Hujan


​Hujan hanyalah berupa peristiwa alam yang secara sederhanya berasal dari air laut yang menguap dan kemudian menjadi awan kemudian menjadi mendung dan turunlah air hujan itu. Hanya untuk menuai setetes air hujan tetapi melewati langkah-langkah yang kompleks. Seperti hidup, sesederhana apapun hal yang diinginkan, pastilah semua membutukhan proses, tidak akan dalam sekejap mata itu semua terwujud. Kecuali jika kamu menggunakan ilusi atau menipu dirimu sendiri. 
Ini hanyalah sederetan kata yang berjajar tanpa adanya keindahan. Ditulis dalam kondisi kurang enak hati. Dalam keadaan jenuh. Dalam keadaan lelah (lelah fisik, lelah hati). Mungkin saya memang anak bahasa, tapi saya tidak pandai berbahasa dengan baik. Masih banyak kekurangan dalam deretan kata yang saya jajarkan. Ini bukan suatu cerita yang istimewa.

*AN.

Sensei: panggilan untuk guru, dosen, atau orang yang statusnya dihormati (misal: dokter, penulis, mangaka-orang yang membuat manga/komik)

Senpai: senior

-0000000000-

Jadi begini,

Hari Selasa itu adalah hari terfavorite, tapi juga agak menyebalkan. Hari paling favorite karena hanya ada satu kelas dan itu sore, sekitar jam setengah tiga. Tapi akhir-akhir ini agak menyebalkan karena setiap berangkat itu pasti mendung, atau hujan. Kota Malang berubah jadi kota hujan. Kuliah hari Selasa itu penuh perjuangan di saat hujan sore hari. Naik motor, tapi nyeker, kadang pakai sendal. Padahal pakai jas hujan, sampai kelas celana tetap basah. Tak jarang di kelas Tata Bahasa V, anak-anak datang dengan keadaan rambut atau baju basah, datang dengan pakai sandal jepit, datang nyeker, datang dengan bawaan tas plastik (gampangnya sih kresek) isi jas hujan.

Hari ini, saat mendekati jam kuliah, cuacanya cuma sekedar mendung. Berangkat sekitar jam 2 (karena rumahnya agak jauh), bergelut dengan macet, bergelut dengan ibu-ibu bermotor yang php. Iya php, mau belok kanan, tapi lampu sennya kiri, tiba-tiba rem mendadak, mengendarainya dengan penuh kehati-hatian. Saya menyerah, saya cuma bisa menjauhi ibu-ibu dengan penuh kehati-hatian pula. Dengan harapan yang terus berdengung sepanjang jalan (semoga engga ada kuis, semoga engga ada kuis, semoga engga ada kuis), akhirnya sampai di parkiran kampus dengan selamat. Biasanya waktu kuliah siang (sekitar jam setengah sebelas), sering ditolak sama mas-mas penjaga parkirnya  karena parkirnya penuh (kebetulan, tempat parkir samping fakultas itu yang  jaga mas-mas), masih belum sampai tengah hari, tapi parkiran penuh sesak, itulah akibatnya jumlah mahasiswa dan fasilitas yang berbanding terbalik. Mau makan di kafetaria tapi tempatnya penuh, mau duduk di gazebo sepanjang perpus, harus keliling dulu sampai fakultas seberang. 

* btw mau memakirkan motorku saja ditolak sama mas-masnya, gimana nanti mau memakirkan hatiku ke Senpai. orz

Sejenak, naik ke lantai dua dan ternyata anak-anak dan Sensei sudah duduk di tempat favorite masing-masing (tentunya sensei duduk di meja dosen dong, gak mungkin duduk di belakang sama mahasiswa). Saya cuma bisa merapalkan doa agar tidak kuis, hingga sampailah saya di bangku depan yang tersisa bersama teman saya yang rajin. Hingga saat saya duduk disampingnya, kabar baik saya dengar. Seperti harapan saya, tidak ada kuis. Sensei sangat mengerti perasaan kami para mahasiswa. Saya sangat mencintai beliauuu. Kalau bahasanya dulu sih, aku padamu.

Jadi tidak ada yang spesial, tidak ada istimewa. Kecuali empat pola bahasa yang mirip yang bikin mupeng (?). Jadi, begini, emmm, kebetulan saya mahasiswi jurusan bahasa asing (bahasa Jepang), dan struktur bahasanya berbeda dengan bahasa Indonesia, dan yahhh, sulit untuk dijelaskan, intinya ada pengaruh pola pikir orang jepang itu ke bahasa, dan itu berbeda dengan bahasa Indonesia, maka dari itu bikin teler. Tapi sebenarnya tidak juga. Tapi saat belajar itu pasti grafiknya naik-turun, grafik mood maksudnya. Kadang excited, kadang jenuh. Nah disaat jenuh inilah saya merasa benar-benar K.O

Ahhh, tidak berhubungan dengan hujan. Tapi ini hanya sekelumit hal yang terjadi di hari Selasa sore yang dihiasi hujan.

