Bonus Track – Chapter 2 (Haehyuk Fiction)


Bonus Track

Original Novel by Koshigaya Osamu

Remake by Mee

Cast: Lee Donghae – Lee Hyukjae, etc.

Lenght: Chapter

Rating: T

Genre(s): Humor maybe (?), sedikit misteri, Friendship, Fantasy, Horror tapi agak engga (?)

.

Chapter 2

Kelihatannya nasibku memang sial.

Aku kembali menyadari kenyataan itu sesaat setelah aku tertabrak mobil.

Namaku Lee Hyukjae. Kesialanku selama hidupku sudah tak terhitung lagi. Mungkin kedengarannya seperti lelucon, tapi terlalu sering itu terjadi padaku. Terlalu sering terjadi sampai aku hanya bisa tertawa. Di tempat parkir sepeda kampus, aku pernah menemukan roda sepedaku  telah tercerai-berai, mungkin dicabik-cabik oleh seseorang yang bodoh, entah siapa. Memang ada sekitar dua puluh sepeda yang menjadi korbannya, jadi bukan hanya sepedaku yang menjadi korban.

Aku lahir di daerah pinggiran dekat kota Seoul. Begitu aku lahir di daerah tersebut, kurasa aku sudah kena sial. Sekeliling kompleks rumah, entah kenapa mereka berwatak keras. Salah sedikit, kepalan tanganlah yang melayang. Tak jarang mereka membentuk kurumunan untuk saling meneriaki. Mereka saling berteriak seperti dunia hanya milik mereka sendiri. Aku yang masih kecil, hanya bisa bersembunyi di balik jendela kamar sambil menatap aksi aneh itu. Aku tumbuh di daerah itu dengan rasa takut. Aku jadi pucat sendiri setiap kali berpikir bahwa aku harus terlibat dalam kerumunan. Setiap kali melihat kerumunan. Aksi brutal ang terekam dalam otakku kembali berputar. Dari pada aku membayangkan akan terlibat dalam aksi saling berteriak, mendorong, atau pun sejenisnya, lebih baik aku berada di rumah dan menyusun pramodel Gundam.

Tak jarang jika lingkungan SD dan SMP pun juga seperti itu. Di dalam kelas, setidaknya ada seorang yang berjalan dengan gaya sok-sokan, padahal baru berusia sepuluh tahun. Jika sudah diincar oleh anak seperti itu, bisa-bisa aku harus menjalani masa muda yang kelam sampai aku lulus. Untuk bertahan dalam lingkungan dengan tempramen tinggi seperti itu, aku yang tidak memiliki kekuatan fisik ini harus mempersenjatai diri dengan kemampuan yang disebut ‘menjilati-orang-yang-senang-dipuji’. Intinya, nasibku itu sungguh sial.

Sejak aku kecil, aku terus memikirkan cara keluar dari kehidupan yang penuh kebrutalan ini. Jawaban yang kutemukan dari hasil berpikir itu adalah ‘belajar, lalu masuk Universitas Seoul’. Setidaknya itu yang menjadi mimpiku saat itu.

Karena alasan ini dan itu, saat aku memasuki tingkat 2 SMA, aku mulai belajar dengan cukup serius. Namun, akhirnya aku gagal masuk Universitas Seoul dan terpeleset ke universitas kelas dua setengah –level yang tidak tinggi, juga tidak rendah– di Seoul. Nasibku memang sial. Untuk masuk ke universitas idamanku saja juga tidak bisa. Ah, ralat, kali ini memang kemampuanku saja yang hanya sebatas itu.

Sebenarnya, aku ingin menganggur setahun demi menyembuhkan depresiku sebagai si lemah yang hidup di lingkungan yang-kuat-memakan-yang-lemah.

Aku membayangkan kehidupan kampus yang penuh kebebasan dan bergaya. Namun, karena masa krisis moneter pada keluargaku, orang tuaku tidak memiliki uang lebih untuk bisa mebiayai anak lelaki pengangguran. Kelihatannya bukan Cuma tempat lahir saja yang salah, aku juga lahir di masa yang salah.

Namun, aku sudah harus berterima kasih kepada mereka, karena sudah mau membiayai kuliahku. Di sekitarku, tidak sedikit anak yang memiliki kemampuan akademis tapi harus berhenti karena keadaan ekonomi keluarga. Dibandingkan dengan mereka, aku masih diberi kesempatan untuk merasakan tinggal sendiri di sebuah apartemen dua lantai yang sudah tua.

Apartemen itu bisa di tempuh dalam waktu 35 menit dari stasiun kereta dan tujuh menit dari halte bus dengan berjalan kaki. Hanya saja, tempat itu sungguh mudah transportasinya, seperti bus yang lewat setiap satu setengah jam sekali. Di sekitar bangunan tempat tinggalku itu tidak ada bangunan lain. Katakan padaku, kemana perginya kehidupan kampus yang penuh gaya di ibu kota Seoul?

Jika ditanya, mengapa didirikan bangunan tua ini di kawasan yang tampaknya tidak ada seorang pun yang menyewakan lahan, itu karena jarak tempat itu dengan kampus hanyalah lima menit saja dengan sepeda. Karena itu, aku sering bersantai naik sepeda saat berangkat ke kampus selama satu tahun ini.

