The Story (Magentha)


Magentha (The Immortality)


Tidak akan ada cerita yang yang berhenti di tengah perjalanan. Seperti halnya ada awal yang disebut pertemuan, maka akan ada akhir yang disebut perpisahan. Seperti lingkaran yang terbagi menjadi dua bagian, titik awal yang selalu berdampingan dengan akhir. Yang terlintas di dalamnya saling tercermin satu sama lain.

Dan ini adalah waktu di mana aku berada di antara awal dan akhir. Di mana teman yang aku tinggalkan di sudut hatiku, kini satu persatu kembali mengisi tempat baru ini.

Tidak, mereka bukanlah orang yang sama. Tetapi perasaan ini adalah sama. Di mana kau di kelilingi orang-orang terbaik yang kau sebut teman.

Berawal dari sudut ruang pengap lainnya, aku menempatkan diriku di sudut ruangan itu. menemukan orang yang dingin, yang bahkan tidak bergeming saat aku memukulnya. Dia hanyalah orang yang merasa dirinya tidak mendapatkan keadilan karena dipisahkan dari klan-nya. Dia adalah orang baru bersama satu orang lainya yang terpisah dari klan masing-masing.

Aku tidak peduli pribadi seperti apa orang yang ada di sampingku ini. Kurasa ruang pengap ini lebih baik dari pada ruang pengap tahun pertamaku.

Intimidasi, keegoisan, rasa bosan, tidaklah akan hilang begitu saja. Kemanapun kaki ini melangkah, merekalah yang akan saling menyertai.

Apa yang ingin kau ketahui?

Rasa saling mengintimidasi? Kau dapat menemuinya di ruang ini.

Keegoisan demi diri masing-masing? Kau pun juga dapat menemuinya di ruang ini.

Rasa bosan karena kau sendiri? Itu bukanlah hal yang sulit untuk kau temui.

Tapi itu bukanlah masalah. Aku dapat menangani itu. menemukan teman yang tersudut di ruang hatiku, adalah hal yang perlu aku lakukan.

Ketika teman dan sahabat adalah dua hal yang berbeda, yang perlu kau lakukan hanyalah tersenyum pada mereka. Entah kau menyebutnya teman ataupun sahabat, mereka tetaplah berasal dari satu kata, teman.

Menemukan mereka tidaklah sulit, mereka adalah yang senantiasa menerima kehadiranmu dengan tangan terbuka.

Dan di sinilah aku menemukan mereka, dalam tahun keduaku. Berasal dari spesifikasi ilmu yang berbeda-beda, berasal dari ruang lain, berasal dari gagasan yang berbeda-beda.

Hal tersulit adalah saat kau mencoba mempertahankannya.

Seperti dia yang menyukai warna hijau, berada di satu tingkat di atasku, berarti aku akan segera kehilangannya. Bahkan aku berharap jika kami berada pada tingkat yang sama. Tapi kenyataannya tidak seperti itu..

Semakin tinggi sebuah pohon, maka akan semakin kuat pula angin yang menerpanya. Jika kau ingin tetap berada pada ketinggian itu, perkuatlah pondasi berdirimu.

Seperti itulah. Setiap manusia memiliki kehidupan masing-masing. Saat aku tersadar jika aku tidak seharusnya bergantung pada dia, penyuka warna hijau. Haruskah aku mengabaikannya?

Mengabaikan bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan. Itu hanya akan membuatmu kabur dari masalah yang kau hadapi. Setidaknya itulah yang aku dapat mengerti darinya, Si Penyuka warna hijau, Severus.

Biarkanlah hatimu tetap mengalir seperti air. Mengikuti kemana arus akan membawamu. Karena itu adalah jalan yang paling tepat di banding melawan arus.

Berlalu bersama arus setiap harinya. Tuan penyuka warna hijau mengajariku untuk terbiasa tanpa dirinya. Kuanggap seperti itu.

Hari dimana aku menyadari ketika aku harus melawan arus, ketika sebuah akhir akan datang. Akhir di mana aku akan benar-benar sendiri, kurasa. Tanpa adanya dia yang mengajariku.

Dan itu terjadi.

Dia akan pergi. Melanjutkan langkah kakinya. Dan aku harus terpaku pada langkah berikutku.

Meninggalkan cerminan pertemanan yang berbeda. Karena dia lebih dewasa, karena dia lebih berpengalaman, karena dia adalah dirinya, dia yang pada hari terakhir mengajariku tentang cinta tidak hanya kau rasakan pada orang yang kau sebut kekasih. Ayah, ibu, saudara, teman, guru, merekalah yang mengajarimu tentang kasih dan cinta, bukan hanya orang yang kau sebut kekasih.

Dan aku tidaklah sendiri. Dia yang melangkahkan kakinya, meninggalkan ku dengan orang-orang terdekatku di tempat ini, teman.

Tersenyumlah pada semua orang.

Jangan melibatkan dirimu pada rasa pengecut.

Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Ungkapkan apa yang ingin kau ungkapkan. Temukan apa yang ingin kau temukan. Percayalah pada hatimu, karena itu adalah teman terbaik dalam dirimu.

Dan di sinilah aku, berdiri bersama orang yang tidak bersembunyi di balik topengnya, serta orang yang tak ingin ketahui bagaimana diri mereka sebenarnya. Aku hanya ingin menyebut mereka teman. Entah bagaimana sikap mereka terhadapku, karena tidak mungkin tidak ada awan gelap dalam pertemanan.

Berdiri menuju ruang akhir yang menjadi tujuan kami. Satu langkah terakhir menuju dunia yang terlepas dari putih abu-abu. Tetap menempatkan teman pada sisiku, dan menyimpan Si penyuka warna hijau pada sudut hatiku. Berharap dia akan keluar, dan menemuiku kembali, setelah akhir dari tahun keduaku.


***

p.s: ini semacam bagian 2 dari The Story.

p.s.s: sorry for typo(s)

p.s.s.s: maaf jika ada kesamaan tokoh, alur, latar, dsb.

psssssssss: rencana mau nulis yang di ffn malah mood nulis ini. maafkan notifikasi yang masuk~


Advertisements

6 thoughts on “The Story (Magentha)

  1. curhat lagi(?)..
    benar sekali. mempertahankan lebih sulit. apalagi mempunyai rasa dengan irama yang sama. kadang aku merasa tempo aku dan ‘dia’ perlahan menunjukan perbedaan.. :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s