Berawal dari Pesan di Sebuah Grup Line


Ehem.. ehem…

Saya kembali lagi! setelah beberapa waktu sibuk dengan tugas yang indah nan kucintai. Baru beberapa minggu masuk tapi rasanya deadline sudah menjadi momok yang menghantui lagi. setelah tiga bulan menjanda tanpa tugas-tugas itu, kini hari-hari saya sudah di warnai dengan rentetan tugas yang mengantri. Kuis, menulis, membaca, merangkum, presentasi, dan kawan-kawannya. Padahal cuma sebatas tugas biasa, tapi entah kenapa tidak ada titik akhirnya T.T  kan saya syedih jadinya. Mau nulis ff juga jadi terkendala. Males lah, gak ada waktu, sibuk lah, dan bla bla bla. Sampai sekarang saya jadi punya hutang di ffn dan wp ini. hiks.

Ini edisi curhat malam jumat saat sedang tak ada tanggungan. Bukan curhat biasa yang ringan- ringan. Tapi curhat yang berbeda, yang agak berbobot dikit. Woooo, sejak kapan jadi pemikir yang serius? o,o jangan salah, saya ini orang yang serius loh. Iya, serius kalau lagi ngefangirl. apasi

Jadi begini, saya tidak tahu memulainya dari mana .-. tapi saya mau cerita sekenanya saja :v

Pagi-pagi buta di hari kamis di mana saya harus masuk jam 7 pagi, saya menerima pesan di grup line. Dengan tingkat kesadaran yang masih setengah sadar, saya mulai membaca satu per satu kalimatnya.

capture

Kalimatnya lumayan panjang. Di situ tertulis tentang kisah dan latar belakang singkat bapak penjual koran di kampus saya. sekilas saya terbayang wajah bapak-bapak yang biasa saya temui di gazebo perpus ataupun di gedung fakultas saya. Bapak yang dituliskan di kalimat itu ternyata memang bapak-bapak yang biasa saya temui. Setelah sekian lama, saya baru tahu nama bapak penjual koran ini. Cara menawarkan korannya itu unik, kesannya friendly, lucu, engga maksa. Pernah loh saya pas lagi duduk-duduk di gazebo perpus, ada mbak-mbak yang jualan kue itu jualannya kaya maksa. Pertama kalinya saya kaget, kirain gitu mau di palak #plak oke ini yang namanya sekenanya. Wkwkwkw. Oke, balik lagi ke Pak Yoseph, bapak penjual koran kampus UB.

Saat saya membacanya dengan seksama untuk kedua kalinya, saya sedikit menyesal. Bukan menyesal karena telah membacanya. Tapi menyesal dengan jaman yang kian berubah ini.

Saya banyak mendapatkan teori tentang kehidupan itu yang dinamik, budaya yang dinamik, asimilisai, alkulturasi, multikurtur, pandangan hidup, dan ilmu yang berhubungan dengan kehidupan sosial lainnya. Walaupun saya basicnya kuliah bahasa asing, tapi saya juga mempelajari hal-hal seperti itu.

Pak Yoseph kalau tidak salah jualan koran dari tahun 2013, katanya penjualannya lumayan bagus di kampus dari pada di lampu merah. Tahun 2013 itu saya masih di bangku SMA. Jaman itu, belum ada yang namanya android yang mewabah. Jaman itu masih mewabah ponsel touchscreen. Pertama kalinya saya punya ponsel touchscreen samsung lupa tipe.

Iya, jaman itu belum berkembang sepesat sekarang, sekarang semua serba teknologi, kalau kata salah satu dosen saya sih, interaksi antara manusia dengan gadget. Interaksi sosialnya menjadi berkurang, bahkan pertukaran budaya bisa saja terjadi tanpa batas, hanya terbatas sejauh mana manusia itu menyentuh budaya asing.

Hemmmmmmmmm~

Saking berkembangnya jaman, lama kelamaan penjualan koran Pak Yoseph semakin menurun. Artikel yang biasa dicari dari koran, sekarang sudah bisa dicari di portal berita online.

