Bonus Track – Chapter 1


Bonus Track

Original Novel by Koshigaya Osamu

Remake by Mee

Cast: Lee Donghae – Lee Hyukjae, etc.

Lenght: Chapter

Rating: T

Genre(s): Humor maybe (?), sedikit misteri, Friendship, Fantasy, Horror tapi agak engga (?)

.

 

Chapter 1

 

Gerimis yang mulai turun sejak tadi sore berubah deras seiring bergantinya hari.

Butir-butir air hujan tak henti-hentinya menghantam kaca depan mobil. Wiper mengusap terpaan hujan dari kaca depan mobil tanpa jeda.

Dengan enggan, pemuda tampan bernama Lee Donghae menjalankan mobilnya sambil memandangi hujan deras itu. Tujuannya adalah rumahnya, sebuah apartemen tipe studio. Saat ini, Donghae baru saja pulang kerja.

Terkadang rasa kantuk menyerang. Saat dia merasa mengantuk, Donghae akan menggeleng-gelengkan kepalanya dan berbicara sendiri dengan suara yang cukup keras sampai dapat terdengar dari luar mobil. Baginya, berbicara sendiri di dalam mobil ketika pulang kerja adalah salah satu cara untuk mengusir rasa kantuknya, sekaligus penghilang rasa stres yang bertumpuk akibat beban pekerjaan.

Malam itu, Donghae terus-menerus berbicara sendirian. Saat sedang menyetir, biasanya dia melontarkan kalimat-kalimat singkat, misalnya, menimpali siaran info lalu lintas di radio “Oh,  begitu ya.” Atau mengumpat kasar “Bahaya, dasar bodoh!” pada mobil yang memaksa menyalip. Namun, terkadang dia pun melontarkan kata-kata ngawur, seperti: “Bukan, bukan! Itu hanya salah paham!”. Dan menurut analisisnya sendiri, semakin banyak stres yang menumpuk pada dirinya, kicauannya akan semakin tidak karuan.

Malam ini belum seberapa, dia bisa lebih parah dari ini. padahal dia sedang tidak mabuk, tapi dia tiba-tiba bernyanyi asal-asalan, “Umbabbaa… umbabbaa… ubaubauba…” saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Pokoknya, kalau dia tidak mengeluarkan suara-suara seperti itu, otaknya bisa berasap karena berbagai masalah yang dia hadapi selama seharian penuh. Karena itu, Donghae bernyanyi untuk mengalihkan suasana hatinya. Mungkin seorang lelaki dewasa yang bernyanyi dengan kata-kata dan melodi yang ngawur bisa dibilang sangat aneh. Namun, kalau hal itu dilakukan di jalanan yang sepi pada malam hari, sepertinya biasa saja. Toh tidak akan ada yang mendengar.

Tapi, jangan salah sangka. Saat dia sedang bekerja, Donghae sama sekali tidak bernyanyi atau berbicara sendirian seperti itu. Dia tak punya tenaga lebih untuk berbicara sendiri atau berceloteh ngawur karena kepalanya dipenuhi oleh pekerjaan, serta harus melawan rasa lemas dan lesu akibat bangun tidur.

Selagi suara hujan dari luar mobil dan ocehan Donghae silih berganti saling menimpali, speaker mobil mengalunkan siaran radio FM. Siaran itu tengah memutarkan lagu terbaru yang menjadi hits akhir-akhir ini. Namun, sepertinya Donghae tidak tertarik. Bukannya dia tidak tertarik sama sekali dengan musik, tapi semenjak dia bekerja, Donghae bahkan hampir tidak pernah lagi mendengarkan musik. Di rumah tempat asalnya, tumpukan koleksi CD dia biarkan tergeletak begitu saja. Hanya saja, ya itu tadi, semenjak pemuda ini mulai bekerja, jangankan mendengar koleksi CD, menyentuhnya saja sudah tidak pernah lagi.

Donghae lulus dari universitas sekitar dua tahun yang lalu. Pekerjaannya sebagai pegawai kantor masih tergolong sebentar. Oleh karena itu, waktu luang yang diberikan kepadanya sangat sedikit. Setelah pulang ke rumah atau saat libur pun, yang bisa Donghae lakukan hanyalah mencuci baju dan tidur. Karena itu, dia sama sekali tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal yang kurang produktif seperti mendengarkan musik.

Walau demikian, saat zaman kuliah kuliah dulu –kesannya lama sekali, padahal dia baru saja lulus– Donghae beberapa kali pergi ke konser musik. Selama lima tahun (dari persiapan masuk kuliah dan selama menjadi mahasiswa), koleksi CD musiknya mungkin lebih dari ratusan  keping. Itu belum termasuk  yang dia pinjam dari teman dan yang dia pinjam dari penyewaan CD. Namun, bukan berarti dia hanya terpaku pada musik saja. Donghae bisa menulis kata ‘menonton olahraga’ dengan penuh percaya diri pada kolom ‘hobi’ di daftar riwayat hidupnya. Hanya menonton sih, tidak melakukannya.

Layaknya mahasiswa biasa, dia juga memainkan game setiap hari. Terkadang dia juga bolos kuliah untuk menonton film murah di bioskop saat ada obral tiket. Selain itu, Donghae bekerja sambilan tiga kali seminggu. Dia sangat sering memanfaatkan liburan musim panas untuk pergi bersama teman kampusnya atau teman di tempat kerja sambilannya. Kalau dipikir-pikir, kapan Donghae memiliki waktu untuk belajar?  Baginya, yang terpenting adalah dia bisa lulus dari universitas. Meskipun sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bersenang-senang, tapi bisa dibilang dia puas, karena dia melakukan berbagai macam kegiatan yang di sukainya.  Ya, begitulah kira-kira masa kuliah seorang Lee Donghae.

