Bonus Track – Chapter 3 (Haehyuk Fiction)


Bonus Track

Original Novel by Koshigaya Osamu

Remake by Mee

Cast: Lee Donghae – Lee Hyukjae, etc.

Lenght: Chapter

Rating: T

Chapter 3. (note: terjadi beberapa perubahan pov antara penulis dan Eunhyuk, jadi mohon disesuaikan.)

Malam itu Donghae sedang menghitung uang kas di mesin kasir restoran ketika tiba-tiba hidungnya mengeluarkan ingus setelah dia bersin. Sembilan belas jam berlalu semenjak dia menemukan mayat itu.

“wah, joroknya…”

Para pegawai lelaki di dapur mencemooh dari dapur.

“Haaah…”

Donghae mengabil tisu dari sakunya, berlari ke dalam dapur, lalu langsung membuang ingusnya.

“Donghae-ssi, ternyata memang terkena flu, ya?”

Kim Ryeowook, seorang staff S bertanya dengan suara pelan. Di antara sekitar empat puluh orang mahasiswa dan mahasiswi pegawai paruh waktu yang ada di restoran ini, dia adalah pemuda yang paling bisa diandalkan.

“Flu mungkin, ya… gawat…”

Donghae meremas tisu, melemparkannya ke tempat sampah, lalu menggosok hidungnya.

“Jika memang flu, istirahat saja. Lagi pula, hari ini tidak terlalu sibuk. Dan jika mengenai tutup buku, para pegawai paruh waktu pun bisa menanganinya.”

“Tak usah, tak apa-apa, aku baik-baik saja.”

Donghae menunjukkan senyum yang dibuat-buat. Sebenarnya, sejak tadi dia merasa kedinginan. Perusahaan tidak mengijinkan pakaian kerja selain seragam kemeja lengan pendek dan rompi tipis, jadi wajar saja jika badannya mejadi kedinginan.

Ryeowook yang tidak lebih tinggi dari Donghae, sedikit mendongakkan kepalanya, lalu mengecek warna wajah Donghae.

“Tapi wajah Donghae-ssi merah sekali.”

“Sampai bisa dibilang parah?”

“Sampai bisa dibilang parah.”

Ryeowook mengangguk, membuat dirinya terlihat menggemaskan.

“Begitu, ya. Kelihatan sekali, ya?”

“Sampai ada kantong di bawah mata seperti itu, lebih baik istirahat saja di kantor. Daripada membuat pelanggan ketakutan. Jika terjadi sesuatu nanti akan aku beri tahu.”

Ryeowook memiliki bentuk wajah yang kecil. Wajahnya terlihat polos seperti anak yang tidak memiliki dosa. Jika dilihat dari postur tubuhnya yang kecil, dia terlihat seperti lemah, tak memiliki keberanian. Tapi siapa sangka, jika Ryeowook adalah seorang anggot staf S; peringkat tertinggi di antara para pegawai paruh waktu. Selain itu, dia juga memiliki kepedulian yang lembut yang tersembunyi dibalik tubuh kecilnya itu. Oleh karena itu, dia bisa memakai seragam yang sama dengan staf tetap seperti Donghae sebagai anggota staf S.

Donghae berterima kasih terhadap perhatian Ryeowook, tetapi dia tidak bisa mengabaikan rasa tanggung jawabnya sebagai pegawai tetap.

“Tapi, satu jam lagi akan tutup, besok aku libur, jadi kucoba tahan saja dulu…”

“Tidak bisa. Kami akan kerepotan jika Donghae-ssi jatuh pingsan.” Ryeowook memotong kata-kata Donghae.

“Jadi, tidak apa-apa, bukan? Saya akan melapor sebelum restoran tutup. Saya minta tolong pengecekan terakhir, sekali saja.” Ryeowook menyambung perkataannya sendiri, lalu dengan tenaga seadanya dia menyeret Donghae yang berjalan sempoyongan.