Hanya satu itu saja yang membuat bangunan ini digemari. Nenek pemilik bangunan ini selalu mengatakan, “Berkat mahasiswa, tidak ada lagi kamar yang kosong lagi. Aku jadi bisa foya-foya.”, rasanya aku ingin protes saat mendengarnya. Jika begitu, seharusnya nenek bisa mengganti tempat tidurnya!

‘kampus’ yang aku sebutkan di sini hanya kampus kelas dua setengah. Baik mahasiswa maupun dosen sama-sama tidak memiliki gairah. Baik cuaca panas ataupun dingin, tempat ini sepertinya akan mengeluarkan bau busuk. Kesempatan untuk kencan buta pun hampir tidak ada. Meskipun ada, pasangannya juga hanya perempuan dari universitas kelas dua setengah. Sama sekali tidak ada sisi menariknya.

Tempat ini tidak cocok disebut dengan kampus. Jika mau terus terang, mungkin tempat ini lebih pantas disebut dengan kata standar saja: sekolah. Hal-hal yang bisa diasosiasikan dengan kata ‘kampus’ seperti ‘menyegarkan’, ‘intelek’, dan ‘senyuman yang bersinar’ serupa suasana di California sama sekali tidak bisa ditemukan di sini.

Lagi pula, dengan adanya Setan Pengoyak Roda Sepeda di kampus saja sudah cukup membuat kita berpikir, tempat macam apa ini, hah?!. Aku memang tidak tahu siapa pelakunya, tapi mungkin ada selusin orang yang pantas untuk aku curigai karena mereka memiliki mata gelap yang aneh. Aku ingin bertanya, “apa benar ini universitas?”. Memang bertanya-tanya seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Namun, paling tidak, tolong jangan buat aku merasa kalah sebelum berperang.

Sekarang, setelah selesai memukul jatuh kehormatan unversitasku, izinkan aku kembali pada perkenalan diriku. Di kampus seperti itu, aku baru bisa naik ke tingkat dua dengan nilai standar. Tidak baik, namun juga tidak buruk. Jadi, aku tidak bisa mengeluh. Berulang kali aku harus mengandalkan keluwesanku berinteraksi dengan teman-teman yang lain untuk meminjam catatan mereka dan menjalani ujian dengan baik.

Ada kalanya aku berpikir di tengah malam, bagaimana masa depanku nanti. Hal ini sering kali membuatku susah untuk tidur. Naifnya aku ini.

Akan tetapi! Pada hari ini, 9 Juni pukul 2 lewat 20 menit dini hari. Kekhawatiran tentang masa depan pun lenyap.

Kenapa?

Karena aku meninggal.

Oh, tidak! Akhirnya, klimaks nasib sialku ada di sini. Ternyata memang benar, keluar tengah malam saat hujan hujan deras itu salah.

Namun, justru pada malam-malam seperti inilah, jauh di dalam tubuh para lelaki terdapat sesuatu yang bergejolak. Mungkin kiasannya adalah ‘semangat tempur yang membara’. Lelaki kebanyakan dibuat gelisah dengan hal-hal seperti itu.

Semangat tempur bukan kata yang tepat. Sebenarnya ada ungkapan yang lebih tepat untuk menyebutkannya, tapi aku akan berhati-hati dan menghindari ungkapan tersebut. Karena meskipun aku bodoh, aku bukan orang yang vulgar. Tolong garis bawahi, bukan orang yang vulgar.

Jika semangat tempur itu tidak diredakan, aku tidak akan bisa tidur. Di dompetku terselip kartu anggota rental video, juga uang hasil kerja sambilan yang baru saja aku terima. Apakah ada, pemuda yang ketika kedua syarat ini sudah terkumpul, tapi tetap tidak berbuat apa-apa?

Karena sepedaku belum diperbaiki, aku memutuskan untuk berjalan kaki sambil membawa payung plastik. Rental video terdekat pun harus ditempuh selama tiga puluh menit dengan berjalan kaki. Pulang-pergi membutuhkan waktu satu jam, namun, ada kalanya lelaki memang harus berjalan kaki.

Akhirnya, aku keluar dari apartemen dengan penuh semangat. Ketika aku sudah berjalan kira-kira sepuluh menit, aku ditabrak oleh mobil sialan itu.

Jalanan malam tiba-tiba disoroti lampu mobil. Namun, ketika aku baru saja sadar bahwa ada mobil di belakang, semuanya sudah terlambat. Tanpa mengerti apa yang sedang terjadi, tubuhku  berputar di udara entah dua atau tiga kali kemudian, terpelintir dengan rumitnya, dan akhirnya menghantam permukaan tanah dengan punggung terlebih dahulu. Aku kaget luar biasa, tapi ajaibnya, tidak terasa sakit sama sekali. Hanya saja, aku mulai panik. Bola mata saja tak bisa kugerakkan.

“Brumbrumbrum…” terdengar suara knalpot yang berat dari tempat yang tidak begitu jauh. Jika dilihat dari posisiku yang menengadah, mobil itu ada di sebelah kanan. Mobil yang menabrakku segera berhenti. Namun, jangankan memutar leher, bola mata pun tidak bisa kugerakkan sehingga aku tidak bisa melihat seperti apa mobil itu.

