dia berkata dengan mendesah, “Oh iya, ya.”

“Benar sudah ingat?”

“Ya, mungkin.”

“Jadi, ingat juga saat Donghae-ssi mulai berkata ingin pulang dengan mengendarai mobil sendiri, orang-orang dengan segera menghentikannya, ingat?”

“Ya, sepertinya.”

Donghae mengangguk samar. Hyukjae berkata sambil mengerutkan alisnya.

“Kena tipu sopir taksi, ya?”

“Kena tipu, ya? Haha…”

“Menjengkelkan, ya?”

“Ya, menjengkelkan…”

Sambil menimpali sekenanya, sebuah pertanyaan muncul dalam hati Donghae. Jika orang ini hanya halusinasi saja, kenapa dia bisa tahu apa yang bahkan ada di dalam ingatannya?

Setelah beberapa saat, Donghae memutar setirnya ke kanan, meninggalkan jalan besar dan memasuki jalan kecil di pinggir sungai. Jalan ini adalah jalan yang menghubungkan dua jalan besar. Mobil yang mengebut tidak hanya sering terlihat pada malam hari, siang pun laju mobil sangatlah cepat. Tapi, bisa-bisa mobil lain sudah berjajar jika menjalankan mobil dengan mematuhi batas kecepatan maksimal dengan alasan bahwa volume kendaraan sedikit. Tanpa sadar bisa saja tiga atau empat mobil sudah antre di belakang. Karena itu, biasanya Donghae selalu menambah kecepatan hingga melampaui batas maksimal. Akan tetapi, kali ini, Donghae mematuhi aturan lalu lintas dan mengemudi dengan hati-hati.

“Ah, jalan ini, ya.” Hyukjae bergumam sambil melihat pemandangan dari kaca mobil. “Kemarin siang aku juga lewat jalan ini. Jika lurus terus, itu rumahku.”

“Oh, begitu.”

“Apartemen kotor, di musim sekarang ini pasti dinding lemari bajunya lembab.”

“Kenapa tidak pakai pengusir lembab?”

“Aku sudah memakai dua. Tapi, tidak ada efeknya.”

“Kalau begitu coba tiga.”

Saat Donghae menjawab dengan singkat, tiba-tiba terdengar bunyi klakson nyaring dari belakang. Ketika melihat kaca spion, ada truk kecil berwarna putih merayap di belakang mobil Donghae. Setelah itu ada sekitar dua kendaraan lagi yang ada di belakang truk itu. Hyukjae melihat ke belakang dan segera memberi tahu Donghae.

“Kita akan menimbulkan kemacetan jika seperti ini terus.”

“Aku tahu itu.”

“Tidak menambah kecepatannya?”

Donghae dengan sigap menjawab, “Aku sedang flu. Selain itu, aku tdak ingin terjadi kecelakaan.”

“Oh, baguslah.”

Truk kecil yang ada di dekat mobil Donghae sekali lagi membunyikan klakson yang begitu memekakkan telinga. Flu yang membuat pusing, ditambah lagi suara klakson yang begitu mengganggu seperti semakin menusuk-nusuk.

“Berisik!”

“Kenapa tidak menepi sebentar dan membiarkan mereka menyalip?”

Donghae melirik ke samping dan menatap si halusinasi.

“Sebelumnya aku sudah pernah melakukan itu dan hasilnya kecelakaan. Andai saja waktu itu aku tidak membiarkan mobil bodoh itu menyalip, kau pun–maksudku, pemuda yang bersosok sama sepertimu tidak akan ditabrak dan berakhir dengan tragis. Jadi, mulai sekarang setiap melewati jalan ini sebisa mungkin aku akan membatasi kecepatan mobil dan mematuhi rambu-rambu. Aku akan memaksa mobil di belakangku agar mematuhinya. Hal itulah yang sudah aku putuskan mulai sekarang.”

“Daebak!” sambil bertepuk tangan, Hyukjae memuji Donghae. “Mungkin ini hanya karena otakmu meleleh karena demam, tapi apa yang baru saja kau kaakan itu sangat benar. Aku setuju dengan pemikiranmu. Oh ya, apa ada yang bisa saya bantu?” Hyukjae berujar sok sopan.