Masa kuliahnya adalah masa lalunya. Segalanya berubah dalam sekejap saat dia mulai bekerja. Perusahaan tempat Donghae bekerja merupakan pengembang industri hamburger yang sangat ternama. Hanya menyebut namanya saja pasti semua orang akan mengetahui secara langsung.

Saat masih mencari pekerjaan, banyak yang berkata bahwa  pekerjaan di perusahaan hamburger itu sangat sulit. Namun, Donghae yakin bahwa yang namanya pekerjaan semuanya juga keras. Dengan rasa senang karena membayangkan kalau dia tidak perlu melamar-lamar lagi, tanpa pikir panjang Donghae memutuskan untuk masuk ke perusahaan itu setelah mendapat pemberitahuan bahwa dia diterima. Namun, setelah itu Donghae berpikir bahwa keputusannya itu sangat bodoh. Sama seperti para korban kapal karam yang terdampar di atas sekoci yang merasa kehausan, lalu meminum air laut yang asin untuk menghilangkan dahaga.

Jam kerjanya bukan main. Sekitar 10 jam sehari. Jika sibuk seperti hari Sabtu-Minggu, bisa-bisa mencapai dua belas jam atau seharian penuh.  Gajinya tetap, tidak ada tambahan untuk jam lembur. Mereka yang berkata bahwa uang lembur akan dibayar, semua itu hanya basa-basi semata.

Deskripsi pekerjaannya sendiri sudah jelas, ‘membuat dan memasarkan makanan, seperti hamburger’. Walaupun Donghae adalah pegawai tetap, dia tidak bisa duduk diam di dalam kantor administrasi restoran. Dia harus berkeliling selama tujuh sampai delapan jam sehari di restoran untuk mengawasi para pekerja paruh waktu. Berkeliling, memutar otak, menaruh perhatian pada setiap sudut restoran. Hal itu mengakibatkan semangat dan vitalitas Donghae seperti tersedot karena terus diforsir di tahun pertamanya.

Begitulah kehidupan sehari-seharinya sekarang. Setelah semua pekerjaan beres dan meninggalkan tempat kerja, seluruh jiwa dan raganya terasa lelah. Tidak terlalu parah juga sebenarnya. Namun, karena semua itu, Donghae menjadi tidak punya tenaga lagi utuk bereaksi terhadap lagu yang didengarnya. Semua itu hanya semata-mata untuk mengusir rasa kantuk  sewaktu menyetir.

Sepertinya hujan tidak akan segera berhenti. Jalanan yang dilewati Donghae adalah jalanan tua dan sempit yang bahkan tidak ada garis tengahnya. Tidak ada juga trotoar di sisi kanan dan kiri jalan itu. Dan memang tak ada orang yang mau berjalan di sana.

Di samping hamparan bunga liar yang seolah menyelimuti tanah di sisi kiri jalanan itu terdapat sebuah lereng, di sisi lereng tersebut mengalirlah sebuah sungai kecil. Jalan itu mengikuti bentuk sungai yang berkelok-kelok. Banyak mobil yang berpacu diatas 30 km/jam dari batas kecepatan maksimal, padahal jalanan ini sempit dan hanya bisa dilalui dua mobil jika mau bersusah payah. Terdapat peringatan yang di pasang di kedua sisi jalan untuk berhati-hati. Tapi sepertinya itu hanya sebuah tulisan lalu saja. Beberapa kali Donghae mendapati mobil yang knalpotnya dimodifikasi sampai suaranya berdebam hingga ke jantung, menggunakan seluruh jalur untuk melakukan atraksi out-in-out dengan gesitnya.

Donghae bisa dikatakan sebagai pengemudi yang baik dan bijak, tidak seperti pengemudi ugal-ugalan seperti itu. Sejak mobil dikirim oleh diler mobil, Donghae tidak pernah menambahkan aksesoris apapun pada mobil kecilnya itu. Dia juga tidak pernah membuat mobilnya menderu lebih kencang dari biasanya. Kecepatannya mobilnya juga ‘hanya’ sampai 10 km/jam di atas batas maksimal aturan lalu lintas. Donghae juga melambatkan laju mobilnya sebelum berbelok. Meskipun cara menyetir Donghae lebih cocok dibilang ‘gaya mengemudi orang yang tidak percaya diri’ dibandingkan dengan ‘gaya mengemudi orang dewasa yang elegan’, tapi, yah, tidak bisa dipungkiri bahwa hingga saat ini Donghae tidak pernah terlibat dalam kecelakaan dan tidak pernah melanggar peraturan lalu lintas.

Dari kaca spion dalam, terpantul dua buah titik cahaya. Cahaya itu menyorot dengan sangat menyilaukan, lalu mobil itu berusaha membuat mobil Donghae minggir. Tak lama kemudian, terdengar suara derum mobil yang mengintimidasi.

“Oke, oke! Aku tahu!”

Karena gugup, Donghae berbicara sendiri. Dia lalu menyalakan lampu hazard dan meminggirkan mobilnya ke tepi jalan.