Donghae dipandu keluar lewat pintu belakang lalu dikunci dari dalam. Lelaki itu mendesah disertai senyum ketir. Postur Ryeowook yang lebih kecil dibanding dirinya, membuat cara menyeret Ryeowook menjadi agak kasar.

Dalam ramalan cuaca, malam ini akan menjadi malam yang panas dan pengap karena pengaruh angin lembab dan hangat. Meskipun semua pegawai paruh waktu yang baru datang dari sekolah berkata “Panas, panas,” bagi Donghae, angin malam ini terasa agak dingin.

“Uhh, dingin…”

Sembari menggosok kedua tangannya yang telanjang, Donghae berlari memasuki kantor. Dia membeli kopi kaleng hangat di mesin penjual otomatis yang ada di lorong.

Brr,  bulu romanya berdiri. Sepertinya meriangnya semakin menjadi-jadi.

Tidak ada siapapun di ruang yang luas itu. Wajar, karena restoran tutup sebentar lagi. Entah apa karena setelah meninggalkan restoran dia kehilangan tenaga atau apa, sekarang untuk berdiri saja terasa sulit sekali. Dengan susah payah, dia melepas sepatu loafer lusuhnya, lalu meluncur masuk ke kantor sempit yang ada di bagian dalam sebelah kanan ruang istirahat. Terlalu malas untuk mengambil sweter tebal yang ada di loker lorong, Donghae hanya menekan tombol remote AC dari ‘pendingin’ menjadi ‘penghangat’. Donghae menutupi lehernya dengan mengangkat bahunya seperti monyet gunung salju. Dia menggigil menahan rasa dingin. Hanya dengan meminum seteguk kopi kaleng, dia berusaha menghangatkan tubuhnya.

Bonus Track

Aku. Lee Hyukjae. Si korban tabrak lari yang ditemukan oleh Lee Donghae. Sekarang sedang membututi pegawai kantoran ini. Terhitung sembilan belas jam sudah aku mengikutinya sesudah kecelakan tabrak lari itu. Kini aku ada di ruang istirahat di mana sang penemu mayatku sedang tidur di kursi. Terlihat tubuhnya menggigil seperti menahan rasa dingin. Sekaleng kopi yang sudah kosong tergeletak begitu saja di meja. Suhu di dalam ruangan juga terasa hangat karena diubah orang yang sedang tidur di hadapanku ini. Wah, dia seperti anak-anak jika sedang tidur.

Aku tetap mengikuti orang ini kemana pun, apa pun yang dia lakukan. Bahkan sampai fajar muncul di pagi hari sekarang ini, aku tetap mengikutinya. Dia, Lee Donghae meminum kopi kaleng sambil menggigil karena udara dingin. Tepatnya, di dalam kantor polisi. Kenapa bisa berakhir seperti itu? Jadi begini ceritanya…

Penyelidikan lokasi kejadian berlanjut dengan tenang. Anggota tim penyelidik dari divisi kriminal mengenakan jas hujan. Mereka merangkak di atas tanah sembari mencari-cari jejak kecelakaan. Aku menghampiri mereka secara diam-diam, takut jika akan ketahuan. Tapi, bodoh! Aku kini adalah sesosok hantu!

Salah satu dari mereka, mungkin opsir divisi kriminal yang sedang bertugas, mengenakan jas hujan putih di atas seragam kerjanya dan memkai topi bisbol. Dengan bebas dia mengambil foto tanpa mengetahui apakah aku tertangkap kamera atau tidak. Tentu saja aku ingin melihat foto hasil penampakan itu. Foto yang menampakkan dua hal; orang yang meninggal karena kecelakaan, dan arwahnya. Siapa yang tidak ingin melihatnya. Tapi itu hanya imajinasiku saja pada akhirnya.

