Coagulation


Tittle: Coagulation

Genre: -think by yourself dear-

Leght: OS

Cast: find by your self 🙂

Rating: ?

Author: @Mee_kry (Yuchan)

 

WARNING: fanfic gak jelas. plot yang dipaksakan. TYPO(S). garing.

-story-

Salju pertama muncul di hari ini. Ahh, inilah hal yang aku tunggu setiap tahun. Dia akan turun secara perlahan, tenang, dan semua akan berwarna putih. Menenangkan aku di saat ini.

Tempat ini, ruangan ini, semua putih, seputih salju di luar sana yang terbingkai  jendela dengan indahnya. Semua orang berlalu lalang di luar sana. Menikmati ketenangan sang salju. Lihatlah sekumpulan anak kecil itu di sana, dengan senyum yang menghiasi wajah manis mereka, mereka berada di antara salju itu. Berbaju tebal, pasti mereka merasa hangat. Dari balik kaca ini, aku bersandar mengawasi setiap gerik mereka. Mereka tanpa masalah, putihnya salju itu menggambarkan diri  mereka. Dingin, tetapi mereka hangat. Tidak seperti diriku, yang entah telah mendingin sejak waktu itu. Kosong, terluka, dan begitu menyesakkan.

.

.

“Oppa,-” aku berucap riang ketika memasuki sebuah ruangan.

‘DEG’

Oh Tuhan, apakah aku salah memasuki ruangan? Bukankah ini adalah rungannya?

‘Lelaki itu? Dia… Wanita itu? Siapa?’

Fikiranku begitu buruk, satu persatu fikiran negative bermunculan di benakku. Tidak! Hilangkan fikiran itu Song Hyorim! Tidak mungkin. Tapi mereka…? Apa yang mereka lakukan? Kenapa tidak menyadari keberadaanku?

‘Kau bodoh Hyorim! Tantu saja mereka tidak menyadari keberadaanmu! Mereka sibuk dengan bibir lawan main mereka!’

Ah, iya. Mereka sedang sibuk, sedangkan aku hanya diam di tempatku.

Semuanya seakan membeku. Bukankah musim dingin masih beberapa minggu lagi?  Tapi kenapa semua terasa dingin?

“Op-pa..”

Oh Tuhan, kenapa suara ku bergetar? Tidak, kuatkah aku?

Sakit menjalar ketika aku tetap memandang aktivitas mereka. Siapa aku? Siapa lelaki itu? Bukankah dia kekasihku?

 

‘TSRAK’ kantung plastic yang sedari tadi aku pegang, kini isinya telah berserakkan. semua bagian tubuhku lemas.

mereka berhenti dari aktivitas mereka.

Lelaki yang berdiri membelakangiku, kini menghadap ke arahku. Wajahnya panik. Bagaimana ‘keadaan’ wanita tadi?

Tuhan, jangan biarkan aku melihat bagaimana kondisi wanita itu.

Berantakkan.

Hatiku sangat sesak. Mereka dalam keadaan yang tidak ‘baik’.  Lelaki itu mendekati ku gusar. Wanita tadi tetap kukuh pada tempatnya –bersandar di sebuah meja kerja dengan santainya-.

“Hyorim-ah” Yesung –lelaki itu-, memegang kedua bahu ku. Memandang dengan mata sendu.

Aku tidak melihatnya, aku memandang ke bawah tak tentu arah. Aku tak sanggup. Bahuku bergetar. Isakkan-isakkan kecil mulai  keluar dari  mulutku. Aku rapuh. Sangat rapuh. Aku butuh sandaran. Tapi mungkinkah lelaki di samping ku ini?

“Mianhae… aku…” dia mengangkat wajahku, tidak melanjutkan kata-katanya. Mata itu membuatku sakit ketika aku menatapnya.

“Kenapa tidak kau katakan yang sebenarnya?” aku mendengar suara lain. Suara wanita itu. Dia ada di belakang Yesung. Menatapku datar. Dia memegang bahu kiri Yesung. Aku menatap wanita itu sendu, beralih menatap lelaki di hadapanku meminta penjelasan.

Lelaki yang begitu aku cintai hanya menatapku dan menatap wanita itu bergantian.

“hhh,” yesung-ku menghela nafasnya sebentar. masihkah di menjadi Yesung-ku?

“Kami memiliki hubungan. Kami di jodohkan. Appa… Appa yang memintanya sebelum Appa pergi.” Lelaki ini berkata pelan, seolah tidak mau menyakitiku. Tapi, sangat sakit untuk sekarang. Tidak bisa kutahan lebih lama lagi. Air mata ini sudah melukiskan bagaimana sakitnya hatiku. Aku menatapnya nanar.

“Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku sangat menyanyangi Appa, Hyorim-ah. Aku… Aku… tidak sanggup menolakknya. Sebaiknya kita,-”

“Cukup.. aku tahu. Jangan kau lanjutkan lagi kata-katamu itu. Aku terlalu sakit, aku tak sanggup.” Aku memotong perkataannya. Aku tahu apa yang akan diucapkannya. Tak usah diperjelas lagi.

Isakkan ku semakin keras. Aku tak bisa menahannya. Tubuhkku terlalu jujur. Semakin keras aku menggigit bibir ini. Aku harus pergi. Ya, aku harus pergi sekarang. Aku tak peduli akan teriakkan Yesung Oppa. Kupercepat langkah ini untuk sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Dengan segala sakit yang kurasa.

.

.

.

Hari ini, salju pertama turun. Perkataan tempo hari, telah membekukan hatiku. Bertahan? Tidak mungkin, bahkan aku yang mengakhirinya secara tidak langsung. Bagaimana bias aku melakukannya?

Aku menatap kosong jendela dihapanku ini. Embun terbentuk karena dinginnya hari ini. Dan mata ku, tana disadari membentuk aliran air mata. Sebuah sungai kecil telah mangalir di dua objek yang sama ini.

Dari mana asalnya? Kenapa mereka terbentuk lagi dan lagi? Aku tak tahu

Yang ku tahu hanyalah diriku yang sangat terluka.

Hati terbakarku berangsur-angsur mendingin, dan seterusnya tak dapat merasakan apapun.

Aku takut, jika aku menutup mata, mereka akan tetap mengalir walau aku menatap langit.

Ai mata yang semakin deras, setitiknya akhirnya kan berakhir.

Bagaimana jika kau tak bias melihatmu lagi? Lalu bagaimana aku?

Jika esok bertemu, apa yang harus aku lalkukan?

Aku ingin tersenyum dan berpisah baik-baik, tapi saat melihatmu

Air mata mengalir

-end-

A.N. :

ini ff di buat dalam waktu sesingkat-singkatnya dan di ketik pada waktu sesingkat-singkatnya pula. SORRY FOR TYPO(S)!! ^^

NO COPAS! NO BASH, NO FLAME. Thank you, love :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s