Tanpa menunggu sampai mobil Donghae benar-benar berhenti, mobil yang ada di belakangnya itu pun melesat, menyalip dari samping mobil Donghae. Bahkan jarak kaca spion kedua mobil itu tidak sampai dua puluh senti. Jelas-jelas memprovokasi. Bahkan musik dance yang identik dengan mobil jenis ini pun terdengar dari jendelanya yang terbuka.

“Dasar bodoh! Kecelakan baru tahu rasa kau!”

Dengan wajah merengut, Donghae mengumpati mobil yang tampak semakin menjauh. Mobil tadi adalah sebuah mobil sport dengan badan mobil yang dimodifikasi menjadi lebih pendek, dan kaca belakangya yang dilapisi smoke film sehingga tidak terlihat jelas apa yang ada di dalamnya. Namun, bisa ditebak jika ada dua orang di dalamnya. Warna cat mobilnya hitam atau metalik gelap, Donghae tidak bisa melihatnya dengan jelas karena jalanan yang gelap. Plat mobilnya juga tidak terbaca karena dipasangi penutup warna ungu untuk mengelabui ORBIS (traffic enforcement camera. Dalam bahasa latin berarti mata. Alat patroli otomatis untuk mengidentifikasi mobil yang mengebut dengan sensor kecepatan dan kamera).

“Celakalah kau! Celaka dan matilah kau! Demi ketentraman dunia ini!”

Sambil melontarkan kata-kata tajam, Donghae kembali menjalankan mobilnya. Kata-katanya sangat bertolak belakang dengan gayanya menyetir. Ck.

Dadanya dipenuhi rasa kesal. Mobilnya terus menyusuri jalan sempit nan datar yang gelap karena hampir tidak ada lampu jalan di kedua sisinya.

Waktu telah menunjukkan lebih dari pukul dua malam. Selain mobil yang menyalip tadi, jangankan mobil lain dari arah berlawanan, tanda-tanda kehidupan saja tak ada. Sesekali Donghae mengalihkan lampu mobilnya menjadi lampu highbeam, lalu mematiskan apa yang ada di depan mobilnya.

Setahun setelah di terima di perusahaannya, Donghae dengan sesuka hati membeli sebuah mobil berukuran kecil untuk merayakan tepat satu tahun dia bekerja di perusahaan. Hal itu sekitar satu tahun lebih dua bulan yang lalu. Dengan 36 kali angsuran. Donghae meluncurkan mobil matic-nya itu di tengah terpaan hujan.

Bahan bakarnya irit. Dari eksteriornya yang nyaman dan ringkas, tidak terbayang ruang dalam mobilnya yang cukup luas. Badan mobilnya juga ramping, bahkan seorang tuan putri yang baru mendapat SIM kemarin saja pun bisa mengendarainya dengan mudah.  Apa lagi yang kurang? Sambil menggenggam kemudi, Donghae tersenyum pahit dan berbicara sendiri dalam hatinya. Mobil seperti ini yang paling nyaman.

Walau dia terus-terusan tersenyum, tapi tangannya tidak pernah beristirahat dan terus memegang kemudi. Kakinya terus mengendalikan pedal rem dan pedal gas berganti-ganti dengan perlahan. Jalanan ini merupakan jalanan yang biasa Donghae lalui, sehingga otak Donghae sudah hafal betul karakter jalan ini.

Jalanan sempit dan gelap ini sebentar lagi akan segera bertemu dengan jalan protokol. Dengan dua jalur yang seluruhnya diterangi cahaya lampu, tampak bagaikan dunia yang berbeda jika dibandingkan dengan jalanan tua yang mengikuti lekuk sungai ini. Jalan protokol itu mengelilingi pusat kota dengan panjang empat puluh kilometer. Pada jam-jam seperti ini pun lalu lintas kendaraan tidak kunjung berkurang, di sepanjang sisi jalan berbaris minimarket dan restoran keluarga yang buka 24 jam.

Jika berbelok ke kiri dari jalan protokol, sampailah pada bangunan tempat tinggal Donghae. Tinggal sebentar lagi.

BRAAAK!!

Pada malam yang sedang hujan ini, dari kejauhan terdengar bunyi keras yang tidak wajar. Bunyi yang berasal dari arah depan itu mirip dengan bunyi tembakan yang ada di film atau drama televisi. Namun, Donghae merasakan bunyi itu lebih berat dan bernada rendah.

Di pinggiran kota seperti ini, sangat tidak mungkin ada yang namanya bunyi tembakan.

Ah, hari Rabu ya, sebaiknya aku ke restoran sebentar, pikir Donghae mengalihkan perhatian.

Donghae beranggapan bahwa bunyi itu pasti bukan apa-apa. Belum sempat gaung bunyi itu lenyap, pikiran Donghae sudah dipenuhi hal-hal lainnya.

Dalam kepalanya, Donghae telah menjatuhkan pilihan pada restoran terdekat.

Setelah melewati tikungan S tajam, Donghae memikirkan apa yang akan dibelinya nanti, sepaket nasi yang lengkap dengan berbagai macam lauknya. Setelah tikungan itu, pinggiran sungai sudah dilapisi beton, sehingga bunga liarpun tidak tumbuh di atasnya dan membuat pemandangan jadi cukup lenggang.

Dalam kesunyian, mobil Donghae berbelok ke kiri mengikuti bentuk sungai. Saat tu terlihat dua titik cahaya merah sekitar empat ratus meter di depan mobil Donghae. Cahaya itu berkedip-kedip dalam kegelapan yang pekat. Dengan segera Donghae mengenali bahwa cahaya itu adalah lampu rem mobil.