Kadang saya berpikiran, berkembangnya teknologi kenapa semakin menghimpit kehidupan masyarakat menengah kebawah. Saya sendiri saja merasakannya. Saya cuma anak kuliahan yng menggunakan uang negara. Maklum saja, kadang ketika menilik ke keadaan rumah tangga orang tua dan orang sekitar, menyesakkan dada saya. Ada seseorang yang pernah cerita ke saya, beliau itu hidup sudah bertahun-tahun dengan berganti-ganti lubang. Ya, seperti gali lubang, tutup lubang. Beliau mengeluh ke saya, kapan hidupnya akan terlepas dari lubang-lubang itu. Saya cuma bisa tersenyum menanggapi, saya hanya anak kuliahan biasa yang masih tergantung pada orang tua. Saya belum bisa cari uang sendiri.

Seperti kata Pak Yoseph (di video kalau tidak salah, bisa cek di sini), sekarang sudah jamannya android-android-an, media cetak seperti koran, majalah, buku, seperti bisa kita genggam dalam satu kepalan tangan.

Iya, kan? Sudah ada android  di tangan kita, mau mencari materi kuliah, tugas, artikel, sampai mengartikan kosakata asing pun bisa akses. Tapi saya sendiri kurang suka seperti itu. Saya lebih suka merangkumnya dari buku, mencoret-coret catatan di buku pegangan. Saya akan berpikir dua kali saat akan membeli buku refrensi. Dari pada buat beli buku yang cuma sekali di baca, lebih baik pinjem terus disalin di rumah. Mungkin cari refrensi dari internet itu akan menjadi pilihan terakhir saya saat sulit menemukan bukunya. Jadi alurnya seperti ini: pinjam perpus, dirangkum, kalau tidak ada, cari di internet, di salin. Tidak bermaksud pamer, sayang.

Sejauh ini, buku rangkuman atau catatan saya cuma satu setiap semester. Kenapa? Alasan pertama, hemat. Kedua, saya malas bawa banyak buku. Iya. Kalau harus bawa banyak buku, banyak fotokopian, itu ribet, berat. Jadi saya menjadikan buku catatan itu sebagai android ketinggalan jaman saya, selain android yang kekinian yang saya punya.

Menyalin, merangkum, itu sudah satu proses memasukkan materi ke memori otak kita. Lebih tahan lama daya ingatnya dari pada membaca saja. Kata salah satu dosen favorite saya.

Dosen favorite saya itu sering bercerita tentang pengalaman hidupnya. Beliau hidup di jaman yang sangat berbeda dengan saya. Di saat beliau kuliah, belum ada yang namanya android seperti sekarang ini. sangat berbanding terbalik bukan dengan jaman kita yang semua sudah serba instan. Tinggal ketik, cari, muncul banyak refrensi. Sedangkan dulu, mungkin kita harus membaca lembar demi lembar sub bab nya baru dapat.

Bercermin dari itu, saya memperkuat tekat saya, kenapa saya tidak tetap belajar dengan menggunakan metode seperti itu dengan tetap berdampingan dengan berkembangnya jaman.

Tapi setiap orang itu beda-beda. Oke, ini faktanya. Ketika saya belajar dengan mencatat dan kemudian membacanya untuk memasukkannya ke dalam memori otak saya, seorang teman saya akan belajar dengan hanya membacanya dan itu terekam dengan baik di memori otaknya. Ini membuat saya frustasi. Tanpa menulisnya saya akan mudah lupa. Tapi, cara ada banyak, dan saya telah memilih dan nyaman dengan cara itu, jadi mau apa lagi.

Etto, ini memang cerita yang sekenanya. Saya cuma menuliskan yang kebetulan lewat. Heol~

Setelah tadi membicarakan bapak penjual koran di kampus UB, terus ke masalah android, terus ekonomi, sampai ke masalah belajar, sekarang mau cerita yang engga jauh dari kemajuan teknologi lagi.

