First Time


Ini adalah kesekian kalinya aku mengikutinya secara diam-diam. Aku memisahkan diriku karena egois. Ingin sekali rasanya untuk menghampirinnya dan meluapkan segalanya. Tetapi aku sudah pernah melakukannya terhadap orang lain, dan menjadi tidak berarti. Aku tidak ingin hal ini menjadi yang kedua kalinya. Jika aku melakukannya, aku akan terjatuh di ruang yang sama, dan pasti akan tercipta situasi yang sama seperti dulu. Setidaknya itu pikirku.

Ironis sekali, menginginkan dia agar mengetahui apa yang aku inginkan tanpa aku mengucapkannya. Seandainya dia bisa membaca isi hatiku, pastilah itu akan sangat menguntungkanku.

Aku kembali bertemu dengannya setelah satu tahun. Saat ada di sini, aku merasakan kehadirannya. Tapi dia tidak menoleh padaku. Aku hanya bisa menatap punggung itu pergi begitu saja. Kurasa dia sudah berbeda dengan yang dulu. Dia lebih pendiam. Kehidupan di sini seakan membuatnya menutup diri. Memang, sejak dulu dia menyukai tempat yang sunyi. Tapi dulu dia tidak seperti ini. Atau memang aku yang tidak mengenalnya dengan baik?

Sekali, dua kali aku mengikutinya masuk ke tempat ini. Dipenuhi bau khas buku, yang kurasa, aku menyukainya.

Hari ini, lagi, aku kembali ke tempat itu, berharap dia ada di sana. Dan itu terjadi. Aku hanya bisa duduk di belakangnya. Aku menatap punggung lebar itu dengan sendu. Ketika dia beranjak dari tempatnya, entah kenapa hatiku berdegup kencang. Mencoba meliriknya dari ekor mataku, dan aku semakin tidak fokus. Jari-jari ku berkeliaran kesana kemari. Semakin aku mengikuti setiap gerakannya aku semakin gugup.

Bagaimana jika aku ketahuan ada di sini? Tapi ini adalah tempat umum, wajar jika kita bertemu. Tapi bagaimana jika mendekat ke arahku dan tetap tidak menyadari keberadaanku?

Berbagai macam pikiran berlarian di otakku. Mataku tetap mengawasi setiap pergerakkannya. Semakin lama, semakin dekat.

Dia menuju ke sini!

Ingin rasanya berteriak jika aku tidak tahu malu. Apa yang harus aku lakukan, apa yang harus aku katakan, siapa yang akan memandang dulu, siapa yang akan menyapa dulu, apa penampilanku sudah baik, apa ada sesuatu yang salah di wajahku. Sungguh, rasanya ingin berlari kemanapun karena aku merasa berada di tempat yang salah.

Dan sepersekian detik itu telah berakhir. Dia menuju ke sini, aku memutuskan untuk memandangnya, dan dia menyadari keberadaanku. Entah untuk yang keberapa kalinya. Mungkin kedua kalinya?

Dengan hati yang tak bisa aku jelaskan, dia menyapaku, dan dengan senyum kikuk yang mungkin aneh, aku balik menyapanya. Ah, dia tersenyum. Aku mendapatkan senyum itu lagi setelah sekian tahun. Dan aku mendengar suara itu lagi setelah sekian tahun pula.

Kenapa begitu sulit? Pada awalnya aku meninginkan dia untuk menyadariku, tetapi setelah hal itu terjadi, kenapa aku tidak bisa bersikap seperti biasa. Mungkin tidak sampai dua detik aku melihat senyumnya, dan aku sudah bertingkah yang tidak benar. Hal sepele seperti ini saja sudah merasa kalang kabut. Bagaimana jika dia duduk disampingku? Bagaimana jika kami saling mengobrol? Bagaimana jika tiba-tiba aku meluapkan segalanya padanya? Ah, kurasa aku tidak akan berani melakukan semua itu. aku suka menatapnya dari belakang, itu saja sudah cukup untukku. Mungkin jika aku berada dalam radius satu meter darinya, aku harus berlatih untuk mengendalikan detak sialan yang semakin menggebu.

Pertama kali, untuk 2 tahun seesudahnya.

(16/05/12)

Advertisements

One thought on “First Time

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s