“Hm?”

Donghae mencondongkan kepalanya. Dia tidak begitu yakin karena jalanan malam yang gelap, tapi mobil yang berhenti itu tampak seperti mobil berwarna gelap yang menyalipnya tadi.

“Wah, wah.. ada apa ini?”

Apa dia sedang menungguku? Pikir Donghae. Jangan-jangan saat menyalip tadi ada yang tidak mereka sukai, lalu sengaja menunggu dan mengagetkan dan meninggalkan kesan buruk.

“Ayolah, jangan ganggu aku!”

Lampu mobil yang menyala merah seolah memberi sugesti bahwa ada hal yang tidak menyenangkan yang akan segera terjadi. Di zaman sekarang ini, suara klakson saja bisa berlanjut ke kasus pembunuhan. Perasaan Donghae mulai tidak enak. Pikirannya yang sejak tadi melayang ke paket nasi dan lauk seolah-olah ditarik paksa kembali ke kenyataan. Daun telinga Donghae perlahan memanas.

Belakangan ini, banyak orang yang menyembunyikan pisau lipat atau pipa besi di dalam mobil. Dilihat dari cara mengemudikan mobil yang ugal-ugalan, tidak aneh kalau pengemudi mobil yang berhenti itu juga membawa benda-benda mematikan.

Donghae menurunkan kecepatan mobilnya jauh di bawah batas maksimal dan melaju di atas jalan dengan hati-hati. Kalau saja ada persimpangan jalan, Donghae  berniat menggunakannya untuk menghindar. Sayangnya, itu hanya kalau saja. Untuk berjaga-jaga, Donghae mengunci seluruh pintu mobil.

Terpikir pula untuk berhenti beberapa saat hingga mobil itu pergi. Namun, jarak antara kedua mobil itu kian menyempit hingga sekitar dua ratus meter saja. Kalau berhenti sekarang akan dikira memancing lawan, pikir Donghae. Akhirnya Donghae tetap menjalankan mobilnya dengan perlahan.

“Eh? Tunggu!” Donghae berbisik. “Apakah mogok?”

Perasaan Donghae yang tadinya dipenuhi awan gelap prasangka, kini sedikit cerah. Donghae tidak tahu apakah mobil itu mogok atau kehabisan bahan bakar. Namun, sepertinya mobil itu sedang mengalami kesulitan.

Kalau dipikir-pikir, sangatlah aneh untuk menunggu mobil Donghae setelah beberapa kilometer hanya untuk marah-marah. Kalau memang mogok, apakah sebaiknya dibantu? Atau ambil pilihan termudah saja: tidak usah dihiraukan dan terus melaju?

Dalam waktu singkat, Donghae memikirkan begitu banyak hal.

Sepertinya aku tidak perlu khawatir. Kalau ada yang sedang kesusahan sebaiknya ditolong bukan?

Selagi berpikir begitu, tiba-tiba potongan adegan peran antagonis dalam film-film mulai berterbangan dalam kepalanya. Niat baik yang dibalas dengan pukulan atau todongan pistol. Donghae sedikit gemetar memikirkan hal itu. Terdengar klasik. Namun, ‘klasik’ itu berarti, cara tersebut sangat ampuh untuk digunakan baik dulu ataupun sekarang.

Donghae tiba-tiba bergetar ketakutan. Kalau hanya di bioskop atau televisi tidak ada apa-apanya, tapi kalau kalau Donghae berada di posisi serupa di dunia nyata, tatapan aktor penjahat yang dipenuhi maksud kejam pun seolah menjadi kenyataan.

“Ah! Entahlah!”

Karena terlalu takut, Donghae sampai berbicara dengan nada yang agak tinggi untuk menenangkan dirinya sendiri, lalu ia pun menginjak pedal gas. Donghae menambah kecepatan mobilnya dengan mulus. Kini jaraknya dengan mobil berwarna gelap itu hanya tinggal seratus meter. Dekat sekali hingga Donghae bisa melihat pantulan lampu rem yang menyala merah.

Donghae sampai pada jarak di mana dia tidak bisa kabur atau bersembunyi lagi. Akhirnya dia memutuskan apa rencananya. Kalau memang sedang beruntung, Donghae bisa terus melaju seperti sekarang. Namun, Donghae akan berhenti hanya kalau si pengemudi meminta bantuan. Donghae sedikit membuka jendela mobilnya. Dia berpikir tidak apa-apa kalau hanya sekedar mencuri dengar apa yang sedang terjadi.

Donghae memantapkan hatinya. Dia menarik napas panjang dan siap untuk berhenti. Namun, belum usai dia menghela napas, tiba-tiba mobil itu melaju begitu saja.

“Hah?”

Mobil itu mempercepat lajunya dan menimbulkan percikan air.

“Oi, oi, oi!”

Dengan kecepatan penuh, mungkin 100 km/jam, mobil itu membelok ke tikungan dengan mulus. Mungkin akan lain cerita jika yang membelok itu Donghae. Kata mulus mungkin hanya sebuah angan saja.

Mobil itu menuju ke balik kerumunan bunga liar yang tumbuh tinggi sampai seperti pagar. Rumput yang lebat segera menelan cahaya merah lampu mobil itu. Bunyi knalpot yang menderu, semakin lama semakin melemah, lenyap tertelan suara hujan.

Donghae memperlambat laju mobilnya. Meregangkan otot lehernya. Mobil tadi pergi begitu saja, tidak ada masalah. Lalu muncullah gambaran dalam benak Donghae yang membuat dia paham.

