The Peculiarity


The Peculiarity

Tuhan, jika tak ada seorangpun di sampingku, haruskah aku meminta mereka untuk menemaniku? Ataukah aku dapat menahannya sendiri?


Suara itu kembali terdengar. Ketika alunan baru yang serupa menghantui pendengaran ini. Rasa sesak kembali memenuhi ruang hati. Ketika sebersit pikiran menggerogoti perasaan ini kembali.

Aku kehilangan mereka kembali? Apa yang harus aku putuskan? Teman? Atau sendiri?

Bahkan mereka akan melakukan hal yang sama. Ketika aku memanggil, hanyalah punggung mereka yang aku lihat.

Bahkan teman terdekatku melakukan itu. Apa yang terjadi? Aku meninggalkan mereka? Atau mereka meninggalkanku? Bahkan aku tidak bisa membedakan ikatan itu.

Kehilangan tempat bersandar. Hanya dia yang mengucapkan kata itu.

Aku di sini, teman. Jangan khawatir.

Aku berpegang teguh pada sederet kalimat itu. mencoba berdiri dengan kakiku sendiri. Tapi hal itu perlahan-lahan mulai dikikisnya. Seperti air yang melubangi batu secara terus menerus dan perlahan. Lambat laun lubang itu kembali tercipta. Lebih menyakitkan dari pada kau berada di ruang yang pengap.

Aku di sini, teman. Jangan khawatir.

Dan aku kehilangan tempat berpijakku.

Bahkan seorang teman pun tidak bisa kau jaminan mereka akan membantumu. Ketika konflik mendera, mereka hanya melakukan pembelaan.

Benar. Mereka hanya berdiri dengan saling memandang, tanpa saling menjaga.

Seperti tertembus ribuan akar. Menyerap segala tawa yang kau punya. Aku kehilangan tempat berpijak. Teman yang selalu berkata jika semuanya baik-baik saja, perlahan memudar beriringan dengan aku yang memutuskan untuk bersembunyi. Terlalu menakutkan jika itu terjadi kembali.


Teman, tahukah kau jika aku membutuhkan mu?

Bukan hanya kau yang harus melakukan apa yang aku butuhkan.

Tanpa kau meminta, aku akan melakukannya juga untukmu.

Jangan merasa terpaksa jika kau harus ada untukku.

Lebih baik kau meninggalkan ku jika memang seperti itu.

Tetapi ketahuilah, jika aku sangat membutuhkanmu.

Bahkan aku tidak akan menyesal jika harus memintamu dengan memohon.

Dapatkah kau memberi tahuku?

Apa? Bagaimana?

Aku bahkan tidak tahu tentang mu.


Ketika keputusan itu terputuskan. Aku hanya menetapkan hatiku.

Tidak, aku akan sanggup. Mereka yang meninggalkanmu. Mereka memutuskan untuk tersenyum di depanmu.

Dan waktu terus berjaan bersamaku. Meninggalkan mereka yang tersenyum padaku. Mematrikan jika aku sanggup tanpa mereka.


This article is only the disclosure of a thing based on a single viewpoint and are associated with the hobby. there was no intention to offend any person.

Mee

Advertisements

One thought on “The Peculiarity

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s