Winter Story


Winter Story.

Di tengah bunyi gerimis hujan, saya mencoba untuk menunangkan pikiran saya. Ini hanya sebagian hal yang terdapat dalam angan-angan saya. Ditemani sebuah lagu yang terus-menerus di putar, saya memikirkan suatu hal. Dan tertulislah dalam tulisan yang sangat jauh dari kata bagus.

Ini bukan cerita mengenai musim dingin yang saya alami. Karena jujur, saya sendiri belum pernah mengalami bagaimana musim dingin itu. Karena saya memang berdomisili di negara tropis tidak pernah saya merasa dinginnya salju yang menusuk. Kecuali dinginnya musim hujan, yang saya sekarang sedang merasakannya.

Winter Story.

Ini bermula saat saya memasuki Perguruan Tinggi. Bahkan saya merasa musim dingin menjadi ada di Perguruan Tinggi. Saya merasakannya dinginnya salju musim dingin di kehidupan Perguruan Tinggi. Saat melakukan hal yang menurut saya, saya tidak mampu, saya merasakan musim dingin. Saat saya harus berkutat dengan ratusan huruf dan kata, saya merasakan dingin. Bahkan musim dingin itu terasa, saat saya merasakan sakit hati karena seseorang. Bahkan saat saya memasukkan tangan saya ke almari pendingin pun, saya merasakannya.

Winter Story.

Bukan itu yang menjadi permasalahan pada kesempatan kali ini. Ini adalah musim dingin yang sesungguhnya. Beruntung saya berada di dekat orang-orang hebat.

Mereka adalah orang-orang yang telah singgah di negeri seberang. Bahkan ada pula orang dari negeri seberang tersebut menetap di sini.

Winter Story.

Musim dingin bagi saya adalah musim yang indah setelah musim gugur. Beberapa orang setuju dengan pendapat saya. Tapi ada juga yang tidak setuju. Musim dingin adalah musim yang berat, banyak kecelakaan lalu lintas akibat salju yang menutupi jalan, bla bla bla. Setidaknya itulah pendapat mereka.

Tapi tidak menurut saya.

Pernah, beberapa kakak tingkat saya yang pernah belajar ke Jepang, bercerita, musim dingin itu menyenangkan kok.

Iya, menurut saya pun juga begitu. Bagi saya, yang belum pernah merasakan bagaimana dinginnya musim dingin, suatu keberuntungan bagi saya apabila bisa merasakannya.

Berbagai cerita saya dengar dari beberapa kakak tingkat saya, begitu pun juga dari seorang dosen magang di awal tahun saya masuk.

Dengan Bahasa Jepang yang masih minim, saya bercerita jika saya menyukai musim dingin. Saya ingin merasakan salju itu dengan telapak tangan saya sendiri. Aneh. Mungkin memang aneh. Bahkan beliau tersenyum dengan ekspresi terkejutnya.

Memang benar, bagi beliau yang memang berasal dari negara empat musim, itu adalah hal yang biasa.

Tapi beliau berkata, musim dingin memang benar-benar musim yang berat. Bahkan kita harus memakai pakaian yang super tebal. Tapi musim dingin memang tidak seburuk seperti yang orang-orang katakan. Masih banyak hal yang bisa di lakukan di musim dingin. Salah satunya adalah merasakan salju dengan telapak tanganmu sendiri. ぜひ日本へ来てね。

Winter Story.

Ya, bahkan saya ingin merasakan dengan telapak tangan saya sendiri.

Bahkan seseorang kakak tingkat saya berkata, Hokkaido memang daerah yang dingin. Apalagi di musim dingin. Tapi saya menikmatinya.

Ya,dia memang menikmatinya. Hal itu terlihat saat dia memperlihatkan video berdurasi pendek, tentang apa-apa saja yang dilakukannya di Jepang. bahkan saat melemparkan tubuhnya ke tumpukan salju, senyum pun masih terukir di wajahnya.

Winter Story.

Musim dingin bukanlah musim yang akan membekukan hatimu. Tapi musim dingin itulah yang akan menguatkan hatimu. Bahkan di saat tubuhmu merasakan dingin yang menusuk, hatimu tetaplah berusaha untuk bertahan.

Bahkan tumpukan salju itu terpapar bagaikan lautan putih. Di mana setetes saja kau meneteskan darah, maka akan menimbulkan bercak yang mengotori. Mungkin kau bisa menutupi bercak itu dengan salju di sekitarnya, tapi itu tetaplah membekas.

Winter Story.

Cerita-cerita yang terus tepatri itu, lambat laun menimbulkan tekad yang kuat. Jika tidak bisa hari ini, maka kau masih bisa melakukannya hari esok. Jika hari esok kau gagal melakukannya, maka kau bisa memperbaiki di hari berikutnya lagi. Begitulah seterusnya. Kapan hari itu akan berhenti, kaulah yang menetapkan. Hari mu tidak berbatas pada keterbatasan. Tapi harimu berbatas pada garis yang kau buat.

Winter Story.

Ini bukanlah cerita berkualitas yang kau temui di berbagai artikel terkenal. Ini hanyalah tulisan dari hasil jemari yang menari di atas papannya.

Suatu mimpi akan terwujud, ditentukan oleh seberapa besar kemauanmu, seberapa besar tekadmu. Bukan seberapa sering kau menggembar-gemborkannya. Bahkan kau tidak tahu apa yang akan terjadi dalam jangka waktu satu menit kedepan.


Jika kau pernah melakukan kesalahan, belajarlah dari kesalahan itu.

 kemudian tinggalkanlah kesalahan itu setelah engkau mengambil pelajaran darinya.

Maka lanjutkan jalanmu yang sempat tertunda sebelumnya.

Mee

15/12/10

7:55 pm.

Advertisements

4 thoughts on “Winter Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s