Tidak ada satupun pun percakapan berlebihan layaknya  di drama-drama detektif, seperti, “Inspektur, benda ini ditemukan di semak-semak sana!” “Apa!?”. Ditengah-tengah hujan rintik, mereka terus melanjutkan kerja dengan tenang dan normal. Dari percakapan petugas polisi itu, aku bisa tahu bahwa tidak adanya bekas rem di jalan jadi suatu masalah yang gawat.

Tubuhku pun akhirnya segera diangkut ambulans. Aku sempat berpikir mengikutinya. Namun, tidak ada artinya aku ke rumah sakit karena aku sudah tidak bernyawa. Lagi pula jika aku tetap bersama polisi mungkin aku bisa menemukan siapa orang yang membunuhku. Karena itu, akhirnya aku memutuskan untuk  tetap di sini saja.

Dalam situasi yang sudah tenang itu, ada satu orang yang emosinya masih di atas batas normal. Orang itu adalah Lee Donghae. Aku menumpang di kursi sebelah pengemudi mobil patroli, lalu mendengarkan percakapan Lee Donghae dengan seorang detektif yang masih terbilang muda, yang duduk di belakangku. Tertera nama Cho Kyuhyun di id card yang sempat ku intip tadi. Mungkin dia lebih muda satu atau dua tahun dari orang yanng menemukan mayatku ini.

Alih-alih disebut percakapan, lebih seperti Lee Donghae yang sedang bermonolog.

“Maaf, benar-benar maaf, karena jalan yang begitu gelap, tidak begitu jelas. Tapi saya merasa yakin bahwa mungkin mobil itulah yang menabrak. Tapi, karena saya melihat secara langsung kejadiaannya jadi… Tapi, itu… karena ketika saya mendekat dia langsung kabur. Aduh, mohon maaf sekali. Jika saja saya tahu akan terjadi hal seperti ini, pasti saya akan memperhatikan dengan seksama plat mobil itu.” lihat, betapa gugupnya Donghae menjelaskan apa yang dialaminya pada saat itu.

Meskipun pernyataannya tidak salah, tapi Donghae mengacaukannya dengan berbicara terlalu cepat dan terbalik-balik. Dia juga mengucapkan hal yang sama berulangkali, sehingga maksud dari kalimatnya menjadi tidak jelas. Dia sangat kacau, sampai-sampai si korban yang sedang menyaksikannya ini pun ingin berkata padanya, “Tenanglah sedikit!”

“Bukan begitu, kami tidak bermaksud menyalahkan Anda.” Kerutan di dahi Detektif Cho semakin dalam saat menghadapi Donghae yang panik. Kemudian dia berpikir sejenak, tetapi tak lama kemudian dia mengubah nada bicaranya dan mulai berkata seperti ini, “Hmm, rasanya tidak tenang jika harus bicara di dalam mobil sempit seperti ini? Untuk mengubah suasana, bisa kita mengobrol sekali lagi dengan santai di kantor polisi? Tapi bukan begitu, ini tidak sama dengan interogasi. Karena Anda bukan tersangka. Anda bebas memilih mau bagaimana. Anda mengerti bukan, jika dalam penyeledikan seperti ini tindakan awal sangat penting? Meskipun tidak masalah jika bertanya di lain waktu, tapi selama rentang waktu belum begitu jauh sejak kejadian, sebisa mungkin kami bermaksud meminta informasi sebanyak-banyaknya mengenai kasus itu. Yah, meskipun begitu, saya mengerti jika Anda sibuk, tapi kami sebisa mungkin ingin menyelesaikannya. Anda bisa ke kantor bersama kami, dan mobil Anda akan dibawa oleh petugas kami. Begini, kami khawatir mengenai perasaan Anda yang mungkin terguncang, jadi untuk membawa mobil sendiri itu agaknya… Ya begitulah intinya. Selain itu, Anda tidak tahu jalan menuju ke sana, bukan? Jadi akan kami antar dengan mobil patroli. Anda belum pernah menaiki, kan? Mobil patroli…”

Saat itu olah TKP sepertinya sebentar lagi usai, jadi kuputuskan untuk ikut dengan  Donghae. Dengan demikian, Donghae akan melanjutkan kesaksiannya atas kejadian itu di kantor polisi.