Dulu, pertama kali saya mengenal hp (ponsel) itu ketika saya di bangku SD, kelas 6 kalau engga 5 mungkin ya. Jaman itu masih bentuk yang gede-gede, engga tipis-tipis kaya sekarang. Terus masih layar warna kuning sama abu-abu. Brand nya aja masih yang nenek moyang. Nokia misal. Jaman segitu, sebelum saya tahu apa itu hp, ponsel, android, java, dan istilah berkenaan lainnya, saya masih suka main lari-lari dilapangan, main bola, blusukan di ladang tetangga, slulup (bahasa jawanya menyelam, berenang) di sungai. Setelah mengenal istilah-istilah tadi secara bertahap, saya merasakan adanya perubahan yang signifikan *uwooo bahasanya*.

Dulu mau main itu, ya tinggal main aja kerumah temen. Kalau engga ada pulang lagi ke rumah. Tapi tiba-tiba pas ditengah jalan mau balik, eh ada temen ngajakin main. Yah, belok dulu sebentar buat main. Kata sebentar itu ternyata sudah sampai sore banget, alhasil pulang dimarahin gara-gara pulang telat, jadi engga belajar ngaji di TPQ. Itu saya dulu.

Udah kenal sama hp dan kawan-kawannya, kalau mau main telfon dulu, sms dulu. Tapi pas lagi kumpul ternyata sibuk sama hp-nya masing-masing. Alhasil jadi jarang main karena yang diobrolin selalu hal yang sama. Mulai kecanduan sama hp jadi engga pernah main, kerjaannya jadi main game terus, sibuk sama hp yang ada di genggaman tangan. Seiring berjalannya waktu, saya jadi merasa jadi makhluk anti sosial. Males keluar, males main.

Mulai masuk jaman kuliah, dua tahun lalu kurang lebih, saya mulai membatasi diri dengan barang yang namanya hp. Ya biarpun engga bisa dipungkiri saya memang membutuhkannya untuk ada disamping saya. *nasib jomblo ehh*

Oke, itu masalah saya sama ponsel saya. waks. Ponsel.

Ponsel sekarang sudah berkembang, os nya android, makin canggih, makin pintar. Mungkin bisa saja ponselnya lebih pintar dari yang punya. Ehhhhhhh, jangannnn.

Smartphone ini ternyata juga bisa jadi sumber masalah keluarga. Iya, saya mengamati keadaan di sekitar saya, banyak anak yang jadi hikikomori (penyendiri di kamar, gak punya kerjaan, pengangguran). Orang tua yang kesannya tidak tahu bagaimana pengoperasian smartphone hanya bisa melihat anaknya yang semakin menjauh darinya. Hey bung, bapak ibu kita itu juga perlu kita sayang, jangan sayang sama smartphone saja. belum bisa cari duit (bagi yang belum bisa cari duit ya), tapi lebih sayang  ke smartphonenya. Ya Allah, betapa kreteknya hati bapak ibu mu itu, nak, yang banting tulang mencari uang untuk kita. Yang sudah bisa beli smartphone mahal berjuta-juta sendiri, masa tega menciptakan jarak sama orang tua yang sudah ngerumat (mengasuh) kita dari duluuuu sekali.

Saya suka mengelus dada sendiri saat saya jadi tempat curhat para orang tua. Ya kan saya sudah cukup dewasa untuk mengerti masalah-masalah keluarga seperti itu. Kadang saya suka kasihan sama anak jaman sekarang, seberapa kenal kamu sama orang tuamu dari pada sama temen-temen mu di sekolah, temen-temen chatting, temen-temen di dunia mayamu?, untuk kamu yang lebih memilih menghabiskan waktu sama  teman-teman lewat smartphone dari pada ngobrol sama orang tua lewat smartphone.