Iya, berangkat tadi hanya sekedar mendung, berefek ke telapak tangan yang menjadi dingin. Ditambah lagi waktu pulang; hujan baru saja turun, sampai jalan dekat gang rumah ternyata macet bonus gerimis. Ditengah-tengah macet yang bertabur tetesan air hujan, saya cuma bisa mendesah pelan, iya nasib orang solo karir (bisa dibilang single, atau paling nusuk itu jomblo).

Entah kenapa tiba-tiba kata solo karir (jomblo) ini muncul. Mungkin karena waktu berangkat tadi saya membayangkan adegan picisan di drama-drama negeri sebelah yang sering saya lihat. Seorang perempuannya memakai kemeja putih terkena gerimis, kemudian kekasihnya dengan ringan hati akan memberikan jaketnya agar si perempuan tidak kedinginan. Oh, andai perempuan itu saya—Heol! Tiba-tiba keinget sama salah satu orang yang suka tebar bunga-bunga cinta orz. 

Ughh, setelah saya membayangkan hal ini waktu berangkat, ternyata hal ini terjadi pada saya yang sedang memakai kemeja putih saat pulang sekitar jam setengah lima. Bukan, bukan waktu seorang kekasihnya memberikan jaket, hanya sekedar saya yang sedang terkena gerimis dan berakhir hingga kedinginan. Saya masih menanti seseorang yang mungkin bersedia memberikan jaketnya, Senpai mungkin. Tapi hingga sampai di depan rumah, tidak seorangpun yang membagi jaketnya pada saya. Yang ada hanyalah kucing-kucing adik sepupu saya yang berlindung dari hujan yang menyambut. Saya hanya bisa tersenyum miris. Iya, lanjutkan saja solo karir tanpa beban ini, lupakan apa itu kekasih, mantan, calon kekasih, dan kawan-kawannya. Fokus saja dengan solo karir ini, fokus menghabiskan waktu dengan wifi kampus tercinta, fokus menggeluti bacaan-bacaan yang memutarbalikkan otak, fokus dengan kekasih-kekasih virtual –yoosung zen seven jumin– dan kekasih-kekasih jauh ku (jauh dari kenyataan; bias), fokus dengan deretan film yang mengantri untuk ku sentuh, fokus cari tempat magang. Ahhh, seketika kata magang memenuhi otakku yang sudah penuh. Iya, magang, sedang galau dengan satu kegiatan ini. seketika rentetan mantra penguat diri itu runtuh seketika. Dengan hati yang berat saya memutuskan membuka pintu diiringi dengan suara tetesan hujan yang semakin deras. Memandang sejenak dua kucing yang saling menggoda dengan cakar dan taring kecilnya. Ku membuka pintu dan ternyata ku menyesalinya. 

Kenapa?

Kenapa? 

Karena;

Sudah bersolo karir, kehujanan, kucingnya tanpa membersihkan kakinya langsung masuk ke dalam rumah dengan meninggalkan jejak mungil yang seperti mengejekku. Hei sepupu majikan, terima kasih sudah membukakan pintu untuk kami, kami terkunci diluar sejak hujan mulai turun, kami mohon padamu, bersihkanlah jejak kaki kami yang terlukis dengan indahnya di lantai marmer itu. maafkan kami, seandainya kami bisa mengepel sendiri cap-cap kaki kami itu. tolong kami agar tidak dimarahi ibu majikan. 

Heol~

Selasa, 22 November 2016. 

Ps. Ini diposting saat mendapat wifi dikampus. Mau posting lupa terus filenya ada di laptop. Dan di postinglah hari jumat, seharusnya selasa sihh

Advertisements

13 thoughts on “Hujan

      1. Angkatan 2013 kalo gak salah.. kalo gak salah juga sasta kak, udah lama sih gk kontek-kontekan, namanya Dani Yudha Pramudya kak 😁 kenal gak?

    1. Halo. Makasih kak sudah mampir dan memberi feedback di postingan saya yg jauh dari kata bagus. Sejauh ini masih terus belajar untuk lebih baik lagi biar sebagus punya kakak dan penulis lainnya. 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s