Hampir tidak ada orang malam itu di sana, gelap, dan dingin. Membuatku berpikir bahwa kantor polisi itu tak bernyawa. Saat akan menyusul Donghae, aku mencuri dengar pertanyaan petugas polisi dengan orang lain.

Lee Donghae, usia 26 tahun, lahir tanggal 15 Oktober. Dia lebih tua enam tahun dariku, bekerja di salah satu restoran hamburger. Itu sebabnya tertulis huruf ‘M’ di bagian dada jasnya. Dia tinggal di kota yang sama dengan apartemenku, dan dia secara tidak sengaja menemukan mayatku di tengah perjalanan pulang dari tempat kerjanya.

Satu hal lagi, polisi mencurigai Donghae lah sebagai pelaku sebenarnya yang terlibat dalam kecelakaanku.

Di tempat parkir kantor polisi, petugas berseragam yang ditugaskan membawa mobil kecil Lee Donghae, terlihat memeriksa bemper dan bagian bawah mobil dengan teliti sambil memegang senter di tangan. Tanpa sepengetahuan pemiliknya, mereka memeriksa apakah ada bekas tabrakan atau tidak. Aku ingin mengatakan bahwa dia bukan pelakunya. Tapi apa daya suaraku tidak akan terdengar oleh mereka.

Meskipun aku ada di kantor polisi dan tahu tentang kecurigaan-kecurigaan terselubung ini, sayangnya aku tidak bisa menemukan informasi terbaru mengenai pelaku sebenarnya. Dari percakapan petugas aku tahu jika pelakunya sekarang buron.

Seandinya dia berhasil tertangkap, mungkin aku akan bungkam jika ada yang bertanya apa sebenarnya yang aku inginkan. Namun, aku tidak tahan jika hanya diam. Setidaknya aku ingin memukulnya sekali saja. Hanya saja itu mustahil mengingat tanganku yang menembus badan Lee Donghae malam itu. Sungguh menyebalkan.

Memutuskan untuk meninggalkan para petugas tadi, aku menyusul Lee Donghae yang sedang di bawa ke ruang rapat yang luasnya sebesar ruang kelas di sekolah, alih-alih di bawa ke ruang interograsi yang sempit. Dia menceritakan semuanya secara terang-terangan. Namun, informasi yang berhubungan langsung dengan penangkapan pelaku, yang menurut Detektif Cho tampan ini lebih menarik, tidak bisa diberikan oleh Donghae meskipun sudah berpindah tempat.

Ditengah-tengah cerita, seorang petugas kepolisian masuk ke ruang rapat, lalu membisikkan sesuatu kepada detektif tampan itu. Aku hanya diam tidak penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Karena aku bisa menebak apa yang mereka bicarakan, ‘tidak ditemukan tanda-tanda ganjil pada mobil Lee Donghae.’. Pasti seperti itu.

Setelah petugas tadi keluar, mereka berdua kembali melanjutkan cerita-panjang-si-korban-tabrak-lari. Detektif Cho hanya bisa mengangguk-angguk dan sesekali bertanya kepada Donghae. Kemudian terlontar pertanyaan yang mengingatkanku pada setiap nasib sialku.

“Saat ini, mungkin kita belum bisa menangkap pelakunya. Lalu, berdasarkan autopsi dokter, korban meninggal seketika jika dilihat dari keadaan mayatnya… Hasil autopsi dokter yang lebih rinci akan keluar nanti, tapi, ya… Malang sekali pemuda itu.” mendengar pernyataan ini membuatku teringat kembali banyaknya nasib sial yang kudapat. Dan kejadian saat aku tertabrak adalah yang paling buruk. Kulihat Donghae hanya menjawab “Oh begitu…” lalu tanpa sadar mendesah keras. Aku menjadi merasa bersalah kepadanya. Maaf, sudah membuatmu membuang begitu banyak energi untuk memberi pertolongan pertama di saat aku sudah tidak tertolong.