Sebenarnya aku ingin membentak, “Oi, sialan! Kau apakan aku, hah?!” dan membuang sikap bersahabatku yang biasanya. Namun, badanku tidak mau bergerak. Jika seperti ini, bisa-bisa aku meninggal di sini jika tidak segera dibawa ke rumah sakit dengan ambulans. Sayangnya yang bisa membantuku hanyalah orang brengsek yang menabrakku tadi.

Tampaknya orang itu sedikit membuka kaca jendelanya. Aku bisa mendengar suara musik yang temponya bukan main cepatnya. Aku pernah mendengar lagu ini di suatu tempat, tapi lagu ini sudah di-remix sehingga temponya menjadi sangat cepat. Menurut tebakkanku, ini pasti ‘lagu-lagu hits Ultra-sesuatu-Remix’, mungkin seperti itu.

“Hei, kau! Jangan main-main!” aku yang sedang menengadah melihat awan hujan yang tergantung rendah di langit malam, mencaci musuhku itu. Namun sejujurnya, dalam hati aku percaya pada akhirnya dia akan datang menolong, jadi aku terus menunggu pertolongannya.

Aku bisa merasakan orang yang menabrakku menahan napas diiringi dengan alunan musik bagaikan banjir bandang. Dia menilik ke arahku. Namun, tetap tidak ada perkembangan yang lebih dari itu.

Tak lama kemudian, suara musiknya mengecil. Oh, jendela mobilnya ditutup ternyata. Saat aku berpikir, Jika begitu cepat matikan mesinmu dan lekas tolong aku.

Namun, dia masih tetap tidak keluar. Dasar sialan! Aku merasakan firasat buruk. Seketika terbesit dalam pikiranku, apakah dia mau kabur? Dan, si brengsek itu sudah kabur.

‘Splash!’ Air terciprat dengan hebatnya ketika mobil itu melaju dengan kencang.

“Brengsek! Sialan!”

Aku marah besar, semarah-marahnya. Kata-kata itu seolah keluar bersamaan dengan raungan amarah yang membuatku berdiri seperti yang ada di komik-komik. Lampu belakang mobil yang berwarna merah itu menjauh dengan kecepatan tinggi.

Selama dua puluh tahun dalam hidupku, aku tidak pernah sekali pun membayangkan akan ditabrak lari. Setiap kali berita mengenai kasus tabrak lari dimuat di televisi dan koran, orang-orang termasuk diriku, selalu menunjukkan rasa simpati sembari mengatakan, “Tidak bisa dibiarkan!”. Namun, semua itu hanyalah basa-basi. Toh kejadiannya terjadi pada orang lain. Menu makan malamku lebih butuh perhatian dibandingkan dengan tragedi yang dialami entah-siapa. Selama ini aku hidup seperti itu.

Tapi,

Aku tidak mengira tabrak lari bisa jadi hal yang menjengkelkan seperti ini.

Ngomong-ngomong, aku ditabrak. Aku berputar di udara sebanyak dua setengah kali, terjatuh, dan tidak bisa bengkit dalam kondisi badan menengadah. Padahal aku  hanya ingin keluar sebentar untuk mendapat benda yang bisa meredakan ‘semangat tempur’ku, tapi kenapa aku malah mengalami kejadian seperti ini? Apa alasan aku harus ditabrak olehmu? Lalu, apa alasanmu menelantarkanku dan kabur begitu saja?

Aku marah hingga gigiku bergemertak. Bersamaan dengan itu, pandanganku terus mengantar kepergian mobil si penabrak yang lebih rendah dari anjing. Segera setelah itu, aku berteriak dengan nada bodoh, “astaga!”

Di bawah kakiku ada aku.

Aku mengenakan kaus yang sama, juga celana jins yang sama. Wajahku pucat dengan mataku yang seperti tidak memiliki kekuatan sama sekali.

“Aku tewas!”

Aku berteriak sekali lagi. Mungkin butuh sedikit penjelasan untuk kondisi mentalku saat ini. Memang aku mengatakan, “aku tewas!”. Namun, yang meninggal itu aku yang satu lagi, yang tergeletak di jalanan. Aku yang sekarang sedang memandangnya, merasa bahwa aku hidup seperti biasa. Karena terlalu kaget, aku masih belum bisa memahami bahwa tubuhku sudah tak bernyawa, lalu arwahnya keluar dari tubuh.

Selain itu, aku yang telah meninggal ini merasa masih hidup, memikirkan cara entah bagaimana untuk membuat aku yang satu lagi bangkit. Aku yang berpikiran seperti itu langsung diliputi rasa panik. Namun, lihat saja, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika aku tidak berdaya, datang sebuah mobil kecil berwarna biru yang berhenti dengan cepat dengan rem yang berdecit memekakan telinga.

Mungkinkah ini sekoci penyelamatku?

Mobil yang melintas itu berhenti, mesinnya masih menyala. Atau dia akan kabur juga? Namun tak lama pintu pengemudi terbuka, keluarlah seorang lelaki yang sepertinya seorang pegawai kantoran. Umurnya sekitar pertengahan kepala dua. Mungkin lebih dibilang pertengahan akhir kepala dua karena tidak mungkin umurnya tiga puluh tahun lebih.

