The Story (formless)


Formless.

Semua terjadi begitu saja. Bel kebebasan seperti berdengung di lorong telingaku. Hiruk pikuk ini ingin segera aku tinggalkan. Intimidasi, kepalsuan, tekanan, rasa bosan.

Saat aku keluar dari jerat rasa kepahitan ini, aku mulai berjalan menuju dunia luar. Di mana aku akan benar-benar di uji.

Semua yang terjadi dulu hanyalah kerikil kecil yang menyakiti kakiku, di mana aku harus melewatinya. Bahkan hanya kumpulan kerikil tak berarti, tapi aku merasa putus asa. Bahkan aku tidak tahu batu apa yang akan menghalangi jalan ku setelah aku keluar dari dunia ini.


***

Ini adalah awal. Di mana aku memutuskan untuk pergi sendiri ke tampat ini. melepas teman-teman terbaikku untuk mimpi masing-masing.

Saat aku memiliki tawa seorang teman, senyum seorang teman, tangis seorang teman, aku meninggalkan mereka di sudut hatiku yang kosong. Menggali tempat baru untuk aku tempati dengan orang-orang baru.

Saat ku kira ini akan mudah dan berjalan lancar, di situlah aku bisa merasa bagaimana menjadi sendiri. Bagaimana kau menjadi rendah. Bagaimana kau tidak di perhatikan. Berbanding terbalik dengan waktu sebelum aku datang ke tempat ini.

Inilah pertama kalinya aku mendapat tatapan ‘siapa dirimu? Mengapa kau tersenyum pada kami?’.

Aku merasa hatiku mulai tergores sebuah kerikil kecil. Aku tetaplah diriku. Sebuah kerikil dapat menggoyahkanku.

Di saat aku belum genap berusia 15 tahun, aku terjun ke dalam dunia asing yang di sebut dunia putih abu-abu. Dunia yang dieluh-eluhkan orang-orang di sekitarku.

Mereka bercerita, jika kau dapat merasakan manisnya persahabatan, indahnya cinta, penemuan jati diri, dan sebagainya. Apa aku akan merasakannya? Kurasa itulah yang terlintas dalam memoriku.

Persahabatan? Bahkan aku merasakan manis-pahitnya sebelum aku memasuki dunia ini. Cinta? Aku masihlah sangat muda untuk merasakannya. Setidaknya itulah sanggahanku.

Manisnya persahabatan yang aku rasakan dulu, berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan pada tahun pertama di tempat ini. Di mana aku hanyalah seorang gadis yang duduk di suatu sudut ruang pengap yang penghuninya saling berebut pasokan udara. Semua hanya memikirkan diri sendiri. Tidak memperdulikan bagaimana jika seseorang di samping mereka akan mati jika tidak mendapat udara itu.

Mereka saling tertawa, tetapi itu hanyalah topeng mereka. Topeng yang menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya. Mereka saling membantu, tapi itu hanyalah untuk menguntung diri mereka. Mereka meninggalkan setelah mereka mendapat apa yang mereka mau.

Tidak semuanya seperti itu.

Benar, ada diantara mereka yang melepaskan topeng mereka dan saling tertawa, saling membantu.

Dalam ruang pengap itulah, mereka yang melepas topeng mereka yang membagi udara untukku. Menyisakan ruang kosong untukku beristirahat. Memberi ruang kosong untukku bersandar. Memberi ruang kosong untukku yang kehilangan teman, sahabat, serta orang tua pengganti yang ku panggil Guru.

Masalah remaja. Cinta?

Apa artinya cinta? Apakah aku orang yang mudah untuk jatuh cinta? Haruskah aku menanyakan, apa aku pernah merasakannya?

Aku tidak bisa mendefinisikannya. Bahkan satu kata memiliki arti yang rumit. Ketika kau menanyakannya pada orang dewasa, mereka hanya akan menjawab, anak kecil tidak usah main cinta-cintaan.

Tertohok. Ini adalah dunia yang di dalamnya kau akan melepaskan status anak kecil. Dunia yang di dalamnya kau akan berubah menjadi remaja. Bukankah remaja dan anak kecil adalah dua hal yang saling berbeda?

Ya, remaja. Kau telah menjadi seorang remaja. Aku adalah seorang remaja. Yang bisa juga merasakan masalah tentang percintaan. Seorang anak kecil yang baru saja berubah manjadi remaja ini, tengah mengalami masalah tentang cintanya, di mana dia hanya bisa diam.

Sebuah pengalaman berawal dari kata pertama, dan ini adalah pertama kalinya aku merasakan sakit saat aku mengenali cinta. Terlalu picisan, karena aku tidak tahu harus berbuat apa.