Tanya jawab itu berlangsung mungkin selama tiga puluh menit. Dan selama tiga puluh menit aku hanya bisa diam tanpa mengeluarkann sepatah katapun. Setelah itu, Donghae meninggalkan kantor polisi dalam cuaca yang hujan lebat, dengan sebelumnya meminta maaf berkali-kali karena dia tidak bisa banyak membantu sepertinya.

Begitu fajar tiba, ketika Donghae dibebaskan dari tuduhan, aku mengikutinya lagi untuk sekian kali. Aku sempat berpikir untuk pulang ke apartemen ku, tetapi sebelum pergi aku sudah mematikan lampu dan mengunci pintu. Lagi pula tidak ada hal yang harus ku kerjakan saat aku pulang. Alih-alih, aku memutuskan lebih baik mencari tahu tepat tinggal orang yang mengetahui garis besar peristiwa ini. Lagi pula, dia satu-satunya yang bisa mendengar suaraku saat ini.

Sampai saat ini aku merasa telah membuat keputusan yang baik. Cerdas sekali aku ini.

Menahan napas dan berusaha tetap diam ternyata cukup sulit. Baik ketika di dalam mobil menuju rumah Lee Donghae, maupun ketika di dalam kamar, aku tetap diam. Aku tidak bisa membiarkan terjadi suatu hal yang berbahaya hanya karena aku mengeluarkan suara yang paling pelan sekalipun. Sangat tidak masuk akal namanya jika aku harus meninggal dua kali karena kecelakaan lagi.

Kamar seorang pegawai kantoran ternyata memang suram. Sebuah one room mansion berwarna krem, tanpa hiasan apapun di dalam kamarnya.  Hanya ada sebuah tempat tidur, meja lipat yang di atasnya terdapat beberapa barang tertata, dan satu rak buku kecil. Di ujung dinding seberang tempat tidur ada sebuah sofa untuk dua orang yang berwarna biru usang. Sudah, hanya itu.

Ini pertama kalinya aku masuk ke rumah orang tanpa permisi sejak aku lahir, dan tentunya pertama kali juga sejak aku mati. Meskipun kamar seorang lelaki, sebelum masuk aku sedikit merasa senang. Namun, perasaan itupun hilang karena suasananya yang terlalu biasa begitu aku masuk.

Untuk ukuran lelaki yang hidup sendiri, kamar ini sebenarnya lumayan tersusun rapi. Bukan karena dia cinta kebersihan, mungkin karena dia lebih sering tidak berada di rumah sampai-sampai tidak punya waktu untuk menyerakkan sampah. Sebenarnya ada banyak debu di lantai, di atas buku juga terlihat debu yang menebal. Bahkan cucian piring stainless steel yang ada di dapur sangat kering sampai-sampai keraknya mengelupas. Secara keseluruhan, alih-alih disebut tempat tinggal, tempat ini lebih seperti tempat yang digunakan untuk tidur saja.

Setelah pemilik kamar ini keluar dari kamar mandi, dia naik ke tempat tidur dengan rambut yang masih basah. Dalam lima menit suara dengkurannya pun mulai terdengar. Sepertinya dia tidak akan menyiapkan tempat tidur untuk tamunya ini.

Yah, dari awal aku tidak berharap bisa mendapat keramahtamahan sampai sejauh itu, jadi aku meringkuk saja di sofa dan mulai tidur.