Lelaki itu mendekatiku dengan langkah kaki yang tersandung-sandung. Dia memandang diriku yang satu lagi yang sudah meninggal dan mengatakan sesuatu. Akan tetapi, entah kenapa aku tidak bisa mendengarnya.

“Hei! Tunggu sebentar!”

Tanpa menjawab perkataanku, lelaki itu terus berkomat-kamit seperti film bisu sambil berusaha memanggilku.

Apa karena kaget sampai-sampai dia tidak bisa bersuara? Atau memang dia orang yang kepalanya tidak beres?

“Permisi, aku ada di sini. Di sini. Kau tidak melihatnya?”

Aku yang diabaikan merasa kesal dan kembali berkata dengan meninggikan suaraku. Meskipun begitu, lelaki itu tidak merespons kata-kataku. Segelap-gelapnya malam, seharusnya dia bisa melihatku yang berada di hadapannya.

Kemudian lelaki itu berjongkok, meraih tanganku dan memeriksa nadi diriku yang satu lagi yang telah meninggal (karena membingungkan, untuk selanjutnya mari kita sebut aku yang tergelatak itu sebagai ‘Aku B’). Suaranya memang tidak terdengar, tapi kelihatannya dia paham dengan apa yang sedang terjadi di sini.

“Benar! Ini parah sekali. Bisa tolong periksa aku sebentar?”

Aku mencondongkan badan ke arah depan, lalu memperhatikan lelaki yang memeriksa nadiku. Namun sepertinya tidak ada hasilnya. Lelaki itu pun berputar ke arah berlawanan dan langsung menempelkan telinganya di dada Aku B.

Selama sang lelaki mendengarkan baik-baik suara jantungku, aku menutup mulut rapat-rapat. Sebenarnya tidak perlu. Toh, meski aku berbicara dia tidak akan bisa mendengarnya. Namun, melihat raut wajah serius orang itu, perasaanku pun ikut terbawa sehingga membuatku tercekat.

Lelaki itu mengerutkan keningnya. Tampaknya dia sedang berkonsentrasi penuh pada saraf telinganya agar bisa mendengarkan detak jantungku. Maaf ya, aku merepotkanmu. Aku berterima kasih padanya dalam hati.

Sesaat kemudian lelaki itu terlonjak bangun dan menatapku dengan wajah yang sangat serius.

“Hei, bagaimana? Bagaimana?”

Aku berpikir, mungkin Aku B sudah hidup kembali. Karena itu aku membungkukkan badan dan melihat keadaan Aku B. Namun, Aku B yang sialan itu justru tidak bergerak sejentik pun.

Kini aku mulai khawatir. Aku menatap wajah lelaki itu, mengharapkan pertolongan.

Lelaki itu memandangku dengan wajah seperti ingin menangis, tapi juga seperti sedang marah. Sungguh ekspresi wajah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Maaf, apa Anda bisa memanggil ambulans segera?”

Karena aku panik, aku tetap berbicara pada lelaki itu meskipun aku tahu kalau dia tidak bisa mendengarku.

Dan ternyata benar, dia tidak menjawabku. Namun, sekejap kemudian lelaki itu berteriak sambil tetap menatap ke arah Aku B.

Suara lelaki itu memang tidak terdengar, tapi karena dia melakukannya dengan tiba-tiba, hal itu membuatku takut dan mundur beberapa langkah.

Lelaki itu kembali berteriak. Dilihat dari keadaannya, lelaki itu bukannya marah-marah pada Aku B, tapi sepertinya dia justru marah pada dirinya sendiri. Mungkin bisa dibilang gerutuan yang sangat berlebihan dan kentara.

Kemudian, lelaki itu kembali berekspresi dengan raut wajah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata tadi, lalu memandang Aku B dengan seksama. Kemudian, setelah sesaat terlihat raut wajah lelaki itu melakukan sesuatu yang terlampau ekstrem.

Tiba-tiba dia merengkuh wajah Aku B, meneriakkan sesuatu, lalu…

Cup!

Dia menciumku.

“Hei! Hentikan! Hentikan!”

Aku segera menyergap kepala lelaki itu dengan kedua tanganku agar dia terlepas dari badan Aku B. Akan tetapi…

“Astaga!”

Aku berteriak seperti orang bodoh. Kedua tanganku menembus kepala lelaki itu, melewati tulang tengkoraknya. Kedua lengan hingga ujung tanganku hilang ke dalam rambutnya yang basah. Memangnya bisa hal sepert ini terjadi?

Aku segera menarik tanganku, lalu memicingkan mata dan memeriksa tanganku.

Tangan itu berlumur darah. Dan isi kepala sang lelaki… untungnya tidak begitu. Syukurlah, tanganku hanya dibasahi oleh air hujan, itu saja. Aneh, padahal tanganku masuk begitu dalam ke kepalanya, tapi tidak ada bekasnya sama sekali.

