Share (With Hiroshima University)


Konnichiwa! Genki desuka?

Kembali setelah hari ketiga masuk kuliah setelah libur panjang. Di tengah cuaca Kota Malang yang sedang panas nan gerah, Sastra Jepang FIB, Universitas Brawijaya menerima tamu dari Hiroshima University (HU/広島大学).

HU? Tau HU? Universitas yang bertempat  di Prefektur Hiroshima, Jepang. Agenda pertemuan di lantai 7 gedung FIB ini adalah Culture Sharing. Saya bersama teman-teman dari kelas Pola Pemikiran Masyarakat Jepang berbagi kebudayaan bersama 24 orang mahasiswa HU yang di pecah menjadi kelompok kecil. Rata-rata setiap kelompok berisi 6 orang mahasiswa FIB, dan 2 orang mahasiswa HU.

Awalnya kita engga tau kalau kita bakal ada di acara tersebut. Pertamannya kita hadir ke kelas seperti biasanya. Ah, awal masuk, pasti cuma bentuk kelompok. terus pulang. Setidaknya itu yang ada dipikiran kami xD. Premis pertama kami tepat, tapi premis kedua kami sedikit meleset. Kami tidak langsung pulang, kami di arahkan ke ruang pentas budaya di lantai 7. Mendapat info kalau kami berkesampatan chit-chat­ bersama Nihon-jin/orang Jepang. Entah, ini sudah keberapa kalinya. Tapi tetap excited.

Seorang Native bilang, kalau menggunakan Bahasa Jepang sedikit kesulitan, boleh memakai Bahasa Inggris. Ok, daijoubu.

Dimulailah diskusi kecil di setiap kelompok. Kebetulan, saya mendapat teman baru, Weda Serina-san dan seorang temannya yang saya lupa namanya T.T

Di kelompok saya ada 5 orang teman saya lainnya. Saya bersama dua orang teman saya lebih sering ngobrol bersama Serina-san. Mengapa? Karena posisi kami yang memang dekat. Bukan pilih-pilih kok. ^^

Dengan Bahasa Jepang kami yang masih seadanya, kami memaksa berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Jepang. Berbeda dengan tiga teman saya lainnya. Mereka lebih sering menggunakan Bahasa Inggris (y). Mengapa saya tidak menggunakan Bahas Inggris? Simple, saya enggak lancar Bahasa Inggris. orz eigo de hanasu no ga dekinai. Dan lagi, sudah dituliskan di atas tadi, saya memaksa diri saya untuk berkomunikasi dengan nihon-go, agar saya terbiasa dengan bahasa jepang. Ini tidak ada maksud sok-sokan atau apapun namanya itu di antara kami.

Apa aja sih yang di bahas?)

Sebenarnya banyak yang kami bahas. Tapi berhubung saya dan teman-teman masih Ni-nensei, jadi kami cuma membicarakan hal-hal yang sederhana, tidak jauh dari kebudayaan, kebiasaan, dan lain-lain.

Ada satu hal menarik yang saya tangkap saat kami bercakap-cakap. Di jepang, ternyata seorang wanita dan laki-laki, mereka tidak terbiasa berjalan bersama. Jalan sejajar bareng dua orang gitu loh. Kenapa? Saya tidak tahu. Saya tidak menangkap maksud dari penjelasan Serina-san tentang hal tersebut orz.

Lagi, Serina-san juga memberi lihat kami berbagai foto. Bahhh, keren sekali. Mulai dari Itsukushima Jinja (kuil Itsukushima), kumpulan akuarium yang cantik berikut dengan efek lampunya yang berisi ikan emas (kingyo), sampai hamster piaraannya pun juga di perlihatkan.  Lucu sekaliiiii. Fyi, hamsternya cuma sebesar telapak tangan perempuan.

Namanya juga sharing tentang kebudayaan. Pastinya enggak kelewat sama presentasi mereka tentang budaya jepang yang dipresentasikan oleh empat orang mahasiswa HU. Banyak hal yang di sampaikan, tentunya dengan bahasa jepang say, saya perlu muter otak supaya saya mengerti. Mulai dari keadaan geografis Jepang, uapacara, pendidikan, matsuri, dan kawan-kawannya.

How did you feel?

Bagi kami, mahasiswa Sastra Jepang, ataupun Pendidikan Bahasa Jepang, adalah hal yang kami tunggu-tunggu saat kami harus berhadapan dengan orang-orang baru dengan menggunakan bahasa asing. Tapi hal itu bukanlah untuk dipamerkan. Untuk apa dipamerkan jika nyatanya kita masih belajar? Masih jauh dari kata hebat? Kami hanya saling berbagi untuk menggali lebih banyak tentang apa yang kita geluti. Kami saling mengajarkan. Mereka yang mengajari kami all about Japan, dan kami yang mengajari mereka all about Indonesia.

Terkadang berbeda itu akan menimbulkan rasa tidak percaya diri, tapi sebenarnya berbeda itulah yang membuat kita akan diperhatikan. Belajar bahasa juga bukanlah sebuah gaya untuk mengimin-imingkan­ kebisaan kita, tapi belajar bahasa adalah alat untuk bertukar apa yang kita punya. Setidaknya itulah yang menjadi opini saya.

Oh iya, ini ada satu foto yang sempat kami ambil bersama Serina-san.

Processed with VSCOcam
dari kiri: saya, tia, dian, serina-san. Processed with VSCOcam

Last but not least, I’d like to thank you. See you next time. Sorry for typo(s) and my bad dictions.

Salam dari keluarga Sastra Jepang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s