Bonus Track

Donghae tertidur hingga lewat tengah hari bagaikan kerbau. Dia terbangun karena sudah terbiasa. Setelah itu dia mempersiapkan dirinya, dan dengan perut yang masih kosong dia  kembali pergi bekerja. Ketika mendapat shift malam, dia akan melewatkan sarapan dan langsung pergi bekerja karena ingin tidur lebih lama meskipun hanya sejenak. Hal seperti ini sudah menjadi kebiasaan untuk lelaki ini.

Selesai menulis laporan, Donghae melahap dengan rakus hamburger dan kentang goreng di ruang istirahat. Seharusnya, makan apapun akan terasa enak jika belum makan selama delapan belas jam. Namun, entah mengapa hari ini dia merasa makanannya kurang enak. Pastilah dia sudah mulai merasa tidak enak badan.

Di ruang istirahat, para pegawai paruh waktu menyerang Donghae dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sepertinya berita tentang kecelakaan itu sudah menyebar di seluruh restoran. Padahal Donghae masih belum bisa menata hatinya kembali. Donghae hanya tutup mulut menghadapi pertanyaan mengenai ini-itu yang menunjukkan betapa penasarannya mereka.

Kebetulan sekali hari ini ada sedang ada diskon spesial di supermarket besar yang letaknya lima menit dari tanjakan, membuat kehebohan restoran lebih dari biasanya.

Pukul dua siang akan ada pengirimaan barang. Namun dari pukul empat sampai pukul enam, pegawai yang biasanya membantu sangatlah kurang. Benar-benar dua jam yang kejam. Pekerjaan berat terakhir tiba sekitar pukul delapan. Donghae mengawasi dan bekerja bagai seorang prajurit pemberani, sampai akhirnya semua bisa dilalui dengan baik.

Di tengah kesibukan, masih saja Donghae ditanyai dengan pertanyaan yang sama yang hampir setiap isinya sama, Oh, Donghae-ssi, kemarin ada tabrak lari? Bagaimana bisa terjadi?”

Pada awalnya Donghae menjawab satu persatu pertanyaan tanpa terlewat, namun seiring larutnya malam, Donghae mulai malas. Ketika ditanya, Donghae hanya menjawab, “Ceritnya lain kali saja, ya.” Dengan muka masam dan seolah tanpa gairah. Donghae sebenarnya tahu, dia bisa saja mengecewakan orang lain dengan cara bicaranya itu. Namun, dia bahkan tidak punya tenaga untuk memikirkan perasaan orang lain karena sedang pusing dan meriang.

Awalnya Ryeowook, akhirnya para pegawai yang lain juga mengerti bahwa Donghae sedang tidak enak badan, sehingga untuk sementara waktu mereka membiarkan Donghae sendirian. Namun, melihat Donghae yang bersin-bersin sambil mengangkat hidungnya, Ryeowook memutuskan untuk melongoknya sebentar.

Bonus Track

Aku mengikuti Donghae ke tempat kerjanya setelah dia dari kantor polisi tadi. Karena tidak ada yang bisa kulakukan, tanpa ambil pusing aku mengikuti orang ini. Tempat kerjanya berada di jalan by-pass kota sebelah, jika dibandingkan tempat tinggalku, tempatnya lebih ramai. Daerah itu dipenuhi banyak supermarket besar, restoran keluarga, dan tempat publik lainnya, terasa seperti di daerah industri baru di pinggir kota. Di lingkungan ini, gedung restoran berlantai satu dengan tembok berwarna pink terang dan lahan parkir yang luas, tampak sesuai dengan atmosfer wilayah ini.

Aku melihat Donghae yang bekerja dengan sibuknya, berkeliaran ke sana-kemari di dalam restoran. Aku memperhatikan lelaki yang sedang bekerja itu dari meja kecil di sebelah konter. Tempat ini strategis karena dari sini aku bisa memandang keluar jendela dan konter sekaligus. Kalau mobil yang menabrakku itu lewat, aku pasti segera tahu.