Di kepala lelaki itu, tidak terdapat lubang karena tanganku tadi. Lelaki yang kepalaya kutembus itu seolah-olah tidak merasakan sama sekali. Padahal kepalamya ditembus. Dia hanya mengangkat wajah sesekali, mengabil napas, lalu kembali membungkuk. Sepertinya dia melakukan itu bukan karena nafsu, melainkan karena sedang melakukan napas buatan untuk menyelamatkan nyawaku. Maaf aku mencurigaimu.

Aku yang sedang memandangi sosokku sendiri yang bibirnya tengah direnggut oleh lelaki tak dikenal dengan tatapan tak percaya, mulai berpikir bahwa semua ini sangatlah janggal.

Aku mengerti bahwa Aku B yang ada di sana itu dalam keadaan tak bernyawa, atau mendekati kondisi itu. Jika begitu aku yang melihat Aku B itu apa?

Hantu?

Wajar jika bulu kudukku berdiri. Aku berusaha untuk menyangkal hal itu, tapi bukti yang mengacu ke arah sana sangatlah banyak, membuatku sulit menyangkalnya.

Aku tak bisa terlihat dan terdengar oleh orang lain. Dan lagi, aku tidak bisa mendengar suara orang lain. Jika aku bermaksud menyentuh orang lain, tanganku hanya akan menembusnya. Hantu, arwah gentayangan, makhluk halus, setan, entah apa namanya, yang jelas aku telah menjadi sejenis dengan itu, bukan? Bukti yang paling jelas adalah di bawah kakiku terbaring badanku.

Tema ‘setelah meninggal aku akan menjadi apa?’ adalah tema yang jauh lebih tak terpikirkan olehku dibandingkan dengan kemungkinan bertemu kasus tabrak lari. Banyak orang yang bilang, setelah meninggal akan ada lingkaran di kepala kita, kemudian kita akan pergi ke surga. Aku sadar bahwa kematian pasti akan datang, tapi kupikir itu adalah kisah masa depan yang masih sangat jauh. Lagi pula, aku bahkan masih belum bisa membayangkan diriku menjadi penerima uang pensiun yang keriput bagaimana aku bisa tahu apa yang akan terjadi setelah aku meninggal.

Dulu aku percaya bahwa orang yang sudah meninggal, hanya akan sampai titik itu saja. Sesuatu yang bernama arwah itu tidak ada dan yang namanya perasaan itu tidak lebih dari sekedar kinerja otak. Aku bahkan sempat berpikir, apa mungkin perasaan itu bisa dihitung dengan angka?

Lalu bagaimana tentang posisiku sekarang ini?

Bukankah seperti hantu? Karena aku yang keberadaannya menjadi transparan seperti udara ini bisa melihat diriku yang lain seperti cangkang kosong.

Aku merasa sedang melihat mimpi buruk. Untuk berjaga-jaga, sebaiknya aku coba untuk menyentuh lelaki itu sekali lagi.

Aku putuskan untuk menyentuh punggungnya, karena melihat kepala yang ditembus tangan itu agak menjinjikkan.

Aku menepukkan telapak tangankku yang terbuka tepat ke punggung lelaki yang tengah berjongkok melakukan teknik napas buatan.

Tidak terasa apapun. Tanganku menghilang ke dalam badan lelaki itu.

“Uwaaa!”

Lenganku terus saja melesak, tapi tidak ada perlawanan sama sekali. Tanganku terus saja menembus badan lelaki itu tanpa kusadari.

Tanganku terhenti ketika menyentuh aspal yang dingin dan basah karena hujan. Aku tenggelam dalam tubuh sang lelaki hingga ke pundaknya, tidak tahu harus berbuat apa.

Bagaimana ini bisa terjadi? Aku sudah meninggal, tapi aku masih memiliki kesadaran. Kupikir, setelah aku meninggal itu hanya ketiadaan. Mayatnya akan dibakar, menjadi abu, tamat. Itulah yang kupercayai selama ini. Aku masih belum percaya, ternyata memang ada dunia setelah kematian.

Katakan, aku yang tidak menjadi ketiadaan juga tidak pergi ke ‘dunia sana’ ini harus berbuat apa sekarang? Apa aku harus bergentayangan di sekitar sini? Sampai kapan? Apa kehidupan setelah kematian itu ada akhirnya?

Jangan bilang jika hal ini abadi. Aku tidak menghilang, tidak juga naik ke surga, dan terus begini hingga masa-masa yang akan datang. Jika harus seperti ini terus, bisa dibilang hal ini lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.

Aku yang tergerak oleh kata-kataku sendiri, yaitu ‘abadi’, memikirkan hal yang sangat bodoh: mungkin saja aku bisa hidup kembali jika aku masuk ke cangkang kosongku. Aku benar-benar mencoba untuk tidur di atas ragaku, tapi segera keluar lagi. Kenapa? Karena sekarang ada orang yang sedang melakukan napas buatan.

“Uwahhhh!”

Aku terperanjat dan langsung mengusap bibirku. Ughh!

Lelaki itu terus bertarung habis-habisan untuk melakukan napas buatan dan menekan jantungku tanpa tahu bahwa aku sudah meninggal. Dengan satu telapak tangan yang menggenggam punggung tangan yang satunya, dia menekan bagian dada ragaku dengan penuh kekuatan. Bisa-bisa tulang rusukku patah jika seperti itu.