“Oh, dia tadi sedang menelpon.” Ujarnya sok tahu.

“Yaampun, membuat orang khawatir saja.” ia hanya menduga-duga. Intinya, pengemudi itu menghentikan mobilnya sejenak hanya untuk melakukan hal yang susah dilakukan kalau dia sedang mengemudi. Seperti dirinya, yang juga berhenti menyetir ketika menerima telepon atau sejenisnya.

Donghae menghembuskan napas panjang dari hidungnya, kemudian mengendurkan otot tangan dan wajahnya. Raut wajahnya sangat tidak karuan. Perpaduan antara raut wajah seperti ingin tertawa dan raut wajah kesusahan.

Donghae malu dengan sifat penakutnya yang berlebih ini. Usianya sudah menginjak 26 tahun tapi ketakutan seperti anak anjing.

Donghae yang mencoba menyembunyikan rasa malunya, berdecak dan kembali mendesah.

Tak lama, Donghae melewati tempat di mana mobil berwarna gelap tadi berhenti.

Dari arah berlawanan, tiba-tiba tampak payung plastik dalam keadaan terbuka dan sesuatu yang mirip dengan mayat anjing menggelinding di jalanan.

Donghae mendadak menginjak pedal rem kira-kira lima belas meter setelah mobilnya melewati benda tadi.

Laju mobilnya tidak terlalu cepat. namun, tetap saja, mengerem mendadak seperti ini membuat pantat Donghae terangkat dari jok mobil.

“Apa itu benar anjing?”

Sudah tengah malam, hujan pula, jarak pandang memburuk. Walau hanya dalam waktu singkat, Donghae sadar bahwa sinar lampu mobilnya mengenai sesuatu.

Mobil Donghae telah berhenti sepenuhnya. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari gagang kemudi, Donghae menoleh lalu memicingkan mata ke arah kegelapan. Tepatnya ke arah sesuatu tadi.

Dia tidak memastikan apa sebenarnya hal yang dilihatnya tadi. Lelaki itu menganggap benda itu adalah seekor anjing karena tergeletak tak berdaya mirip anjing. Tapi, apa benar itu anjing? Jika iya, maka anjing itu berbadan cukup besar. Sepertinya panjangnya lebih dari satu meter.

Kalau bukan anjing, apa lagi yang bisa terpikirkan?

Kotak kardus? Gulungan selimut?

Seketika sebuah kemungkinan terngiyang dalam benaknya, “Apa mungkin…”.

Donghae ragu untuk melanjutkan kata-katanya meskipun ia hanya bergumam pada dirinya sendiri.

Dengan gugup Donghae mengintip dari kaca spion dalam. Jalanan itu tidak diterangi lampu sama sekali sehingga begitu gelap. Tentu saja, tak terlihat apapun. Namun, jika mata dikerahkan sekuat tenaga, akan terlihat cahaya lampu rem berwarna merah yang menerangi jalan juga sebagian dari jalanan yang sempit itu terlihat tak wajar.

Donghae tidak bisa melihat lebih banyak lagi dari kaca spion dalam yang kecil. Dia memutar bagian atas badannya, berbalik, dan memandang melalui jendela belakang.

Walau terlihat gelap dan sedang hujan, Donghae bisa memastikan ada sesuatu yang tergeletak membujur dan menghalangi bagian jalan arah berlawanan. Di depan benda itu terdapat payung transparan yang gagangnya menghadap ke atas, terayun perlahan.

Donghae kembali berbalik ke depan, lalu menutup rapat matanya.

Manusia.

Donghae sangat yakin. Ukurannya terlalu besar untuk seekor anjing. Lagi pula, mana ada anjing yang memakai celana jins?

“ini kecelakaan! Kecelakaan! Kecelakaan!”

Donghae terbawa oleh perkataannya sendiri dan langsung keluar dari mobil. Yang penting lihat dulu keadaannya! pikir Donghae yang kepalanya dipenuhi dorongan untuk menyelamatkan, sampai-sampai dia tidak memikirkan hal lain. Bahkan dia hampir lupa menarik rem dan melepas sabuk pengamanan. Donghae hanya berlari tanpa memikirkan apa akibatnya.

Jasnya basah kuyup akibat hujan yang begitu deras.  Baru terpikirkan oleh Donghae, dia bisa mencapai ke tempat itu dengan lebih cepat dan tidak perlu berhujan-hujanan kalau dia memundurkan mobilnya. Namun, sudah terlambat. Sekarang Donghae telah sampai tepat di sebelah sosok itu.

Donghae berdiri beberapa langkah di depan sosok itu. Dia tidak bisa melihat dengan jelas karena minimnya penerangan yang hanya berasal dari lampu rem mobil yang jaraknya sekitar sepuluh meter. Namun, Donghae meyakini satu hal yang memang benar, sosok itu memang manusia. Tubuhnya tergeletak dalam keadaan mata masih terbuka.

Hati Donghae bergejolak karena sampai detik ini Donghae belum pernah melihat mayat secara langsung sekalipun. Donghae terpaku sejenak. Donghae berpikir bahwa mungkin pemuda tu masih bernapas. Dia pun mencoba berbicara dengannya.

“permisi…” suaranya sangat gemetaran keluar dari tenggorokannya. “permisi, apa anda mendengar saya?”

Namun, yang terdengar hanyalah suara hujan berbalut kegelapan.