Ketika pertama kali aku bertemu, atau lebih tepatnya ‘melihat’ wajah Donghae, kesan pertamaku adalah, ‘anak lemah penakut’ yang tak bisa diandalkan. Namun, di tempat ini dia sudah seperti orang lain saja. Bekerja dengan cekatan dan raut wajah yang tegas.

Memperhatikan orang yang sedang bekerja tanpa henti, lama-lama membuatku bosan. Begitu matahari condong ke barat, kebosanan sudah menguasaiku. Menjadi manusia yang tak terlihat itu benar-benar tidak menyenangkan. Tapi berkat menjadi tak terlihat ini aku bisa bebas keluar masuk ke mana saja. Aku pun berkeliaran di restoran tanpa arah, selama entah berapa lama, mungkin berjam-jam, melihat setiap sudut ruangan yang ada di bangunan ini. Kulihat kearah jalan, lampu-lampu jalan sudah menerangi setiap sudutnya. Kilatan cahaya putih memancar dari lampu-lampu mobil yang lewat.

Pada malam hari, pelanggan tetap berdatangan ke restoran ini. mereka –pelanggan- tidak mengeluh walau makan malam dengan hamburger. Memang tidak sampai mengantre di konter seperti siang hari, tetapi selalu ada pelanggan yang datang. Setidaknya sepertiga restoran dipenuhi pengunjung. Berbagai macam pengunjung memakan setiap pesanannya sambil mengobrol ringan. Para pegawai juga bekerja dengan tekun seraya memberikan senyuman. Suasana itu didukung dengan latar musik yang terasa riang dan menyenangkan.

Berkebalikan dengan Donghae, mukanya tidak sedap dipandang. Sepertinya dia tidak enak badan. Wajar saja jika mengingat cuaca semalam saat hujan lebat ada di kantor polisi dengan kondisi badan yang gemetaran. Sebagai orang yang menyebabkan hal yang tak terelakkan itu, aku merasa bersalah.

Kondisi Donghae semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Setelah sembilan jam lebih berada di restoran, akhirnya dia dipaksa masuk ke gedung kantor. Karena aku merasa sedikit bertanggung jawab, aku mengikutinya untuk melihat keadaannya. Namun, saat itu dia sedang diam di sudut ruangan dan akhirnya tertidur meringkuk. Awalnya aku ingin membiarkannya dan hendak kembali ke restoran. Namun apa boleh buat, aku memutuskan tinggal di ruang istirahat ini dan tetap siaga jika terjadi sesuatu

Mungkin tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh hantu sepertiku. Namun, paling tidak aku bisa panik jika kondisinya berubah menjadi genting.

Lama aku berada diruang ini. Beberapa orang keluar masuk, dan tak ada yang melihatku. Ya, memang tidak ada yang bisa melihatku.

Waktu berlalu entah sudah berapa lama, aku sempat tertidur diruang ini, kulihat Donghae masih setia di tempatnya. Merasa tidak mendengar keributan, aku mengintip keadaan di luar. Di dalam restoran sudah begitu hening dan hanya ada seorang pelayan di konter. Di dapur, para staf lain yang melakukan persiapan untuk menutup restoran di bawah perintah Staf S yang berbadan kecil itu. kulihat Staf S yang bernama Kim Ryeowook itu mengayunkan langkah kakinya ke ruang istirahat tempatku dan Donghae berada, sepertinya. Seketika aku menjauhankan tubuh dari pintu dan berdiri tak jauh dari Donghae.

Ketika terdengar suara langkah kaki mendekat, refleks aku berkata, “Uwah.. Dia datang.”. betapa bodohnya aku berteriak dengan suara yang sedikit keras. Kulirik Donghae, dan ternyata benar saja teriakanku membangunkannya.

Pintu yang terbuka menimbulkan bunyi, ceklek! Bunyi itu menarik perhatian Donghae.