Meski ragaku itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan kembali bergerak, lelaki itu tetap saja setengah mati berulang-ulang melakukan napas buatan dan menekan-nekan dadaku. Aku yang membungkuk melihat hal itu, semakin lama makin merasa tidak enak padanya.

“Maaf, ya.”

Aku tahu bahwa suaraku tidak akan terdengar, tapi aku tetap berbicara pada lelaki itu. entah mengapa hatiku ingin meminta maaf atas tenaganya yang kusia-siakan.

Dengan posisi jongkok gaya preman, aku terus mengamati lelaki itu dari jarak yang sangat dekat. Sangat dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas matanya yang bening. Sedetik aku terpaku dengan mata itu.

Jas yang dipakai lelaki itu mungkin berwarna biru tua. Rambut yang tadinya sudah disisir rapi, kini basah dan lepek karena hujan. Napasnya terengah karena dia mati-matian memberikan napas buatan untukku. Namun, tampaknya dirinya sendiri tidak peduli akan hal itu.

Aku merasa sangat berterima kasih. Dia sekuat tenaga menyelamatkanku, padahal dia sama sekali tidak mengenalku. Kurasa aku jatuh hati padanya, jika aku wanita.

Hanya saja, karena terlalu bersemangat, sesaat ketika lelaki itu menjauhkan bibirnya, dari mulutnya menetes air liur. Ketika melihat hal itu, rasa terima kasihku menghilang dengan cepat.

“Sialan… apa itu?”

Rasanya aku ingin menangis. Aku tahu betul bahwa niatnya baik untuk menolongku. Nmun, rasanya tak tertahankan saja saat melihat ada lelaki tak dikenal yang kebetulan lewat mencium cangkangku dengan amat dalam. Selain itu, keadaan ini sangat mirip dengan sebuah adegan yang kulihat sebelunya dalam kumpulan video yang dapat meredakan ‘semangat tempur’.

Tiba-tiba saja lelaki itu terperanjat ke belakang, pantatnya sampai terjatuh ke aspal. Sambil terus menatap wajah cangkang kosongku, dia memasang wajah ingin menangis lalu berulang kali meneriakkan sesuatu.

Akhirnya, dia sadar jika tindakannya itu tidak wajar. Namun, sepertinya dia berteriak bukan karena hal itu. saat aku mengikuti arah pandanganya, ya ampun, dari ragaku keluar darah dengan sangat derasnya.

Pasti bagian belakang kepalaku terbentur, karena tadi aku terbanting ke tanah dengan bagian punggung terlebih dahulu. Jika memang begitu, berarti sudah sejak tadi darahnya mengalir. Hanya saja, tidak ada yang menyadarinya karena hujan.

Gawat. Aku tidak bisa hidup kembali.

Melihat banyak darah yang keluar, aku meyakinkan diriku untuk terakhir kalinya. Jika hanya melihat badanku yang tergeletak di jalan, sulit sekali mempercayai kenyataan bahwa aku meninggal. Namun, aliran darah itu memberi bukti kuat untuk membuat orang percaya.

“Wahh… aku benar-benar tewas.”

Aku komat-kamit dalam posisi jongkok. Seharusnya aku mengalami shock hebat. Tentu saja, aku MENINGGAL. Entah kenapa, anehnya ku merasa tenang-tenang saja. Entah lelah, entah hampa, aku diselimuti oleh keterpurukan seperti itu. Untuk merasakan perasaan yang tidak karuan saja aku tidak bisa. Singkat cerita, aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa aku meninggal.

Di sisi lain, lelaki itu mulai membuat keributan besar.

Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu meraung berulang-ulang. Mungkin dia sedang menghubungi polisi. Aku bangkit lalu memperhatikan gerakan mulutnya untuk menangkap isi percakapannya.

Mungkin karena hujan yang berisik, dia menutup lubang telinganya dengan jari, lalu dengan berapi-api terus berbicara tanpa henti. Dia lalu mengerutkan alisnya, berulang kali melihat-lihat ke sekitar sambil terus berbicara dengan orang yang ada di seberang telepon.

“Jalan protokol nomor 16…’

Tiba-tiba suara lelaki itu terdengar di telingaku. Bercampur dengan suara hujan, suaranya terdengar lirih, tapi sudah pasti itu tadi suaranya.

“Ada orang yang meninggal!”

Lalu terdengar lagi lebih jelas. Oh, apa artinya ini? suara lelaki itu terdengar! Itu berarti…

Berarti apa?

Tidak tahu. Namun, aku bersyukur bisa mendengar suaranya. Karena itu, aku bisa mengetahui bahwa lelaki ini sebenarnya bisa bicara.

Namun, bukan berarti seluruh pembicaraan lelaki itu terdengar. Rasanya bagaikan telinga ini dilempari kepingan-kepingan kata. Jika aku menyimak baik-baik, kata yang sering muncul adalah kata ‘mayat’ atau ‘kabur’. Rasanya seperti mikrofon yang rusak. Suara pembicara terdengar putus-putus.

Semakin di dengar, bagian yang tidak terdengar semakin sedikit, suara lelaki itu pun semakin jelas terdengar. Dalam pembicaraannya, dia banyak sekali menyebut kata ‘mobil patroli’ atau polisi.