“Kalau begitu tunjukkan jari tengahmu pada mobil yang ada di belakang.”

“Tidak masalah!”

Hyukjae langsung menoleh ke sopir truk kecil di belakang dan membentuk tanda vulgar dengan jemarinya.

“Katakan sesuatu juga.”

Ya! Truk kecil! Hey, you! Kalau mau menyalip, salip saja! Tapi kau tanggung sendiri seandainya sampai menabrak dua-tiga orang.”

“Oke, boleh juga.”

Ya! Tahu tidak? Kemarin ada mahasiswa bermasa depan cerah yang meninggal karena ada orang yang merasa dirinya adalah speed star. Malangnya. Padahal dia hanya ingin meminjam video porno! Pikirkan itu baik-baik!”

“Video porno?” hal itu membuat Donghae tertawa sampai badannya terguncang. “Korban yang berjalan di tengah malam itu mungkin juga ingin meminjam video porno, ya?” Hyukjae kembali ke posisi duduk dan tertawa malu.

“Eh, benar-benar seperti itu, kok. Memalukan, sih.”

Sambil memandang lurus ke depan, Donghae menyampaikan pesan-pesannya, memarahi si halusinasi.

“Kau ini! Meskipun kau ini halusinasi yang mirip dengan pemuda itu, kau tidak boleh menertawakan orang yang sudah meninggal.”

“Aku sudah bilang, ini cerita yang sebenarnya. Dari awal, aku juga sudah bilang, aku bukan halusinasi. Aku memang korban yang asli.”

Saat Hyukjae menggerutu, lagi-lagi truk kecil itu membunyikan klakson.

“Berisik! Kujual murah mobilmu ke Rusia! Sekalian jalan di tundra diisi kepiting!”

Donghae tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan Hyukjae. “Kau ini, meskipun halusinasi, konyol juga ya. Siapa namamu?”

“Lee Hyukjae.”

“Wah, halusinasi ternyata juga punya nama. Padahal aku hanya bercanda, tapi dijawab dengan serius.”

“Benar namaku Lee Hyukjae. Jika tidak percaya, coba datang ke kantor plisi dan pastikan sendiri!”

“Nanti saja, ya…”

Meskipun Donghae tidak percaya hal-hal seperti itu, tapi dia bergidik ngeri saat membayangkan jika memang benar namanya Lee Hyukjae.

“Donghae-ssi tidak punya nyali untuk memastikannya, ya?”

Si halusinasi berkata seperti membaca isi hati Donghae.

“Yang kurang dalam diriku itu bukan nyali, tapi waktu. Jika aku bisa punya waktu luang untuk pergi ke kantor polisi, lebih baik aku tidur.”

“Ah, sok tegar. Sok kuat.”

“Sudah cukup, Lee Hyukjae!”

Donghae berpegang teguh pada prinsip untuk membatasi laju kecepatan mobilnya. Hasilnya, truk kecil di belakangnya menyerah dan tidak terburu-buru lagi.

Mobil Donghae akhirnya melewati tempat kecelakaan dini hari kemarin. Di bawah poster pencarian saksi mata yang terpampang, terhias karangan bunga krisan.

“Kau lihat? Yang tadi?”

Hyukjae mengangguk menimpali pertanyaan Donghae.

“Iya, masih ada orang baik, walau kita tidak tahu siapa mereka. Di dunia ini, ada berbagai macam orang, ya. Ada orang yang menabrak orang lain hingga mati, tetapi ada juga orang yang memberikan karangan bunga.”

“Iya. Tapi tetap saja, perasaan pasti tidak enak saat melintas jalan ini. Padahal ini sudah kedua kalinya setelah kejadian itu.”