“anda kecelakaan? Ditabrak?” Donghae terus mencoba berbicara. Tapi dia seperti berbicara dengan sebuah boneka. Tak ada satupun jawaban. Namun, masih ada kemungkinan bahwa sosok itu masih hidup, hanya hilang kesadaran.

Perlahan, Donghae mendekati sosok itu dengan kaki yang gemetar. Dia berusaha berjongkok tanpa melihat wajah sang pemuda.

Donghae memeriksa denyut nadi sosok itu. Donghae menggenggam pergelangan tangan kanan pemuda itu. Tangan tidak bertenaga itu terasa berat dan sangat lunak. Masih tarasa rasa hangat pada tangan pemuda itu walau tubuhnya diguyur air hujan. Donghae memeriksa dengan seksama.

“SIAL!”

Donghae memuntahkan umpatan itu sembari melepaskan pergelangan tangan yang digenggamnya.  Denyut nadi yang seharusnya terasa di ujung jarinya, sama sekali tidak ada.

Biarpun begitu, Donghae tidak menyerah. Dia mundur dengan hati-hati lalu berputar ke sebelah kiri pemuda itu. Untuk memastikan detak jantung. Tapi hasilnya masih sama. Tidak terdengar apa-apa. Mungkin karena suara hujan, jadi aku tidak bisa mendengarnya, pikirnya.  Tapi setelah didengarkan selama dua puluh detik, jantung pemuda itu memang tidak berdetak sama sekali.

Tiba-tiba Donghae merasa pemuda yang terbujur itu seperti sedang menatap ke arahnya. Khayalan tak masuk akal melintas begitu saja. Donghae merasa lehernya kaku seketika. Dengan panik, Donghae berusaha memastikan khayalannya, tapi terlihat jelas bahwa pemuda itu menatap hampa dengan posisi yang sama seperti dengan ditemukan.

Donghae merasa dirinya mulai terbiasa dengan kegelapan, jadi dia bisa melihat dengan jelas raut wajah pemuda itu. Mungkin umurnya sekitar dua puluhan.

Pemuda itu terlihat seperti anak muda yang bisa dijumpai di mana-mana. Hanya saja matanya yang tanpa cahaya itu menyatakan bahwa dia telah menjadi mayat. Butiran hujan mengikuti lekuk permukaan bola matanya yang terbelalak, lalu menetes dari ujung mata, seperti sedang menangis.

“Bagaimana in?” Donghae bergumam dengan suara yang gemetar.

Mungkin kalau diberi napas buatan, pemuda ini akan bernapas kembali.

Secercah harapan muncul, pikirnya. Setidakanya aku pernah belajar sedikit tentang P3K waktu SMA. Namun….

“aku tidak mungkin bisa!”

Donghae tahu betul, dia tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk menempelkan mulutnya dengan mulut mayat itu. Dia bukanlah pahlawan penyelamat yang pemberani seperti di film-film. Jangankan menyelamatkan, membayangkan dia akan bertemu dengan situasi seperti ini pun tidak pernah.

Bagaimana kalau masih bisa tertolong? Jika dia bimbang seperti ini, nyawa yang seharusnya bisa tertolong akan melayang begitu saja.

Masih dalam keadaan berlutut, Donghae menatap wajah pemuda itu sekali lagi. umurnya kira-kira lima tahun lebih muda dari Donghae. Raut wajahnya tidak terlihat kesakitan. Dia seperti orang yang sedang tersesat dan kehilangan arah.

Tidak ada tanda-tanda mobil lain yang melintas. Sepertinya Donghae harus menghadapi hal ini sendirian.

Donghae mengernyitkan wajahnya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah korban. Mungkin ini sudah terlambat, tapi ini bukan saatnya untuk berdiam diri. Setidaknya sekarang, dia harus memberi napas buatan.

Donghae mendongakkan dahi dan dagu korban dengan kedua tangannya yang gemetar. Sambil menahan keinginan untuk kabur, Donghae menggertakkan giginya kuat-kuat. Dia meluruskan leher korban untuk memastikan adanya jalan udara.

“Sialan! Baiklah akan kulakukan!”

Donghae membuang rasa takutnya dan mulai menarik napas. Bibirnya dengan bibir sang pemuda mulai menempel. Lalu, Donghae mengalirkan udara ke dalam paru-paru pemuda tersebut. Donghae meniupkan udara dengan gayanya sendiri sambil mengingat-ingat saat latihan dengan boneka manusia.

Ketika sekitar lima kali melakukan napas buatan, dan tetap tidak ada respons dari pemuda itu, Donghae seakan ingin menyerah. Tetapi kemudian dia teringat bahwa semestinya dia juga menekan-nekan jantungnya.

Donghae menggenggam punggung tangan kirinya dengan telapak tangan kanan, lalu meletakkannya di bagian atas dada korban. Untuk melakukan serangkaian hal seperti itu, ada aturannya. Sayangnya, hampir semua ingatan tentang hal itu tak ada yang tersisa. Apa boleh buat, Donghae hanya mengira-ngira saja untuk menekan dada korban. Sambil terus menekan, Donghae baru menyesal sekarang, kenapa dulu dia tidak lebih serius saat pelajaran pertolongan pertama.

Setelah melakukan teknik napas buatan kesekian kalinya, Donghae baru menyadari bahwa dari bagian bawah kepala korban mengucur darah dengan jumlah yang tidak terkira.

“Uwaaaaaaaa….!!”