Ini berarti sekarang adalah giliranku. Aku harus berbicara kepada lelaki yang menelpon itu.

“Ehm, maaf.”

Di luar dugaan, tidak ada respons sama sekali dari lelaki itu. aku berpikir keras, kenapa hal ini terjadi. Namun, jawabannya sangat sederhana. Yaitu, karena dia sedang menutup telinganya.

Setelah dia selesai melapor, dia mengitari dan menghindar dari mayatku dengan hati-hati. Dia menuju mobil dengan tangkas seperti orang kabur.

Ketika menelpon tadi, dikatakan bahwa dia harus tetap di sini sampai mobil patroli datang. Namun, aku tidak tahu kapan hatinya akan berubah. Aku buru-buru menghadap punggung lelaki itu dan memanggilnya.

“Oooiiiii…!”

Lelaki itu menghentikan langkahnya seketika. Sepertinya suaraku terdengar.

Meski lelaki itu sudah cukup jauh terpisah dari tempatku, dia perlahan menoleh dan wajahnya diselimuti ketakutan. Walau dalam kegelapan, itu semua tak terlewat olehku.

Lelaki itu memutar mata yang tadi sedikit membuatku kagum. Rasa takut terukir dalam bola mata itu. Sepertinya dia telah salah mengira bahwa yang mengajak bicara adalah mayatku. Salahku memang. Hmm.

Dengan keadaan gugup, lelaki itu berbicara padaku.

“A… apa kau mengatakan sesuatu?”

“Iya, aku yang berbicara!” aku ingin sekali menjawab seperti itu. Namun, aku berhati-hati untuk tidak mengatakannya kali ini. Jika aku menjawab sembarangan, bisa jadi lelaki itu pingsan. Lelaki itu terlihat sangat ketakutan, hingga hal seperti itu bisa saja terjadi.

Yang terpenting adalah aku sudah tahu bahwa suaraku bisa didengar lelaki itu. Bagus. Percakapan yang sebenarnya, akan kulakukan setelah dia tenang. Seolah akan kabur, lelaki itu memasuki mobilnya dan tidak keluar lagi.

Aku mengejarnya sampai tepat di samping tempat duduk pengemudi, lalu aku melihat-lihat keadaan di dalam mobil. Dia menggenggam setir mobilnya dengan posisi seperti jarum jam yang menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit yang sempurna.

Alasan dia masuk ke dalam mobil adalah untuk berteduh dari hujan besar mungkin. Tapi setelah melihat tingkahnya, mungkin lebih tepat jika dibilang ‘mengurung diri’.

Cukup lama lelaki itu berdiam diri. Mungkin dia tidak bisa melihatku karena tidak menyadari keberadaanku yang berdiri tepat di sebelahnya ini. Untuk mengetesnya aku coba menjulurkan tanganku ke atas kap mobilnya dan melambai. Bukannya melihatku, dia justru membuka pintu mobilnya, tapi sedetik kemudian ditutup kembali. Apa maksudnya, huh? Mau menghampiriku tapi pura-pura tidak melihat dan takut? Apa dia benar-benar takut?

Aku mencoba mengetuk kaca mobilnya pelan-pelan.

Tok, tok. Tok, tok.

Aku mengetuk dua kali. Responsnya nihil. Suaraku bisa terdengar, tapi bunyi ketukan tangan tidak bisa. Sungguh aneh.

Ketika aku masih berpikir mengapa bisa seperti itu, lelaki itu tiba-tiba menggerakkan persnelingnya dan melepas rem tangan mobilnya. Mobil itu pun maju dengan perlahan di tengah hujan.

Ciiiiiiit.

Aku yang hampir tertabrak segera menghindar dengan panik.

Sial. Ternyata dia akan kabur.

Akan tetapi mobil itu justru melaju ke jalur jalan yang lain. Mobil berhenti lalu mundur dengan sangat hati-hati. Aku tidak tahu apa sebenarnya maksud dari semua itu, tapi dia menghentikan mobilnya kira-kira di tempat yang sama dengan posisi tadi. Hanya saja, sekarang dia berada di jalur satunya.

Aku merasa tenang ketika dia tidak mencoba untuk kabur, tapi aku tidak boleh lengah. Dilihat dari tingkahnya yang ketakutan, kemungkinan besar dia akan kabur saat ada kesempatan sedikit saja.

Dia tidak boleh kabur sekarang karena dia adalah orang pertama yang melihat kejadian itu. Lagi pula, dia satu-satunya saksi. Aku harus bagaimana Jika aku sampai dicampakan oleh Hyungnim yang satu ini? Jangan bercanda. Apa iya aku harus berdiri di sini, di tengah gelapnya jalanan malam, sendirian, menunggu polisi, memberi kesaksian? Memangnya polisi bisa mendengar suaraku?

Memang ini hanya akan merepotkan dia saja, tapi tidak ada cara lain, bukan? Aku akan menahan lelaki itu supaya tidak kabur, setidaknya sampai polisi datang. Jika dia menunjukkan gerak-gerik seperti ingin kabur, aku akan bicara padanya dan meyakinkannya walaupun itu akan membuatnya sangat panik. Itu adalah pilihan terakhirku.