Ada juga, seseorang anak yang seorang pelajar yang baik, berprestasi, marah, mendiamkan orang tuanya selama berhari-hari, cuma gara-gara minta smartphone. Ya Allah, saya dulu terbiasa hidup biasa, pas-pasan, saya engga berani menekan orang tua sama keinginan saya sendiri. Kalaupun saya ingin sesuatu, saya harus nabung dulu, berbulan-bulan, baru nanti kurangnya engga banyak banget di tambahin uangnya sama bapak ibu. Saya ngempet dulu selama berbulan-bulan, engga beli apa-apa, beli seperlunya, sisanya dikumpulin. Itu cara saya dan barangkali mungkin temen-temen lainnya, buat beli apa yang diinginkan.

Cukup, saya lelah menuliskan unek-unek, curhatan, kata bijak, emosi saya. masih banyak yang berkeliaran di otak saya, tapi kalau saya teruskan mungkin akan jadi beribu-ribu kalimat, atau bahkan lebih. Ini hampir 2k, nisa buat dijadikan drabble wkwkw, tapi kepanjangan. mungkin cocok oneshot. wkwkwk. sudah sudah.

Yang saya ingin sampaikan, jangan bergantung pada kemajuan jaman. Modernisasi itu memang pasti, tidak bisa kita pungkiri. Toh semakin lama, kita semakin terkait dengan modernisasi itu. tapi apa salahnya ketika menengok sedikit kebawah, modernisasi juga bisa membawa keburukan bagi mereka yang tidak siap, baik secara ekonomi, mental, dll. Modernisasi itu boleh kita manfaatkan secara optimal, tapi jangan lupa dengan sekitarmu, kadang tanpa sadar, ketika kita menjawab kepada seseorang, dan itu dalam keadaan kita sedang sibuk dengan smartphone kita, mungkin saja kita sudah melukai orang itu. Jangan menjadi orang yang egois, jangan menjadi orang yang acuh, teknologi semakin baik, jaman semakin berkembang, kenapa kita juga tidak? Kita yang semakin baik dan optimal dalam segala hal dengan didukungnya teknologi tadi. Dan kita juga yang semakin berkembang. Teknologi saja bisa berkembang ke arah positif, kenapa kita tidak?

 

 

“Pak Yoseph Pedagang Koran Keliling Univ. Brawijaya Malang
Halo #OrangBaik, beliau adalah Bapak Yoseph seorang penjual koran keliling yang beroperasi di Kampus Brawijaya Malang. Jika kamu mahasiswa UB pasti sudah sangat familiar dengan beliau.
Pak Yoseph sudah lama berjualan di kampus Brawijaya, beliau yang dulunya karyawan marketing namun di PHK memilih berjualan kampus karena dia merasa lebih aman dan jujur dibandingkan ketika dia berjualan di jalan atau lampu merah. Beberapa waktu lalu, Pak Yoseph merupakan pahlawan mahasiswa yang memerlukan koran atau artikel untuk keperluan tugas dan makalah. Hal ini memberikan pendapatan bagi Pak Yoseph untuk mencukupi kehidupannya dan keluarga. Namun, teknologi yang terus berkembang membuat berita dan artikel lebih mudah di akses dan kini pendapatan Pak Yoseph terus menurun karena semakin sedikitnya peminat bacaan koran. Padahal Pak Yoseph masih harus menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak agar kelak memiliki masa depan yang baik. Pak Yoseph punya mimpi bahwa beliau tidak akan berjualan koran hingga hari tuanya. Kelak beliau ingin memiliki warung kelontong yang dapat menjadi sumber mata pencaharian baru abgi kelaurganya. Beliau pun berkata apabila tercapai akan mengembangkan terus warung tersebut agar dapat menjadi toko besar untuk menghidupi keluarganya. Hai #OrangBaik mari bantu Pak Yoseph untuk wujudkan mimpi warung kelontongnya, karena hidup akan lebih baik apabila kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Mari berikan donasi kalian di
kitabisa.com/koranpakyoseph
youtube: https://www.youtube.com/watch?v=J5dFfOfRaMU
Ada banyak #OrangBaik disekitar kalian, Percayalah! ” (Ridha Mutiara) sc di bawah:

jhuiy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s