Donghae bergidik menjauh, dan akhirnya jatuh terduduk pada permukaan jalan yang basah. Luka yang sangat fatal jika ada darah sebanyak itu.

“sudah meninggal…”

Kini Donghae mantap dengan penilaiannya. Tak ada keraguan lagi, pemuda ini udah tak  bernyawa.

“Orang ini… sudah meninggal…”

Dalam keadaan terduduk, Donghae beringsut mundur. Donghae kehilangan harapan untuk menolong. Kemudian, dia mulai menyadari bahawa dia memang berhadapan dengan mayat.

Aku tidak mungkin membawanya ke rumah sakit. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. bagaimana ini? bagaimana? Aku harus menyerahkan kepada orang lain. Tapi, orang lain itu, SIAPA?

Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Donghae. Tiba-tiba tubuhnya menegang. seperti mendapat sebuah pencerahan.

112!

Tentu saja harus segera melapor pada polisi. Itu pilihan yang terbaik. Padahal aku sudah tahu itu. Tapi kenapa aku menyia-nyiakan waktu!

Walau terseok-seok, Donghae akhirnya bangkit. Kemudian mengambil ponsel yang ada di kantong jasnya. Seumur hidup, baru kali ini Donghae menghubungi tiga digit nomor itu. Karena sedang kacau, dia salah menekan tombol hingga dua kali. Yang pertama, setelah dia menekan angka 112, dia menekan tombol ‘batal’. Yang kedua, setelah menekan angka 11, dia melanjutkan dengan tombol ‘3’.

Jangan terburu-buru! Tenang!

Donghae mencoba menenangkan dirinya sendiri, dan akhirnya dia berhasil menekan nomor itu dengan benar. Donghae mendekatkan ponsel itu ke telinganya dan menunggu untuk jawaban di seberang sana.

“Dengan 112 di sini. Kecelakaan? Tindak kejahatan?”

Suara lelaki berumur tiga puluhan menyambut Donghae.

“Kecelakaan! Ah, bukan! Tindak kejahatan! Tabrak lari!”

Operator yang ada di balik telepon segera tahu bahwa Donghae gugup.

“Lokasinya di mana?” tanya sang operator.

“Ee…. Hmmmm… tempatnya…”

Donghae tidak hafal alamat lengkapnya. Dia tahu betul jalan ini, tapi dia tidak tahu dengan pasti apa nama daerahnya. Saat Donghae sedang kesulitan seperti itu, operator menambahkan, “Di dekat lokasi apakah ada persimpangan yang ada lampu lalu lintasnya? Atau ada bangunan yang dapat dijadikan acuan? Misalnya pom bensin atau minimarket? Coba lihat sekeliling dengan tenang.” Kata operator itu lagi.

“Maaf, tidak apa-apa di sini. Di sini gelap sekali, tidak ada apa-apa. Kalau dilihat-lihat lagi mungkin ada, tapi jarak pandangnya agak…”

Sebenarnya Donghae tidak perlu meminta maaf, tapi karena lawan bicaranya adalah seorang poisi, Donghae pun menjadi sedikit takut.

“apa anda tahu nama jalannya? Jalan protokol atau jalan provinsi? Kemudian kalau persimpangan juga boleh, walau agak jauh.” Operator itu berbicara dengan tenang. Berbanding terbalik dengan Donghae yang kacau balau.

“Di sini dekat sungai… jalannya sempit… Oh ya! Jalan protokol nomor 16, persimpangan….” Donghae menjelaskan panjang lebar di mana dia berada sekarang sambil mengingat-ingat plat nama jalan yang sering dia lalui saat melintas pulang.

“Saya tidak tahu betul. Tapi sepertinya iya. Yang terpenting di sini ada orang yang meninggal! Saya sudah berusaha memberikan napas buatan, tapi tidak berhasil.” Saat operator yang menjawab tadi menyebutkan dimana titik lokasi Donghae, Donghae hanya mengiyakan. Mungkin benar.

“iya, iya. Tetap tenang dan mari kita bicarakan, baiklah, sudah berapa lama sejak kejadian tabrak larinya? Apa anda melihat pelakunya?” Donghae termenung sejenak mendengar perkataan tersebut. Kenapa tidak langsung ke sini saja? Kenapa justru bertanya-tanya? Ini ada korban yang meninggal, lho! Aish!, Donghae sedikit kesal mendengar pertanyaan sang operator.

Lalu Donghae menjawab sekenanya. Sekitar beberapa buah pertanyaan dilontarkan dan dijawab dengan tergesa-gesa oleh Donghae, operator tersebut mengatakan akan mengirim mobil patroli dan ambulans.

Pembawaan operator yang tenang dari awal sampai akhir, memberikan dampak kepada Donghae. Donghae yang tadinya kalap, berangsur-angsur menjadi tenang.

“Sebelum mobil patroli datang, jangan pergi kemana-mana. Ponsel juga jangan dimatikan.” Donghae mengulangi perkataan terakhir operator tadi. Untuk berjaga-jaga jika dia akan lupa seketika. Setelah pembicaraan tersebut, Donghae menjauh sedikit, lalu mengitari mayat tersebut. Sambil terus mengamati keadaan, Donghae menuju ke mobilnya.

Oooiiiii…

Terdengar suara lirih dan samar-samar dari belakang punggung Donghae. Suara yang terdengar janggal pada situasi seperti ini.

Tiba-tiba rasa dingin dan kaku menjalari badan Donghae. Dia menoleh ke belakang dengan takut-takut. Mayat yang tadi tergeletak, tetap pada kondisi seperti tadi.