Untuk mengikuti lelaki itu, pertama-tama aku harus masuk ke mobilnya. Jika tidak, tidak akan ada artinya. Jika aku hanya berdiri di luar dan lelaki itu melesatkan mobilnya, tamatlah sudah. Mana mungkin aku harus berlari mengejarnya. Selain itu, aku juga ingin berteduh dari hujan.

Hanya saja, ketika aku melihat lelaki tadi memasuki mobilnya, lampu dalam mobilnya menyala dan segera padam saat pintu itu kembali tertutup. Itu artinya, jika pintunya dibuka, pasti lampunya menyala. Aku akan tertangkap basah nanti. Tujuanku bukan untuk mengejutkan lelaki ini. Sebisa mungkin aku ingin menghindari kekacauan yang tidak perlu. Cara yang terbaik adalah masuk tanpa membuka pintu. Sayangnya, walau aku hantu, aku tidak bisa menembus benda mati.

Belum selesai aku memikirkan tentang hal itu, tiba-tiba saja lampu ruangan dalam mobil menyala.  Lelaki itu sendiri yang menyalakan. Lucky! Aku menuju pintu kiri belakang, dengan waspada, segera bergegas masuk ke dalam mobil dengan buru-buru dan hati-hati. Takut-takut dia menyadari ada ‘seseorang’ yang menyelinap ke dalam mobilnya.

‘Klak!’ tepat saat pintu kututup, lampu ruangan mobil ini segera padam. Wah, sama dengan adegan ‘membuka pintu’ tadi. Dia membuka pintunya tapi diurungkan. Syukurlah aku segera masuk. Jika tidak, entahlah.

Aku takut lelaki itu akan menyadari bunyi pintu yang baru saja kututup itu. Tapi sayangnya, dia tidak sadar sama sekali. Harusnya mobil ini juga agak bergoyang saat ada seorang lelaki dewasa yang menaikinya. Namun, kalau merasakan goyangan tiba-tiba pada mobil yang sedang berhenti padahal tidak ada yang menyentuhnya, siapapun akan kaget, bukan? Anehnya…

Inikah yang dinamakan menjadi hantu? Entah kenapa rasanya sedikit aneh. Mungkin bagi lelaki itu keberadaanku ini hanyalah sebatas ‘terdengar suaranya tapi tak terlihat wujudnya’. Karena itu, dia tetap tidak menyadari keberadaanku walau kami berada pada jarak, di mana hanya dengan mengulurkan tangan saja bisa mencapainya.

Bau rokok melekat di ruangan sempit ini. Aku mengawasi keadaan dalam mobil. Menemukan sebuah id card yang kurasa adalah milik lelaki ini. Aku melihatnya dengan seksama. Terpampang wajah tampan lelaki yang ada di depanku ini. Benar. Ini miliknya.

‘Lee Donghae’

Nama itu terpatri dalam otakku. Sepintas aku merasa iri padanya. Seandainya aku tidak mengalami hal ini, apa aku juga bisa seperti dia kelak? Segera kuhapuskan pikiran yang lewat tanpa izin itu.

“Hai~!” aku berkata sambil tersenyum kepadanya, kemudian melambaikan tangan layaknya orang Amerika, tapi pandangan kami tidak bertemu. Ayolah, sadari keberadaanku ini!

Harus kusebut apa perasaan aneh ini? Aku memang berada di dunia nyata, tapi aku merasa melihat semua ini dari layar monitor. Padahal aku melakukan sesuatu padanya, tapi dia sama sekali tidak menyadari hal itu. Seolah semua orang mengabaikanku. Aku mulai tidak suka dengan ini.

Lelaki yang sedari tadi membisu, kini mulai bergumam.

“Ini jadi masalah besar…”

“Benar sekali itu.”

Ups, aku kelepasan menimpalinya.

Lelaki itu tersentak bagaikan terkena sengatan listrik. Oh, tidak. Aku lupa jika suaraku bisa terdengar. Jika aku terus kelepasan, ceritanya akan menjadi rumit. Untuk sementara, aku akan diam saja. Baiklah.

.

.

Bonus Track

.

.

“Maaf, benar-benar maaf. Tapi karena saya melihat secara langsung kejadiannya jadi.. tapi, itu… karena ketika saya mendekat mobil itu langsung kabur. Mohon maaf sekali. Jika saja saya tahu akan terjadi hal seperti ini, pasti saya akan memperhatikan dengan seksama plat nomor mobilnya”

.

“Bukan begitu, kami tidak bermaksud menyalahkan Anda.”

.

“Berdasarkan autopsi dokter, korban meninggal seketika jika dilihat dari keadaan mayatnya. Malang sekali pemuda itu.”

.

Kurasa polisi mencurigai Lee Donghae sebagai pelaku yang sebenarnya.

.

Donghae yang mendengar suaraku menoleh kan wajah untuk memandang sesaat, tapi dia segera kembali menutup matanya.

.

Bonus Track

 

Gomawoooo~ keep support haehyuk & uri ajusi u,u

Saranghae elf~~~

 

Advertisements

3 thoughts on “Bonus Track – Chapter 2 (Haehyuk Fiction)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s