“Ya ampun, waktu itu aku sungguh tersiksa. Apa kau pernah berputar dua setengah kali di udara? Memang tidak sakit, tapi jiwaku sangat terguncang karena ditabrak. Apalagi setelah aku sadar aku sudah terlentang dan tidak bisa menggerakkan badan. Tapi, aku ingin tahu siapa yang sudah membuatku menjadi seperti ini. Yang aku ingat hanya musik murahan omong kosong seperti kentut monster yang diputar dengan volume keras. Getaran musiknya sampai terasa di permukaan jalan. Seandainya aku menemukannya, akan langsung kulumat orang itu.”

Hyukjae melakukan gerakan seolah sedang meremas-remas kertas dengan kedua tangannya.

“Sudah kubilang, meskipun kau hanyalah halusinasi yang mirip dengan korban, jangan sok-sokan menebak apa yang dialami korban! Sebagai halusinasi, bertindaklah layaknya halusinasi. Sadarlah atas posisimu.”

“Aku sudah bilang berkali-kali. Aku ini, Lee Hyukjae yang asli yang tertabrak sampai meninggal. Aku sendiri tidak percaya, tapi aku sekarang sudah menjadi hantu!”

Donghae mengibaskan tangannya seolah itu hal yang mengganggu.

“Iya, iya.”

“Padahal sama sekali tidak paham kan?” Hyukjae mencibir. “Bagaimana jika Donghae-ssi mengakuinya saja? Seandainya aku ini hanya halusinasi, aku hanya akan muncul saat kau demam. Tapi, kau bisa melihatku saat tidak demam seperti sekarang ini, kan? Bukankah akan lebih wajar jika menganggapku sebagai hantu?”

“Tapi…. Masalahnya itu ya…”

Melihat Donghae yang tidak bisa menemukan teori untuk membantahnya membuat Hyukjae semakin merasa menang.

“Bahkan aku sendiri pun terkejut. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi hantu dan bergentayangan di dunia ini. Tapi, jika sudah seperti ini, tidak ada pilihan lagi, kan? Tidak masalah jika aku dibimbing malaikat pencabut nyawa. Tapi, kelihatannya aku melewatkan kesempatan pergi ke surga, jadi aku terikat di bumi dan sekarang aku menjadi seperti ini.”

Donghae menghembuskan napas dari hidungnya keras-keras. Kemudian, melepaskan sebelah tangannya dari kemudi dan mengelap keringat telapak tangannya ke celana yang dipakainya. Takut?

“Baik, seandainya aku mengalah dan mengakui bahwa kau adalah hantu yang keluar dari mayat itu, kenapa kau justru menghantuiku? Dalam kasus ini, secara teori aku hanya penemu pertama! Memangnya aku sudah berbuat apa padamu?”

“Kau sudah menciumku! Dengan penuh gairah!”

“…. Bodoh! Itu napas buatan!”

“Iya, aku tahu. Padahal aku hanya bercanda… Sebenarnya aku tidak bermaksud menghantui, tapi, penjahatnya kabur dengan cepat, jadi aku tidak tahu wajahnya. Lagi pula, hanya Donghae-ssi yang bisa melihat dan mendengarku.”

“Aku bukan cenayang.”

“Pasti bakat tersembunyi telah muncul.”

“Aku tidak butuh bakat seperti itu.”

“Jangan berkata seperti itu, hanya Donghae-ssi yang bisa kumintai tolong.”

Donghae bergetar hebat.

“Tidak… Tidak… Aku tidak percaya cerita seperti itu. Kau ini hanya halusinasi. Bukan karena demam tapi karena shock yang terjadi karena kecelakaan itu, aku jadi bisa melihat halusinasimu. PTSD (post traumatic stress disorder – gangguan stres pascatrauma)? Ya, mungkin penyakit itu. Hari libur berikutnya aku akan pergi ke ahli jiwa lebih dulu dari pada ke kantor polisi.”

“Menurutku, aku tidak akan menghilang meskipun kau pergi.”

“Aku akan berusaha menghilangkannya dengan obat dan konseling.”

“Baiklah… Lakukan saja sesukamu.”

Hyukjae menyerah dan menenggelamkan dirinya di tempat duduk.

Setelah jauh melewati TKP, mobil pun menuju ke arah lamu merah dan jalan protokol. Mobil mereka sampai pada barisan terakhir saat mobil berhenti. Mereka menunggu lampu lalu-lintas berganti warna.