Halusinasi?

Namun, suara itu terdengar jelas sekali tadi. Hanya saja, mana mungkin mayat bisa berbicara?

Donghae gelagapan, dia mencoba memastikan asal-usul suara tadi dengan cara yang konyol dan bodoh.

“A… apa kau mengatakan sesuatu?” tanya Donghae takut-takut pada mayat di belakangnya.

Tentu saja mayat itu tidak menjawab sepatah katapun. Mayat itu hanya tergeletak tak berdaya di atas aspal hitam yang basah.

Ternyata hanya halusinasi. Pasti rasa takut yang bersarang pada kepalanya membuat dia mendengar suara-suara yang sebenarnya tidak ada.

Seolah hendak melepaskan diri dari rasa takut yang menyergap, Donghae kembali ke mobilnya dengan tergesa-gesa.

Donghae akhirnya berhasil duduk di jok dan menutup pintu mobilnya. Suara hujan seolah menjauh.

Hari ini Donghae dihadapkan dengan kasus tabrak lari, memberi napas buatan pada mayat, juga melapor polisi. Sangat tak disangka olehnya.

Dalam percakapannya dengan operator kepolisian tadi Donghae diminta untuk memastikan keamanan lokasi kejadian. Dia harus segera memasang papan tanda berhenti supaya mayat itu tidak kembali ditabrak oleh mobil yang lewat.

Sebelum turun untuk mengambil papan tanda yang ada di bagasi belakangnya, Donghae mematikan radio yang dari tadi menyala. Tapi saat Donghae sudah membuka pintu mobilnya, niatnya diurungan dan kembali lagi menyalakan radio. Bagaimana jika mayat itu menyerangku dari belakang?

Sebagai gantinya, Donghae ingin meletakkan mobilnya di jalur arah berlawanan untuk menunjukkan bahwa jalan itu tidak bisa dilewati.

Setelah memundurkan mobilnya sedemikian rupa, Donghae hanya perlu duduk diam sambil mangawasi mayat korban baik-baik hingga mobil patroli datang. Sambil menunggu dengan was-was,  Donghae mengambil kotak rokok yang ada di jok sampingnya untuk menangkan dirinya. Menjepit satu batang rokok dengan bibirnya. Bibir Donghae yang gemetar, membuat ujung batang rokok ikut bergetar, sehingga sulit untuk membakarnya. Hingga beberapa kali mencoba, kepulan asap dari batang rokok itu mulai mengepul. Setelah menghisap satu batang rokok, rasa takutnya tak kunjung hilang. Tubuhnya masih gemetar. Mungkin membutuhkan satu dus rokok untuk menghilangkan ketakutannya.

Tiba-tiba Donghae terpikir untuk menyalakan lampu dalam mobil. Tapi segera dia urungkan. Ruangan yang terang membuat mayat korban terlihat seperti diselimuti kegelapan sehingga sulit terlihat. Memang sangat menakutkan duduk di  dalam kegelapan, tapi lebih menakutkan lagi jika kehilangan pandangan dari mayat itu.

Bagaimana kalau tanpa disadari mayat itu sudah berjalan menghampiri Donghae?  Khayalan yang tidak masuk akal, tapi berada dalam situasi ‘berduaan’ saja dengan mayat di tengah malam seperti ini secara tidak langsung membuat khayalan-khayalan seperti itu nyata.

Dari dalam mobil yang gelap, Donghae sekali lagi memastikan bahwa mayat korban masih berada pada posisinya.

Donghae memastikan tidak ada satupun yang berubah, dia mencondongkan badannya sedikit tapi masih dalam keadaan duduk.

“Ini jadi masalah besar…” ujar Donghae

“Benar sekali itu.”

Donghae tersentak.

Ada yang menimpali kata-katanya. Suara seorang lelaki.

Donghae segera memeriksa seluruh ruangan mobilnya. Tentu saja tidak ada siapapun. Dia juga menilik ke jendela belakang mobil, mayat korban masih pada tempatnya, tergeletak tak bergerak.

Donghae tidak menemukan sang empunya suara. Namun suara tadi jelas terdengar.

Mata Donghae terpusat ke turner radio. Layar LCD dengan backlight itu menunjukkan frekuensi gelombang radio.

Ah, Cuma radio rupanya.

Padahal suara tadi terdengar jelas dari kursi bagian belakang sebelah kiri, berbeda dengan tempat empat buah sebuah speaker audio mobilnya berada. Dengan sedikit meyakinkan diri, Donghae memutuskan bahwa tadi adalah suara radio. Suara barusan juga mirip dengan suara penyanyi pendatang baru yang tidak terkenal menjadi bintang tamu pada siaran radio saat itu.

Donghae sekali lagi menilik mayat korban. Memang posisinya tidak berubah sama sekali.

“aish, membuat kaget saja!”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Donghae mengatupkan mulutnya sejenak lalu memasang telinga baik-baik. Tidak ada yang menimpali lagi.

Ternyata benar hanya radio.

Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, Donghae merasa suara itu bukan dari radio. Namun, Donghae meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanyalah suara radio.

Akhirnya, dari arah depan terdengar suara sirine mobil patroli. Sedikit melegakan baginya. Moment berdua dengan sang mayat akan segera berakhir, pikirnya.

.

.

.

Bonus Track

notes:

Tidak ada perubahan alur. hanya penggantian nama dan penyesuaian tokoh.

arigatou~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s