Entah apa yang membuat Kim Ryowook datang ke sini, tapi dia berdiri di depan pintu masuk dengan ekspresi bingung. Dia melihat sekeliling ruangan yang sama sekali tidak luas. Sikapnya seperti waspada terhadap sesuatu.

Tak lama, dia memberi tahu Donghae jika restoran sudah ditutup dan meminta untuk di cek.

“Gawat, apa aku tidur begitu lama?” Donghae bergumam dengan wajah yang sepertinya cemas karena tertidur begitu lama. Tapi kurasa tak masalah. Toh, itu karena memang dia sedang sakit. Dan kulihat jam dinding, ternyata sudah pukul 12.35 dini hari.

Donghae menanyai tentang semua urusan penutupan restoran, dan itu semua sudah dibereskan dibawah panduan Staf S, Kim Ryeowook. Wah, untuk restoran dengan tingkat penjualan yang tinggi dan pekerjaan yang begitu kompleks, Staf Kim bisa menyelesaikannya tanpa ada masalah. Wah, biarpun dia berbadan kecil, dia bisa diandalkan juga. Aku berjalan meninggalkan mereka berdua berbicara tentang restoran. Kakiku terhenti di depan dapur dekat ruang istirahat tadi. Aku duduk sejenak untuk meregangkan tubuhku yang tadi juga sempat tertidur. Kulihat mereka berdua mulai keluar dan lewat didepanku. Tanpa mempedulikan mereka aku menguap dan melirik sedikit kepada mereka. Tak sengaja aku mencuri dengar.

“Oh, apa ada orang di tempat istirahat tadi?” Staf S itu menjawab jika tidak ada siapa-siapa.

“Pada saat bangun tidur, sepertinya aku mendengar suara staf laki-laki di ruang istirahat.”

“Mungkin hanya mimpi.”

“Ah, ya. Mungkin memang mimpi.” Aku berjalan di belakang mereka dengan mendengar semua percakapan mereka. Hanya percakapan biasa yang menurutku tidak penting. Tapi ada satu poin penting yang kudapatkan. Para pegawai lainnya menyuruh Donghae pulang dengan taksi karena kondisinya yang sedang tidak baik. Sempat tejadi penolakan dari Donghae, tapi saat mereka berdua sudah ada dengan pegawai lainnya, mereka memaksa Donghae untuk lebih baik tidak mengemudi dengan kondisi seperti itu.

Dan tanpa adanya pilihan lain, Donghae setuju, dan menunggu panggilan taksi datang. Wah, mereka rekan kerja yang baik. Setidaknya itu yang kutangkap walaupun mereka sedari tadi menanyai Donghae perihal kecelakaanku.

Hari yang panjang ini berakhir dengan aku yang menumpang taksi. Gratis. Duduk disamping Lee Donghae yang sedang terkantuk-kantuk dengan buliran keringat di dahinya. Tubuhnya begitu panas hingga terasa olehku yang ada di sampingnya.

Sopir taksi selalu memanfaatkan penumpang ketika sedang tertidur untuk bisa melesat dengan mulus di jalanan yang kosong. Kulihat spidometernya menunjukkan kecepatan 80 km/jam. Lebih tinggi 30 km/jam dari batas kecepatan maksimal. Dengan begini, hitungan argometer pun juga melesat cukup tinggi.

“Ya! Tidak bisa seperti itu!” aku bersuara dengan nada marah.

Meskipun aku tahu hanya sedikit uang yang tersisa di tangan sang sopir, tetap saja aku merasa marah jika membayangkan uang hasil kerja kerasku melambung tinggi dalam waktu tiga puluh menit saja.

“Huh? Apa?” Donghae yang mendengar suaraku menoleh kan wajah untuk memandang sesaat, tapi dia segera kembali menutup matanya.

Apa ini? Apa ini hanya perasaanku saja? Mata kami tadi sempat bertemu sepersekian detik.

Bonus Track

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s