Melihatnya dari kejauhan, mencari seribu alasan agar aku bertemu dengannya dengan tidak sengaja. Semua aku lakukan. Dan aku tidak lebih dari seorang anak kecil yang berubah menjadi seorang remaja. Berbeda dengan mereka, sebayaku, yang lebih dulu memasuki masa remaja sebelum aku.

Aku hanya berpikir, aku bodoh? Aku hanya berpikir dia tampan, dan aku menyukainya? Dan lebih bodoh saat aku menerka jika aku merasakan cinta?.

Cinta adalah suatu perasaan yang rumit. Sering kali kau akan salah saat mengartikan kata suka dengan cinta.Dan dia hanya membuatku kagum sebagai orang yang indah, dan aku menyukai dirinya, bukan pribadinya.

Dia adalah laki-laki yang seperti laki-laki remaja pada umumnya. Dia suka tebar pesona, itu sebabnya dia bersinar, seperti sebuah Sirius. Dan aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan itu. berkat dia, aku mempelajari bagaimana hatimu akan berdetak kencang karena orang yang kau sukai, bagaimana kau begitu senang saat kau berbicara dengannya, bagaimana matamu tidak akan terlepas dari tingkah lakunya, bagaiamana kau akan menangis karenanya, bagaimana, bagaimana, dan terus bagaimana pikiranmu tidak bisa jauh darinya.

Ketika kau menyukai seseorang, akan ada batas tipis yang memisahkan perasaan suka dan cintamu. Selangkah saja kau terjatuh dalam perasaan cinta, kau akan sulit untuk lepas darinya.

Saat rasa suka itu hilang karena tingkahnya, aku berusaha melupakannya. Dan itu memang terjadi.

Apakah aku mudah jatuh cinta? Oh! Jangan dengan mudah kau mengatakan jika kau mencintai seseorang. Sepertinya aku harus mengatakannya seperti ini, apakah aku mudah menyukai orang lain? Dan kurasa jawabannya adalah iya.

Jika aku menyukai orang pertama sebagai lawan jenis, maka aku menyukai orang kedua ini sebagai teman.

Teman yang dulu aku tinggalkan di sudut hatiku, kini kembali dalam duniaku.

Aku menyukai kepribadiannya. Dia seperti seorang penolong yang mengeluarkan aku dari ruang pengap yang menahanku. Dia bukanlah Sirius. Dia adalah orang yang lain. Orang yang berbeda. Jika orang pertama adalah seseorang yang suka tebar pesona, maka dia adalah orang yang pendiam. Memiliki pembawaan yang lembut.

Aku mengenalnya dari seorang kenalan. Dia adalah orang yang popular, tapi menurutku tidak. Menurutku, dia siswa yang biasa saja di kalangan siswa lainnya, dia tidak begitu suka mengikuti organisasi, dia pendiam, tapi dia ramah. Secara pasti, dia menyukai iptek, bahasa, dan sastra. Dia menyukai warna hijau. Dia haus akan informasi. Dan aku memanggilnya Severus. Dia bukanlah Severus yang jahat. Aku hanya menyukai karakter itu. tidak masalahkah jika aku memanggilnya Severus? Atau aku harus memanggilnya Mr. Wiki?

Kita adalah teman yang lumayan saling mengenal satu sama lain. Kita bertukar banyak hal. Informasi, kesan, pengalaman, cerita, ide. Saling menyapa, tersenyum, menasehati, mengingatkan.

Dia adalah Severus, yang membantuku menyelesaikan masalah dengan teman. Dia adalah Severus, yang mengingatkan ku untuk memaafkan seorang teman. Dia adalah Severus, yang menceritakan kehidupannya. Dia adalah Severus, seorang teman yang berbagi berbagai macam cerita.

Dan dia adalah Severus, yang mengajarkanku bagaimana tersenyum kepada semua orang.

Terlalu naif jika aku mengatakan tidak nyaman dengannya. Bahkan aku sangat nyaman menceritakan diriku kepadanya. Hal yang tidak diketahui orang lain. Dan aku merasakan perasaan itu lagi.

Bagaimana saat hatimu akan berdebum keras.

Bagaimana canggungnya dirimu saat berpapasan dengannya.

Bagaimana malunya dirimu saat kau terlihat salah tingkah di hadapannya.

Apa yang aku rasakan?


***

Dan merekalah, teman yang melepas topeng mereka, Sirius, dan Severus, yang menguatkanku pada ruang pengap tahun pertama  putih abu-abu itu.

Dengan hal yang tak kuketahui apa namanya, merekalah yang membantuku secara tidak langsung membantu melewati tahun pertama, sebuah  awal, dan akan terus berlanjut.


p.s: sorry for typo(s)

p.s.s: ini bukan fanfic

psssssss: mohon maaf jika ada kesamaan latar, tokoh, dan lain sebagainya.

psssssssssssssss: ini apa ya? /plak

Advertisements

2 thoughts on “The Story (formless)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s