“Lagi pula….” Seperti belum cukup bicara, Donghae lantas mulai mengajak berbicara si halusinasi dan mengeluh. “Aku ini benar-benar sibuk. Setiap hari harus bekerja menjual hamburger selama dua belas jam, dari pagi hingga malam. Hari libur yang kumiliki aku gunakan hanya untuk mencuci, potong rambut, dan tidur di kamar. Aku tidak bisa bertemu dengan teman lama di hari Sabtu dan Minggu karena aku harus bekerja. Karena terus bekerja, aku tidak punya bahan pembicaraan. Jadi meskipun aku bisa bertemu, percakapan kami tidak akan berlanjut lama. Dan lagi, tanpa sadar hari Natal dan tahun baru tiba, dan aku pun ada di restoran untuk menjual hamburger. Aku, yang hidupnya tidak punya waktu luang ini, tidak mungkin tahu harus berbuat apa walau dimintai tolong oleh korban tabrak lari. Nah, sekarang beri tahu aku. Hantu? Benar-benar hebat! Bahkan terlintas dalam kepalaku bahwa aku akan mati karena terlalu lelah bekerja. Mungkin ini waktunya aku mati karena aku sudah berhalusinasi. Kalau begitu, tak lama lagi aku akan menjadi temanmu. Ayo ita mengakrabkan diri, dan kita akan saling berpegang tangan untuk menaiki tangga menuju surga.”

Hyukjae yang diam mendengarkan cerita panjang Donghae akhirnya mulai berbicara. Dia tidak ingin membiarkan Donghae terus-menerus mengeluarkan unek-uneknya.

“Wah, lelah sekali sepertinya.”

Donghae berpikiran jika itu adalah usaha yang sia-sia.

“Ya, aku benar-benar lelah. Sampai-sampai demamku kambuh lagi.”

“Jangan sampai kecelakaan, ya!”

“Tidak apa-apa. Sebentar lagi sampai rumah.”

“Hmm… Aku…”

“Apa?”

“Besok aku akan pulan ke rumah. Aku ingin bicara dengan orang tuaku, menyuruh mereka jangan hawatir meskipun aku sudah meninggal.”

“Orang tuamu bisa melihatmu, memang?”

Di dalam kepala Donghae terbayang sebuah judul ‘Halusinasi: Pulang ke Rumah’, kemudian dia menaikkan sudut bibirnya, seolah menyindir.

“Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja orang yang memiliki hubungan darah denganku bisa melihatku. Seperti hubungan batin antara orang tua dan anak. Sekali ini, aku akan pulang.”

“Tidak kembali juga tidak apa-apa.” Hyukjae berpura-pura tidak mendengar lantas lanjut bercerita. “Ya karena itulah, besok aku akan pergi dari pagi. Karena itu jangan terkejut jika nanti kau bangun dan tidak melihatku.”

“Aku akan lebih terkejut jika aku melihatmu. Lagi pula, aku akan keluar rumah paling lambat pukul lima pagi. Tidak salah lagi akulah yang akan bangun dulu.”

“Ah… kau ini pekerja keras ya. Suami idaman sekali, kelak.”

“Terima kasih.”

Lampu lalu lintas berubah hijau. Dari lampu lalu lintas, Donghae berbelok ke kiri dan memasuki jalan protokol. Lalu, sopir truk kecil yang sedari tadi terus menempel tampak lega, dia menyalip Donghae menggunakan jalur cepat, melaju meninggalkan jalanan.

Melihat mobil putih putih yang terlihat semakin kecil itu, Hyukjae berbisik,

“Sepertinya tidak ada tanda-tanda rasa bersalah dari truk putih itu. Apa dia tidak merasa jika dirinya yang salah?”

“Di jalanan, semua orang seperti itu.” jawab Donghae lalu dia menjauhkan kakinya dari pedal gas yang tadi diinjaknya.

Bonus Track

Mee (Sky Yuu)

Advertisements

One thought on “Bonus Track – Chapter 4 (Haehyuk Fiction)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s